MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pesatnya kemajuana teknologi kesehatan berbasis radiasi—mulai dari radiologi diagnostik, radioterapi kanker, hingga kedokteran nuklir—membawa angin segar bagi dunia medis. Namun, di balik kecanggihan alat-alat tersebut, ada risiko besar yang mengintai jika tidak dikelola dengan benar. Di sinilah profesi fisikawan medis mengambil peran vital sebagai "benteng" keselamatan.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Medis dan Radiologi Universitas Brawijaya (UB), Prof. Chomsin S. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D. Menurutnya, keberadaan fisikawan medis di fasilitas kesehatan bukanlah sekadar pelengkap atau syarat formalitas belaka, melainkan garda terdepan untuk menjamin mutu layanan dan keselamatan semua pihak.
"Keselamatan dari paparan radiasi itu poin paling krusial. Dosis yang diterima pasien harus benar-benar pas sesuai kebutuhan terapi, sementara orang sehat di sekitarnya tidak boleh terkena paparannya sama sekali," beber Prof. Chomsin saat berbincang hangat dalam acara Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media (Ngopi Sam), Sabtu (25/7/2026).
Bekerja dalam Senyap dengan Akurasi Tinggi
Dalam praktiknya, tugas seorang fisikawan medis sangatlah kompleks dan membutuhkan ketelitian ekstra. Mereka wajib mengawal penggunaan alat sejak fase persiapan, kalibrasi, operasional, sampai mengevaluasi presisi dosis radiasi yang masuk ke tubuh pasien.
Sebagai contoh pada penanganan kanker di organ vital seperti otak. Meski dokter yang mendiagnosis dan menentukan dosis terapinya, fisikawan medis-lah yang bertugas memastikan tembakan sinar radiasi itu tepat sasaran menghancurkan sel tumor, tanpa merusak jaringan sehat di sekelilingnya.
Bukan cuma pasien yang dilindungi, tenaga kesehatan lain seperti dokter, perawat, hingga radiografer juga sangat bergantung pada sistem keamanan yang dirancang oleh fisikawan medis agar terhindar dari paparan radiasi nyasar.
"Mengingat karakteristik setiap bidang itu beda-beda, idealnya satu fisikawan medis menangani satu bidang layanan. Makin banyak unit radiasi di sebuah rumah sakit, ya otomatis kebutuhan tenaga ahlinya makin bertambah," imbuh Prof. Chomsin.
Peluang Karier Laris Manis di Era Digital dan AI
Melihat tren ke depan, Prof. Chomsin memprediksi profesi ini bakal semakin diburu dalam satu dekade mendatang. Ledakan jumlah rumah sakit baru dan canggihnya teknologi menjadi pemicu utamanya. Belum lagi, kehadiran *Artificial Intelligence* (AI) di ranah radiologi menuntut pengawasan ketat agar standar keamanannya tetap terjaga.
Namun, jalan menjadi fisikawan medis memang butuh proses. Lulusan S1 Fisika murni tidak bisa langsung terjun praktik. Mereka wajib menempuh pendidikan profesi lanjutan dan program residensi klinis di rumah sakit.
Kabar baiknya, UB saat ini tercatat sebagai salah satu kampus pelopor pendidikan fisika medis di Tanah Air, bersanding dengan UI, IPB, Undip, dan Unhas.
Hingga detik ini, pasokan tenaga fisikawan medis di Indonesia nyatanya masih belum sebanding dengan tingginya kebutuhan rumah sakit, khususnya untuk sebaran di luar Pulau Jawa.
"Teknologi kesehatan berkembang sangat pesat dan rumah sakit jelas butuh profesi ini untuk memenuhi standar pelayanan. Karena itu, prospek karier lulusan fisika medis ke depannya masih sangat cerah dan terbuka lebar," pungkas akademisi dari Fakultas Sains dan Teknologi (FSTeM) UB tersebut optimis.

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?