![]() |
| Ilustrasi, Sumber Gemini Ai |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM :
Abstract
The rising cost of living in Indonesia has created significant economic pressure on college students who depend almost entirely on allowances from their families. Driven by persistent inflation, fuel price hikes, and global geopolitical tensions, daily expenses for food, transportation, and accommodation have increased sharply. This conceptual article aims to analyze the impact of the cost-of-living crisis on students' economic welfare, consumption patterns, and psychological well-being. It concludes that structured institutional responses, including scholarships, financial assistance programs, and cost stabilization policies, are urgently needed to protect students' academic focus and overall welfare.
Keywords: cost of living, inflation, students, economic welfare, financial management.
Intisari
Kenaikan biaya hidup di Indonesia telah menciptakan tekanan ekonomi yang signifikan bagi mahasiswa yang hampir sepenuhnya bergantung pada uang saku dari keluarga. Didorong oleh inflasi yang terus-menerus, kenaikan harga BBM, dan ketegangan geopolitik global, pengeluaran harian untuk pangan, transportasi, dan tempat tinggal meningkat tajam. Artikel konseptual ini bertujuan menganalisis dampak krisis biaya hidup terhadap kesejahteraan ekonomi, pola konsumsi, dan kesehatan psikologis mahasiswa. Disimpulkan bahwa respons institusional yang terstruktur, termasuk beasiswa, program bantuan keuangan, dan kebijakan stabilisasi harga, sangat diperlukan untuk menjaga fokus akademik dan kesejahteraan mahasiswa.
Kata Kunci: biaya hidup, inflasi, mahasiswa, kesejahteraan ekonomi, manajemen keuangan.
A. Pendahuluan
Kenaikan biaya hidup merupakan fenomena yang kini dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali kalangan mahasiswa. Sebagai kelompok yang pada umumnya belum memiliki penghasilan mandiri dan sangat bergantung pada uang saku dari orang tua atau keluarga, mahasiswa berada pada posisi yang paling rentan ketika harga-harga kebutuhan pokok mengalami lonjakan. Harga pangan naik, ongkos transportasi merangkak tinggi, dan biaya sewa tempat tinggal semakin memberatkan. Semua ini terjadi secara bersamaan, membentuk tekanan ekonomi yang kumulatif.
Tekanan ini bukan semata persoalan individual. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu penyumbang utama inflasi pada Agustus 2024, dengan kenaikan mencapai 0,65 persen yang dipicu oleh meningkatnya biaya pendidikan dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di sisi lain, inflasi pangan yang terus bergejolak akibat gangguan rantai pasokan global dan kebijakan harga energi domestik memperburuk daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Penelitian yang dilakukan oleh Sianipar et al. menemukan bahwa sebanyak 84,5% mahasiswa melakukan pengurangan konsumsi sebagai respons langsung terhadap kenaikan harga. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak inflasi tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga menyentuh dimensi psikologis, memunculkan kecemasan, stres, dan ketidakpastian yang dapat mengganggu konsentrasi belajar. Kondisi demikian menjadikan isu kenaikan biaya hidup mahasiswa sebagai persoalan kesejahteraan yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, dan keluarga.
Artikel ini bertujuan menganalisis secara konseptual dampak kenaikan biaya hidup terhadap kondisi ekonomi dan kesejahteraan mahasiswa di Indonesia, mengidentifikasi strategi adaptasi yang ditempuh mahasiswa dalam menghadapi tekanan tersebut, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat memitigasi dampak negatifnya. Kebaharuan artikel ini terletak pada pendekatannya yang integratif, menggabungkan dimensi ekonomi, psikologis, dan kebijakan dalam satu kerangka analisis yang komprehensif, khususnya dalam konteks krisis biaya hidup yang terjadi di Indonesia pada periode 2024–2025.
B. Metode Penelitian
Artikel ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kepustakaan (library research) yang bersifat konseptual. Pendekatan ini dipilih karena tujuan penulisan bukan untuk menghasilkan data primer melalui survei atau eksperimen, melainkan untuk menganalisis dan mensintesis temuan-temuan yang telah dipublikasikan sebelumnya guna membangun kerangka pemahaman yang komprehensif mengenai dampak kenaikan biaya hidup terhadap kesejahteraan mahasiswa.
