Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Agus Setia Wardana Dukung B50 Hilirisasi Sawit Perkuat Energi Nasional dan Tingkatkan Kesejahteraan Petani
PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Peluncuran program B50 oleh Ketika DPRD Kabupaten Pasuruan Agus Setia Wardana dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sawit Indonesia. Kebijakan ini juga diyakini mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), memperbaiki neraca perdagangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani sawit.
Program B50 merupakan implementasi bahan bakar nabati dengan campuran 50 persen biodiesel berbasis crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah. Kebijakan tersebut menjadi bagian penting dari agenda hilirisasi industri sawit nasional yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Setia Wardana, menyambut positif kebijakan tersebut. Menurutnya, pemanfaatan sawit sebagai sumber energi nasional merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi penopang ekonomi masyarakat.
“Program B50 ini merupakan langkah yang sangat baik untuk memperkuat kemandirian energi bangsa sekaligus meningkatkan nilai tambah produk sawit dalam negeri. Kita tidak hanya berbicara soal energi, tetapi juga tentang kesejahteraan petani dan penguatan ekonomi nasional,” ujar Wardana, Kamis (2/7/2026).
Ia menilai, meningkatnya kebutuhan CPO untuk biodiesel akan berdampak langsung terhadap kenaikan permintaan hasil perkebunan sawit, sehingga harga jual produk petani menjadi lebih baik dan stabil.
“Ketika daya serap CPO nasional meningkat, otomatis nilai ekonomi sawit juga akan naik. Ini tentu memberikan manfaat besar bagi petani karena pendapatan mereka berpotensi meningkat. Hilirisasi seperti inilah yang harus terus diperkuat agar masyarakat memperoleh nilai tambah dari hasil produksinya,” katanya.
Wardana juga menegaskan bahwa pengurangan impor BBM melalui pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik akan memberikan dampak positif terhadap neraca perdagangan Indonesia.
“Ketergantungan terhadap impor energi harus terus dikurangi. Dengan B50, kita memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk memenuhi kebutuhan nasional. Dampaknya bukan hanya bagi ketahanan energi, tetapi juga memperkuat ekonomi bangsa dan menjaga keseimbangan neraca perdagangan,” ungkapnya.
Selain itu, ia menilai program tersebut selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang mandiri dalam sektor energi berbasis sumber daya terbarukan.
“Transisi menuju energi berkelanjutan harus terus didukung. Indonesia memiliki potensi sawit yang luar biasa, sehingga pemanfaatannya untuk energi nasional menjadi langkah strategis yang perlu dikawal bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, khususnya para petani,” tambahnya. Ans



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?