Foto: Dokumentasi bersama
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Menyelesaikan disertasi sering menjadi tantangan terbesar mahasiswa doktor. Tidak sedikit mahasiswa yang telah lulus ujian proposal bahkan seminar hasil, namun penyusunan disertasinya terhenti selama berbulan-bulan hingga mendekati batas akhir masa studi. Berangkat dari kondisi tersebut, Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar Coaching Clinic Penyelarasan, Penajaman, dan Penyelesaian Disertasi, Jumat (10/7/2026), di Gedung Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ruang Meeting Pascasarjana.
Kegiatan yang diikuti mahasiswa doktor yang sedang menyelesaikan disertasi ini merupakan bagian dari strategi peningkatan layanan akademik berbasis kebutuhan mahasiswa (student-centered academic services) sekaligus upaya meningkatkan angka kelulusan tepat waktu tanpa mengurangi mutu akademik.
Ketua Program Studi Doktor MPI, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., didampingi Sekretaris Program Studi Dr. Indah Aminatuz Zuriyah, M.Pd., menjelaskan bahwa Coaching Clinic menjadi media pendampingan intensif bagi mahasiswa untuk menyelaraskan proposal, teori, metode, hasil penelitian, pembahasan, hingga finalisasi disertasi.
Menurut Prof. Sutiah, disertasi merupakan puncak karya ilmiah sekaligus syarat memperoleh gelar doktor. Namun tantangan terbesar mahasiswa doktor justru bukan saat Menyusun proposal, mencari teori ataupun mengumpulkan data, melainkan menjaga konsistensi dalam menyelesaikan penulisan disertasi.
"Ada Ungkapan 'the best dissertation is a finished dissertation' sering digunakan untuk memotivasi mahasiswa doktor agar menyelesaikan studinya tepat waktu. Namun Disertasi yang terbaik bukan sekadar disertasi yang selesai, melainkan disertasi yang selesai tepat waktu, tetap menjaga mutu akademik, memiliki kebaruan (novelty), memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sebagai karya puncak seorang doktor," tegas Prof. Sutiah.
Beliau menegaskan bahwa Program Doktor MPI mengembangkan budaya pelayanan akademik dengan prinsip "kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit", tanpa mengurangi standar akademik yang berlaku. Pendampingan diberikan agar setiap mahasiswa mampu mengatasi hambatan metodologis maupun teknis selama penyusunan disertasi.
Lebih lanjut, Prof. Sutiah menegaskan bahwa penelitian doktoral tidak boleh berhenti pada pemenuhan persyaratan akademik semata. Disertasi harus menjadi karya ilmiah yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan strategis dalam pengelolaan pendidikan Islam.
"Disertasi harus mampu menjawab persoalan pendidikan Islam secara ilmiah. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya mendeskripsikan fenomena, tetapi juga melahirkan model, konsep, inovasi, maupun pengembangan teori yang dapat menjadi rujukan bagi pengembangan ilmu, kebijakan, dan praktik Manajemen Pendidikan Islam," tegasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa setiap topik penelitian mahasiswa doktor harus berada dalam Body of Knowledge (BoK) Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Oleh karena itu, fokus penelitian tidak cukup hanya membahas aspek pedagogik atau pembelajaran semata, tetapi harus menempatkan fenomena tersebut dalam perspektif manajemen pendidikan, seperti kepemimpinan, tata kelola, manajemen kurikulum, manajemen sumber daya manusia, manajemen mutu, manajemen sarana prasarana, pembiayaan, inovasi, maupun transformasi kelembagaan pendidikan Islam.
Menurut Prof. Sutiah, pemahaman terhadap Body of Knowledge MPI sangat penting agar penelitian doktoral memiliki identitas keilmuan yang jelas, memperkaya disiplin ilmu Manajemen Pendidikan Islam, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori, kebijakan, dan praktik pengelolaan lembaga pendidikan Islam di tingkat nasional maupun internasional.
