Banner Iklan

DPD RI Lia Istifhama Soroti Labilnya Produktivitas, Ajak Petani Tebu Jember Rebut Kembali Kejayaan Gula Nasional

JSN Admin 2
11 Juli 2026 | 23.01 WIB Last Updated 2026-07-11T16:02:40Z
Anggota DPD/MPR RI Lia Istifhama bersama Marsekal Tonny dan Dirut GSN Mahmudi di Jember (10/7)./dok.istimewa

JEMBER | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD/MPR RI Lia Istifhama bersama Ketua Dewan Pembina APTRI HM. Arum Sabil, Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal Tonny Harjono, dan Dirut PT SGN Mahmudi, menghadiri panen raya di Kecamatan Tanggul, Jember.

Pada momen ini, Senator Lia Istifhama mengajak petani tebu Jember merebut kembali kejayaan gula nasional dengan merefleksikan pengorbanan besar para leluhur.

Lia yang juga merupakan anggota MPR RI ini memotivasi petani tebu Jember saat menghadiri Deklarasi Pengukuhan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU), Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono sebagai Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di Kabupaten Jember.

Lia mengingatkan, sejarah panjang industri gula di tanah air tidak boleh sekadar menjadi catatan masa lalu, melainkan harus menjadi bahan bakar semangat bagi swasembada pangan hari ini.

"Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada 1930, Indonesia sempat merajai pasar gula dunia dengan memproduksi hingga 3 juta ton gula, meskipun kala itu luas lahan tebu hanya 200.000 hektar dan teknologi operasional masih sangat konvensional," ungkap Lia, Jumat (10/7).

Selain petani tebu, Lia juga mengajak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri tebu untuk melakukan evaluasi besar-besaran. Sebab, teknologi Indonesia yang dimiliki saat ini sudah jauh lebih maju dibanding zaman dulu.

Hanya saja, produktivitas gulanya justru labil dan sering kewalahan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri apalagi ekspor.

"Ini tamparan keras sekaligus tantangan bagi kita semua. Kehadiran KASAU di barisan penasihat APTRI harus menjadi momentum emas untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dari hulu ke hilir," tegas Lia.

Keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini juga menyoroti kondisi lahan yang luas namun swasembada gula justru mencemaskan.

Jika membandingkan efisiensi industri modern dengan era 1930-an, Indonesia saat ini mengalami kemunduran mekanisasi yang ironis. Dengan riset terintegrasi dan sistem irigasi teknis yang matang, para pendahulu mampu memaksimalkan hasil bumi secara masif.

Menurut Lia, kunci kejayaan masa lalu terletak pada integrasi total antara riset lahan, infrastruktur transportasi (loko dan rel), serta jaminan kesejahteraan para pekerja lapangan.

Saat ini, tantangan terbesar bagi APTRI dan pemerintah menurut Lia adalah memotong mata rantai tengkulak yang merugikan petani tebu rakyat, memperbaiki sistem pabrik gula yang mulai usang, serta mengembalikan hak-hak petani agar mereka kembali bergairah menanam tebu. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • DPD RI Lia Istifhama Soroti Labilnya Produktivitas, Ajak Petani Tebu Jember Rebut Kembali Kejayaan Gula Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now