MOJOKERTO – Padepokan Sambung Roso Mojopahit (SRM) menggelar agenda tahunan Wilujengan Ambal Warsa (hari jadi) ke-9 sekaligus penutupan bulan Suro 1960 Jawa pada hari kamis pahing malam jum'at Pon (09/07/2026). Acara yang berlangsung khidmat ini berpusat di Sekretariat SRM, Dusun Nglinguk, Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pemangku adat, pemangku agama, serta perwakilan paguyuban dari dalam dan luar Kota Mojokerto untuk melaksanakan doa bersama secara lintas agama.
Wadah Kebinekaan Berbasis Budaya
Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Sambung Roso Mojopahit, Ki Suryo Alam, menegaskan bahwa momen pertambahan usia ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan esensi berdirinya SRM. Menurutnya, SRM bukan sekadar organisasi, paguyuban, atau wadah pegiat budaya biasa.
"Sambung Roso Mojopahit merupakan bendera baru dari jelmaan sebuah ajaran Jawa lama, yaitu Ajaran Kasampurnan Budi Luhur, yang saat ini sudah diakui oleh negara sebagai Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa," ujar Ki Suryo Alam.
Ia menambahkan, SRM didirikan sebagai wadah baru yang bertujuan untuk menyatukan kebinekaan bangsa melalui jalur budaya dan kearifan lokal.
Perjalanan Spiritual Sang Pendiri
Sisi nasionalis dan toleransi yang kuat di tubuh SRM tidak lepas dari latar belakang Ki Suryo Alam. Lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga muslim serta sempat mengenyam pendidikan di Madrasah, Ki Suryo memiliki ketertarikan kuat pada spiritualitas sejak muda.
Ia gemar menimba ilmu kepada para tetua dan guru Kejawen. Salah satu guru utamanya adalah Romo Cokro Wibowo (Ki Ageng Damar Asih), generasi ke-7 dari Guru Besar Kasampurnan Budi Luhur yang padepokannya terletak di lereng Gunung Arjuna, Desa Tambak Watu.
Di bawah bimbingan Ki Suryo Alam, seluruh kegiatan SRM dikombinasikan secara nasionalis. Padepokan ini aktif menyeimbangkan kegiatan keagamaan, pelestarian budaya, hingga rutin menggelar wejangan Jawa setiap malam Jumat Pon.
Harapan di Usia Ke-9
Melalui perayaan Wilujengan Ambal Warsa ke-9 ini, Ki Suryo Alam mengajak seluruh santri dan anggota padepokan untuk melakukan tasyakuran secara khidmat. Seiring berjalannya waktu, SRM diharapkan dapat tumbuh semakin kuat, kokoh, dan konsisten menjadi bagian dari organisasi yang melestarikan adat, budaya, serta spiritualitas Nusantara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?