"Mahasiswa doktor harus mampu membedakan antara objek yang diteliti dengan perspektif keilmuan yang digunakan. Misalnya, ketika meneliti pembelajaran di madrasah, fokusnya bukan pada strategi mengajarnya, melainkan pada bagaimana pembelajaran tersebut dikelola melalui kepemimpinan, kebijakan, budaya organisasi, manajemen kurikulum, atau sistem penjaminan mutu. Di situlah posisi penelitian berada dalam Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam," jelas Prof. Sutiah.
Research Alignment Menjadi Kunci Kualitas Disertasi
Pada sesi utama, Prof. Dr. H. Munirul Abidin, M.Pd., Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam sekaligus dosen Metodologi Penelitian Program Doktor MPI, mengangkat tema Research Alignment.
Menurutnya, salah satu penyebab penelitian doktoral kurang menghasilkan kontribusi ilmiah adalah tidak adanya keselarasan antara rumusan masalah, tujuan penelitian, teori, metode, instrumen, pengumpulan data, analisis data, hingga temuan penelitian.
"Rumusan masalah harus melahirkan tujuan penelitian. Tujuan menentukan data yang dikumpulkan. Data kemudian dianalisis dengan metode yang tepat hingga menghasilkan konsep, model, atau pengembangan teori sebagai kontribusi ilmiah disertasi," jelas Prof. Munirul.
Beliau menjelaskan bahwa teori bukan sekadar isi Bab II, tetapi berfungsi sebagai anchor theory atau pisau analisis untuk membaca fenomena di lapangan.
Temuan Tidak Lahir dari Wawancara, tetapi dari Analisis Data
Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta adalah penjelasan mengenai bagaimana sebuah temuan penelitian lahir.
Prof. Munirul menjelaskan bahwa banyak mahasiswa menganggap temuan diperoleh langsung dari hasil wawancara. Padahal, menurut pendekatan Miles, Huberman, dan SaldaΓ±a (2020), temuan ilmiah lahir melalui proses pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi.
Sebagai contoh, beliau menjelaskan penelitian tentang kepemimpinan kepala madrasah yang menggunakan Transformational Leadership sebagai teori utama. Hasil wawancara kemudian melalui proses coding, kategorisasi, pembentukan tema, hingga dibandingkan dengan teori.
Ketika ditemukan bahwa aspek pelayanan, spiritualitas, dan musyawarah belum sepenuhnya dijelaskan oleh teori Transformational Leadership, peneliti melakukan sintesis dengan teori Servant Leadership, Spiritual Leadership, dan Ethical Leadership sehingga lahirlah model konseptual baru yang lebih sesuai dengan karakteristik lembaga pendidikan Islam.
"Data menghasilkan fakta, analisis menemukan pola, teori menjelaskan pola, sedangkan sintesis antara data dan teori melahirkan konsep, model, atau pengembangan teori. Di situlah novelty penelitian doktoral dibangun," terang Prof. Munirul.
Tiga Orientasi Penelitian Doktoral
Dalam paparannya, Prof. Munirul juga menjelaskan bahwa penelitian doktoral dapat diarahkan pada tiga orientasi utama.
Pertama, menggunakan teori sebagai pisau analisis (theory application) untuk memahami fenomena empiris.
Kedua, mengembangkan teori (theory development) melalui sintesis teori dengan hasil penelitian sehingga menghasilkan model konseptual baru.
Ketiga, menguji, memperkuat, atau menyempurnakan teori (theory verification dan theory refinement) agar tetap relevan dengan perkembangan masyarakat dan pendidikan Islam.
Menurutnya, pada era perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, pengembangan teori menjadi kontribusi yang paling banyak dihasilkan dalam penelitian doktoral karena sebagian besar fenomena telah memiliki landasan teori yang kuat.
Melahirkan Doktor Solutif
Melalui Coaching Clinic ini, Program Doktor MPI Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap mahasiswa tidak hanya lulus tepat waktu, tetapi juga menghasilkan disertasi yang memiliki novelty, memperkaya Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam, serta mampu dipublikasikan pada jurnal bereputasi nasional maupun internasional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?