Sumber data yang digunakan dalam artikel ini seluruhnya berupa data sekunder, yang diperoleh dari: (a) publikasi resmi lembaga pemerintah, seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dan Bank Indonesia; (b) artikel jurnal ilmiah yang membahas inflasi, daya beli, dan kesejahteraan mahasiswa; (c) buku teks ekonomi makro sebagai rujukan teoretis; serta (d) pemberitaan media massa kredibel yang memuat data dan pernyataan resmi terkait kondisi biaya hidup di Indonesia pada periode 2024–2025.
Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran pustaka (literature review) secara sistematis, dengan kriteria kebaruan sumber (data dan publikasi tahun 2023–2025), relevansi tema, serta kredibilitas penerbit. Data numerik, seperti angka inflasi bulanan yang dirilis BPS, digunakan sebagai instrumen pendukung untuk menggambarkan tren makroekonomi secara kronologis.
Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif-kualitatif, yaitu dengan mengorganisasikan temuan dari berbagai sumber ke dalam tema-tema utama (dampak ekonomi, dampak psikologis, strategi adaptasi, dan peran kelembagaan), kemudian menginterpretasikan keterkaitan antar tema tersebut untuk merumuskan simpulan dan rekomendasi kebijakan yang bersifat konseptual.
C. Pembahasan
1. Inflasi dan Kenaikan Biaya Hidup, Dalam Konteks Makroekonomi
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan dalam suatu periode waktu tertentu, yang mengindikasikan menurunnya nilai riil uang.⁴ Dalam konteks Indonesia, inflasi yang terjadi pada 2024–2025 tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor struktural dan eksternal, di antaranya: (a) kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak langsung pada biaya transportasi dan distribusi; (b) gangguan rantai pasokan global akibat ketegangan geopolitik, khususnya konflik di kawasan Eropa Timur dan Timur Tengah; serta (c) kebijakan penyesuaian tarif yang dilakukan secara bertahap oleh pemerintah di berbagai sektor.
Tahun 2025 disebut sebagai salah satu tahun paling menantang bagi masyarakat Indonesia dalam dua dekade terakhir. Kenaikan harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan cabai telah menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah secara nyata. Kelompok mahasiswa, yang pengeluarannya mencakup biaya pangan, transportasi, tempat tinggal, dan keperluan akademis, merasakan dampak berlapis dari kondisi ini.
Penting untuk dipahami bahwa inflasi bersifat regresif, ia lebih memberatkan kelompok yang berpenghasilan rendah atau tidak berpenghasilan sama sekali dibanding kelompok ekonomi atas. Mahasiswa, yang umumnya belum memiliki penghasilan dan mengandalkan uang saku dengan jumlah tetap, berada di antara kelompok yang paling terdampak oleh dinamika inflasi ini.
2. Dampak terhadap Pola Konsumsi dan Pengelolaan Keuangan
Kenaikan biaya hidup mendorong perubahan signifikan dalam pola konsumsi mahasiswa. Riset Sianipar et al. yang dipublikasikan dalam Jurnal Jerkin menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa 84,5% telah mengurangi konsumsi mereka sebagai respons terhadap tekanan harga. Pengurangan ini mencakup berbagai aspek: mengurangi frekuensi makan di luar, beralih ke pilihan pangan yang lebih murah, memangkas anggaran hiburan dan sosialisasi, serta menunda pembelian barang-barang non-esensial.
Perubahan pola konsumsi ini bersesuaian dengan teori konsumsi Keynes yang menyatakan bahwa konsumsi seseorang berbanding lurus dengan pendapatannya, atau dalam konteks mahasiswa, dengan besaran uang saku yang diterimanya. Ketika harga naik sementara uang saku tidak bertambah, mahasiswa secara rasional akan menyesuaikan pengeluaran ke bawah. Namun, penyesuaian ini tidak selalu mudah karena terdapat kebutuhan dasar yang tidak dapat dielakkan, seperti biaya makan, transportasi ke kampus, dan kebutuhan akademis.
