OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah: Menanamkan Kasih Sayang, Membangun Generasi Tangguh
Oleh: Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H.
(Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)
Hari pertama masuk sekolah untuk tahun ajaran baru secara umum dijadwalkan pada Senin, 13 Juli 2026 selalu menjadi momen istimewa bagi setiap anak. Di balik seragam baru, tas yang masih rapi, dan wajah yang dipenuhi rasa ingin tahu, tersimpan harapan besar untuk memulai perjalanan pendidikan.
Di sisi lain, bagi orang tua khususnya ayah, hari pertama sekolah merupakan kesempatan berharga untuk menunjukkan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Yang sebelumnya ayah menemani masa liburan anak bersama keluarga.
Anak yang tidak mempunyai ayah tetap dapat menjalani hari pertama sekolah dengan gembira dan penuh percaya diri melalui pendampingan ibu, anggota keluarga lain, atau wali yang peduli. Yang terpenting, setiap anak berhak merasakan semangat, perhatian, dan kasih sayang di hari pertamanya mengawali perjalanan pendidikan.
Kehadiran ayah pada hari pertama sekolah bukan sekadar mengantar anak hingga gerbang sekolah. Lebih dari itu, kehadiran tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan psikologis anak.
Di tengah lingkungan baru yang mungkin menimbulkan rasa cemas, sosok ayah mampu menghadirkan rasa aman, nyaman dan percaya diri. Keterlibatan ini menegaskan bahwa peran ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping utama dalam proses tumbuh kembang dan pendidikan anak.
Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah yang diinisiasi pemerintah bersama berbagai lembaga, termasuk BKKBN, yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN No. 17/2026, sebagai bagian dari strategi nasional penguatan ketahanan keluarga. Merupakan langkah positif untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Program ini mengajak para ayah mendampingi anak pada hari pertama masuk sekolah sebagai bentuk dukungan emosional sekaligus membangun kedekatan antara ayah dan anak. Gerakan ini juga membawa pesan penting bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.
Lebih jauh, gerakan tersebut bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam setiap fase tumbuh kembang anak, menumbuhkan rasa percaya diri, membentuk mental yang tangguh, memperkuat keharmonisan keluarga, serta menghapus stigma bahwa urusan pendidikan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang memperoleh dukungan emosional dari ayah cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, lebih siap menghadapi lingkungan baru, mampu menjalin hubungan sosial yang sehat, serta memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Selama ini, peran ayah masih sering dipersepsikan sebatas pencari nafkah. Padahal, perkembangan ilmu psikologi menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, kecerdasan emosional, hingga prestasi akademik anak. Kehadiran ayah di sekolah pada hari pertama menjadi simbol bahwa anak tidak pernah berjalan sendiri dalam menempuh pendidikan. Ada keluarga yang senantiasa mendukung dan mendoakan setiap langkahnya.
Dalam perspektif Islam, mendidik anak merupakan amanah yang harus dipikul oleh kedua orang tua. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat tersebut menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab membimbing, mendidik, serta menjaga keluarganya agar tetap berada di jalan Allah. Amanah itu tidak cukup diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan materi semata, tetapi juga melalui kasih sayang, perhatian, keteladanan, pendidikan akhlak, dan pendampingan yang berkesinambungan dalam setiap fase pertumbuhan anak.
Momentum mengantar anak ke sekolah menjadi ruang sederhana yang sarat makna. Perjalanan menuju sekolah dapat diisi dengan doa, nasihat, afirmasi, dan motivasi. Pelukan hangat serta kalimat sederhana seperti, "Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Ayah selalu mendoakanmu. Kamu pasti bisa!," dapat menjadi energi positif yang membekas dalam ingatan anak hingga dewasa.
Gerakan ini juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah. Pendidikan merupakan hasil sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketika orang tua, terutama ayah, hadir dalam momen-momen penting pendidikan anak, maka proses pembentukan karakter akan berlangsung lebih kuat dan berkelanjutan.
Di tengah derasnya arus digital dan berbagai tantangan zaman, anak-anak membutuhkan figur yang bukan hanya memberi aturan, tetapi juga hadir, mendengar, berdialog, dan menjadi teladan.
Waktu beberapa menit untuk mengantar anak ke sekolah mungkin terlihat sederhana, tetapi nilai kasih sayang, perhatian, dan kedekatan emosional yang ditanamkan dapat menjadi bekal berharga sepanjang hayat.
Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah juga merupakan ajakan membangun budaya pengasuhan yang lebih setara. Pendidikan anak bukan hanya tugas ibu.
Ayah memiliki peran yang sama penting dalam menumbuhkan rasa aman, disiplin, tanggung jawab, optimisme, dan kemandirian. Kehadiran ayah menjadi pesan bahwa keluarga adalah sekolah pertama dan utama dalam membentuk karakter generasi bangsa.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya prestasi akademik, tetapi juga dari lahirnya generasi yang berakhlak mulia, berempati, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu memberi manfaat bagi sesama. Semua itu bermula dari keluarga.
Oleh karena itu, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah hendaknya tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi budaya yang terus hidup dalam keluarga Indonesia.
Sebab, langkah seorang ayah mengantar anak ke sekolah mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, dari langkah sederhana itulah tumbuh rasa percaya diri, kasih sayang, dan harapan besar yang kelak mengantarkan anak menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?