Bung Oetomo Sapto Amien: "Riset seperti ini harus menjadi prototipe nasional karena menjawab kebutuhan hilirisasi pembangunan Indonesia".
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Hasil penelitian Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M.Ag., Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengenai Model Segitiga Emas Kolaborasi BUMDes–Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)–UMKM mulai mendapat perhatian dari kalangan dunia usaha dan industri. Model yang dikembangkan melalui pendekatan Quranic Community Development (QCD) tersebut dinilai mampu menghadirkan desain kelembagaan ekonomi desa yang integratif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Ketertarikan tersebut datang dari Bung Oetomo Sapto Amien, GM Regional DBMWork Solusi Indonesia sekaligus Ketua SATGASNAS Koperasi Merah Putih, yang juga menjadi bagian dari jaringan pengembangan proyek Korea Trade-Investment. Setelah mempelajari hasil penelitian Prof. Fauzan, Bung Tomo menyatakan kesiapan membangun kerja sama dalam pengembangan sistem pendataan, monitoring, dan pengawasan berbasis aplikasi digital untuk memperkuat tata kelola Koperasi Desa Merah Putih.
Dalam wawancara dengan media ini, Prof. Fauzan mengungkapkan bahwa respons dari dunia industri menjadi bukti bahwa penelitian perguruan tinggi dapat melahirkan solusi yang relevan bagi pembangunan nasional.
"Yang menggembirakan bagi kami bukan hanya lahirnya publikasi ilmiah, tetapi ketika hasil penelitian mampu menarik perhatian dunia usaha dan industri. Ini menunjukkan bahwa riset kampus memang harus menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan negara," ujar Prof. Fauzan.
Menurutnya, model Segitiga Emas dibangun atas prinsip pembagian peran yang jelas. BUMDes menjadi pengelola aset dan investasi desa, KDMP bertugas sebagai agregator sekaligus distributor tunggal hasil produksi masyarakat, sedangkan UMKM, khususnya yang dikelola Fatayat, menjadi pelaksana teknis dalam proses produksi, pengolahan, hingga hilirisasi produk.
"Kami ingin membangun ekosistem yang saling menguatkan. Tidak ada lembaga yang berjalan sendiri. BUMDes mengelola aset, KDMP menjamin pasar, UMKM menciptakan nilai tambah. Dengan demikian, ekonomi desa bergerak dalam satu sistem yang berkelanjutan," jelasnya.
Perhatian Dunia Industri
Prof. Fauzan menjelaskan bahwa setelah membaca hasil penelitian tersebut, Bung Oetomo Sapto Amien langsung menawarkan sinergi dalam pengembangan sistem digital yang dapat mendukung implementasi model di lapangan.
Menurut Prof. Fauzan, digitalisasi menjadi bagian penting agar tata kelola koperasi semakin transparan, akuntabel, dan mudah diawasi oleh seluruh pemangku kepentingan.
"Beliau menawarkan agar model kelembagaan yang kami rumuskan diperkuat dengan aplikasi digital yang mampu melakukan pendataan, monitoring, evaluasi, hingga pengawasan secara real time. Ini tentu menjadi langkah strategis untuk memperkuat akuntabilitas Koperasi Desa Merah Putih," katanya.
Bung Tomo: Kampus Harus Menjadi Solusi Bangsa
Dalam keterangannya kepada tim peneliti, Bung Oetomo Sapto Amien menyampaikan bahwa ketertarikannya terhadap penelitian tersebut merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 26–28 Juni 2026.
Forum yang dihadiri sekitar 2.600 rektor, dekan, dan dosen dari seluruh Indonesia itu menghasilkan komitmen untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan nasional melalui riset yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Menurut Bung Tomo, hasil penelitian Prof. Fauzan mencerminkan semangat yang dibangun dalam forum tersebut.
"Kami melihat bahwa riset yang dilakukan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mampu menghadirkan perspektif akademik yang tidak berhenti pada teori, tetapi melahirkan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Inilah bentuk riset yang tepat sasaran, tepat hasil, tepat guna, tepat waktu, dan benar-benar memberikan dampak bagi pembangunan nasional," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan masyarakat.
"Kami meyakini pemerintah, kampus, dunia usaha, industri, dan masyarakat harus bergerak menjadi satu ekosistem. Riset dan inovasi menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan solusi konkret bagi hilirisasi ekonomi, ketahanan pangan, energi, pertanian, perikanan, industri, hingga pendidikan," kata Bung Tomo.
Siap Bangun Prototype Nasional
Lebih lanjut, Bung Tomo menyampaikan kesiapan DBMWork Solusi Indonesia untuk mendukung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi prototype modeling dalam pendampingan berbagai program hilirisasi pembangunan nasional.
Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri, khususnya dalam pengembangan Koperasi Desa Merah Putih.
"Kami siap mendukung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi model nasional pendampingan pembangunan. Perspektif akademik yang lahir dari kampus perlu dipertemukan dengan teknologi, dunia usaha, dan kebutuhan pemerintah agar menghasilkan kebijakan yang benar-benar implementatif," tegas Bung Tomo.
Prof. Fauzan: Momentum Besar Kolaborasi Triple Helix
Menanggapi tawaran tersebut, Prof. Fauzan menyatakan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri merupakan implementasi nyata konsep triple helix, bahkan berkembang menjadi penta helix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Menurutnya, penelitian tidak boleh berhenti pada laporan ilmiah, tetapi harus berkembang menjadi model pembangunan yang dapat diimplementasikan melalui dukungan teknologi dan industri.
"Kami menyambut baik tawaran ini. Model Segitiga Emas akan semakin kuat apabila dipadukan dengan sistem digital yang mampu memastikan transparansi, efisiensi, dan keberlanjutan tata kelola koperasi. Kampus menghadirkan konsep, dunia industri menghadirkan teknologi, pemerintah menghadirkan regulasi, dan masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan," ungkap Prof. Fauzan.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi awal lahirnya model nasional penguatan Koperasi Desa Merah Putih yang berbasis riset, teknologi, dan nilai-nilai sosial-keagamaan.
"Visi kami sederhana tetapi strategis: menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika riset kampus, teknologi industri, dan kebijakan pemerintah bertemu dalam satu ekosistem, maka cita-cita membangun kemandirian ekonomi nasional dari desa akan semakin mudah diwujudkan," pungkas Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M.Ag.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?