Menurut Mankiw, inflasi mendorong individu untuk mengubah pola konsumsinya. Memilih barang substitusi yang lebih murah, mengurangi frekuensi belanja, atau menunda pembelian barang tahan lama. Bagi mahasiswa, substitusi ini kerap berarti menurunkan kualitas asupan gizi demi efisiensi pengeluaran, yang dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi kesehatan dan kapasitas kognitif mereka.
3. Dampak Psikologis: Kecemasan dan Tekanan Mental
Dampak kenaikan biaya hidup tidak berhenti pada dimensi ekonomi semata. Sianipar et al. secara eksplisit mencatat bahwa inflasi menimbulkan dampak psikologis berupa kecemasan, terutama bagi mahasiswa yang merantau jauh dari keluarganya. Kecemasan ini bersumber dari ketidakpastian apakah uang saku yang ada akan cukup hingga akhir bulan, kekhawatiran akan menjadi beban tambahan bagi orang tua, serta stres akibat harus menyeimbangkan antara kebutuhan akademis dan kebutuhan bertahan hidup.
Kondisi psikologis yang terganggu ini pada gilirannya dapat memengaruhi performa akademis. Mahasiswa yang dilanda kecemasan finansial sulit berkonsentrasi dalam proses belajar, kurang mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan perkuliahan, dan berisiko mengalami penurunan motivasi akademis. Dalam kasus yang lebih ekstrem, tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat memicu keputusan untuk mengurangi beban studi atau bahkan menghentikan perkuliahan sementara.
4. Strategi Adaptasi Mahasiswa
Dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup, mahasiswa mengembangkan berbagai strategi adaptasi yang mencerminkan kreativitas dan ketangguhan generasi muda dalam merespons tantangan struktural yang ada.
Strategi pertama adalah diversifikasi sumber pendapatan. Banyak mahasiswa kini mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan paruh waktu, pekerjaan lepas (freelance) di bidang desain grafis, penulisan, penerjemahan, atau pengembangan konten digital, serta berwirausaha kecil-kecilan melalui platform perdagangan daring. Strategi ini membantu menambal kekurangan uang saku, meski di sisi lain juga berpotensi menyita waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk kegiatan akademis.
Strategi kedua adalah penerapan manajemen keuangan yang lebih disiplin. Mahasiswa mulai menyusun anggaran bulanan secara terperinci, memisahkan kebutuhan pokok dari keinginan, dan mengadopsi gaya hidup yang lebih minimalis. Kebiasaan memasak sendiri sebagai pengganti membeli makanan di luar menjadi salah satu strategi penghematan yang paling umum diterapkan.
Strategi ketiga adalah perubahan gaya hidup sosial. Pengurangan intensitas aktivitas sosial seperti berkumpul bersama teman menjadi konsekuensi yang kerap tidak terelakkan. Meskipun terlihat sepele, pengurangan interaksi sosial ini dapat memengaruhi kualitas hubungan antarpribadi dan rasa keterhubungan sosial mahasiswa, yang merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan mental.
5. Peran Pemerintah dan Perguruan Tinggi
Penelitian Sianipar et al. juga mengungkapkan bahwa 64,4% mahasiswa menilai pemerintah kurang efektif dalam mengendalikan inflasi dan mempertahankan daya beli masyarakat.¹¹ Persepsi ini mencerminkan kesenjangan antara kebijakan makroekonomi di tingkat nasional dengan realitas yang dirasakan oleh kelompok-kelompok rentan seperti mahasiswa.
Dalam perspektif kebijakan publik, pengendalian inflasi yang efektif membutuhkan kombinasi instrumen moneter, seperti operasi pasar terbuka dan penyesuaian suku bunga oleh Bank Indonesia. Dengan intervensi dari sisi penawaran (supply-side), termasuk stabilisasi harga pangan dan subsidi energi yang tepat sasaran, serta program jaring pengaman sosial yang adaptif. Beasiswa, bantuan uang kuliah tunggal (UKT), dan program keringanan biaya dari perguruan tinggi merupakan bentuk respons institusional yang dapat meringankan beban mahasiswa secara langsung.
