Banner Iklan

Dari Kolam ke Lumbung Pangan: Hilirisasi Lele Putukrejo Menuju Kemandirian Ekonomi Desa

Anis Hidayatie
24 Juli 2026 | 19.08 WIB Last Updated 2026-07-24T12:08:21Z

 

Prof Fauzan Zenrif di depan kolam. Dari Kolam ke Lumbung Pangan: Hilirisasi Lele Putukrejo Menuju Kemandirian Ekonomi Desa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Laporan Khusus | Gondanglegi, Kabupaten Malang

Hamparan sawah hijau dan tanaman jagung yang mengelilingi kolam-kolam bundar di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, menggambarkan sebuah konsep pembangunan desa yang mulai diarahkan pada hilirisasi ekonomi berbasis pangan. Di kawasan yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tersebut, budidaya ikan lele tidak lagi berdiri sebagai usaha tunggal, tetapi menjadi bagian dari mata rantai produksi yang menghubungkan industri pakan, perikanan, pertanian, hingga ketahanan pangan masyarakat.


Puluhan kolam lele yang berada di tengah kawasan pertanian menjadi bukti bahwa Putukrejo sedang membangun model usaha desa yang memanfaatkan seluruh potensi lokal secara terpadu. Di lokasi yang sama, BUMDes juga memproduksi pakan ikan secara mandiri menggunakan mesin pencampur dan pencetak pelet. Bahan baku pakan berasal dari limbah pertanian, dedak, jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, serta bahan lokal lainnya yang mudah diperoleh di sekitar desa.


Model tersebut membuat biaya produksi budidaya lele turun secara signifikan. Selama ini, biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan berasal dari pembelian pakan pabrikan yang dapat mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi. Dengan memproduksi pakan sendiri, BUMDes berhasil memangkas biaya tersebut hingga lebih dari separuh.

Ketua BUMDes Putukrejo menjelaskan bahwa inovasi produksi pakan menjadi faktor utama yang membuat usaha budidaya lele tetap kompetitif.

"Kalau menggunakan pakan pabrikan, biaya produksi sangat tinggi. Sekarang kami sudah mampu memproduksi pakan sendiri sehingga biaya pakan turun lebih dari 50 persen. Penghematan ini sangat membantu meningkatkan keuntungan usaha budidaya lele," ujarnya saat ditemui di lokasi produksi.

Saat ini, kawasan budidaya yang dikelola BUMDes telah menghasilkan puluhan ton ikan lele setiap masa panen. Namun demikian, hasil produksi tersebut masih dipasarkan melalui jaringan tengkulak dengan pola cash and carry, yaitu pembayaran dilakukan secara tunai ketika ikan diambil dari lokasi budidaya.

Menurut Ketua BUMDes, pola pemasaran tersebut memang memberikan kepastian pembayaran kepada petani, tetapi belum memberikan nilai tambah yang optimal bagi desa karena seluruh hasil produksi masih dijual dalam bentuk ikan segar.

"Kami berharap ke depan tidak hanya berhenti pada budidaya. Kami ingin membangun hilirisasi sampai pengolahan hasil. Lele bisa menjadi fillet, abon, bakso, nugget, kerupuk kulit ikan, bahkan pakan berbasis limbah pengolahan. Nilai ekonominya tentu akan jauh lebih besar," katanya.

Ia juga berharap model usaha yang dikembangkan Putukrejo dapat direplikasi oleh desa-desa lain sesuai dengan potensi masing-masing.

 "Tidak semua desa harus mengembangkan lele. Desa lain bisa fokus pada nila, patin, gurami, atau komoditas perikanan lainnya. Kalau setiap desa memiliki spesialisasi, maka kebutuhan protein masyarakat dapat dipenuhi dari produksi desa sendiri dengan harga yang lebih murah dan berkualitas," ujarnya.

Konsep yang dikembangkan Putukrejo juga menghubungkan sektor perikanan dengan pertanian. Jagung yang ditanam masyarakat menjadi salah satu bahan baku pakan ikan, sementara limbah budidaya berupa air kolam yang kaya unsur hara dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pertanian padi dan jagung. Dengan demikian, tercipta siklus produksi yang saling mendukung antara pertanian dan perikanan sehingga biaya produksi kedua sektor dapat ditekan.

Kepala Desa Putukrejo, Achmad Zainul Achyar, menilai bahwa model tersebut merupakan fondasi penting bagi pembangunan ekonomi desa yang mandiri karena seluruh rantai nilai dikelola di tingkat desa.

"Yang kami bangun bukan hanya usaha budidaya lele, tetapi sebuah ekosistem ekonomi desa. Jagung menjadi bahan baku pakan, pakan digunakan untuk budidaya ikan, hasil ikan dipasarkan, dan limbahnya kembali dimanfaatkan untuk pertanian. Nilai tambahnya tetap berada di desa dan dinikmati masyarakat desa," ujarnya.

Menurutnya, pengembangan usaha tersebut memiliki peluang besar untuk diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga ekonomi desa yang sedang berkembang.

 "Ke depan kami berharap pola ini dapat disinergikan dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai jaringan distribusi dan pemasaran, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pasar yang membutuhkan pasokan protein berkualitas, serta pesantren-pesantren yang setiap hari membutuhkan bahan pangan dalam jumlah besar. Jika rantai kerja sama ini terbangun, desa tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga mampu mengendalikan distribusi dan memperoleh nilai tambah yang lebih besar," katanya.

Bagi Pemerintah Desa Putukrejo, hilirisasi bukan sekadar memperbesar produksi, melainkan memastikan bahwa setiap tahapan—mulai dari penyediaan bahan baku, produksi pakan, budidaya ikan, pengolahan hasil, hingga pemasaran—memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa. Dengan model tersebut, Putukrejo tidak hanya membangun usaha perikanan, tetapi sedang merintis ekosistem pangan berbasis desa yang mengintegrasikan pertanian, perikanan, BUMDes, KDMP, MBG, dan pesantren sebagai satu rantai nilai yang saling menguatkan. Model inilah yang diharapkan menjadi fondasi bagi kemandirian ekonomi desa sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi dengan harga terjangkau bagi masyarakat. 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari Kolam ke Lumbung Pangan: Hilirisasi Lele Putukrejo Menuju Kemandirian Ekonomi Desa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now