Perguruan tinggi, sebagai institusi yang paling dekat dengan mahasiswa, memiliki tanggung jawab moral untuk hadir sebagai penyangga di tengah tekanan ekonomi ini. Perluasan program beasiswa berbasis kebutuhan ekonomi (need-based scholarship), penyediaan kantin subsidi, fasilitas kerja paruh waktu di kampus, serta layanan konseling keuangan dan psikologis adalah langkah-langkah konkret yang dapat diambil oleh institusi pendidikan tinggi.
Sumber: bps.go & cnnindonesia
Instrumen data inflasi y-o-y BPS periode Februari 2024–Oktober 2025 berfungsi sebagai dasar empiris makroekonomi dalam penulisan ini, karena menunjukkan dinamika kenaikan dan penurunan harga secara kronologis selama periode yang dibahas. Data tersebut memperlihatkan bahwa inflasi 2024 relatif terkendali, sempat mencapai 3,05 persen pada Maret 2024, lalu turun hingga 1,57 persen pada Desember 2024, sebelum kembali meningkat pada 2025 menjadi 2,37 persen pada Juli, 2,65 persen pada September, dan 2,86 persen pada Oktober 2025. Pola ini relevan dengan pembahasan penulis karena menegaskan bahwa kenaikan biaya hidup memang terjadi dalam periode tersebut dan berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya mahasiswa yang bergantung pada uang saku tetap. Dengan demikian, instrumen ini memperkuat argumen penulis tentang inflasi sebagai faktor utama yang memicu perubahan pola konsumsi, tekanan psikologis, dan kebutuhan akan respons kebijakan dari pemerintah maupun perguruan tinggi.
D. Penutup
Kenaikan biaya hidup yang dipicu oleh inflasi berkelanjutan, kenaikan harga BBM, dan tekanan geopolitik global telah menciptakan tantangan nyata bagi kesejahteraan mahasiswa Indonesia. Dampaknya tidak hanya bersifat ekonomis, terlihat dari perubahan pola konsumsi dan perlunya mencari penghasilan tambahan, tetapi juga menyentuh dimensi psikologis berupa kecemasan dan stres yang berpotensi mengganggu proses belajar. Mahasiswa, sebagai kelompok yang bergantung pada uang saku yang bersifat tetap, berada di antara mereka yang paling terdampak oleh dinamika harga yang tidak menentu ini.
Diperlukan respons yang terstruktur dan multidimensi untuk mengatasi persoalan ini. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan stabilisasi harga dan memperluas program perlindungan sosial bagi kelompok rentan, termasuk mahasiswa. Perguruan tinggi perlu mengambil peran yang lebih aktif melalui perluasan beasiswa, fasilitas penunjang, dan layanan konseling. Sementara mahasiswa sendiri perlu terus mengembangkan literasi keuangan dan strategi adaptasi yang sehat, agar tekanan ekonomi tidak mengorbankan kualitas pendidikan dan kesehatan mental mereka. Sebab, kesejahteraan mahasiswa hari ini adalah investasi bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Daftar Pustaka
Anggita Mujayanah, et al., "Dampak Inflasi terhadap Kesenjangan Pendapatan dan Daya Beli Masyarakat di Indonesia", Jurnal Nuansa: Publikasi Ilmu Manajemen dan Ekonomi Syariah, Vol. 2, No. 4, 2024.
Badan Pusat Statistik, "Perkembangan Indeks Harga Konsumen", https://www.bps.go.id
Bank Indonesia, "Laporan Perekonomian Indonesia", https://www.bi.go.id
FKP Universitas Negeri Surabaya, "Krisis Biaya Hidup dan Gejolak Sosial di Indonesia Tahun 2025", https://agridigi.fkp.unesa.ac.id
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, "Inflasi dan Deflasi: Memahami Dinamika Harga dan Kebijakan Ekonomi Indonesia", https://opini.kemenkeu.go.id
Mankiw, N. Gregory, 2016, Principles of Economics, 8th Edition, Cengage Learning, Boston.
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5500).
Puteri Andika Sari dan Wiendy Puspita Sari, "The Small Firm Performance and Entrepreneurial Competence Revealed Through Competitiveness Framework: A Case Study of MSMEs in Indonesia", dalam Bruno S. Sergi dan Dedhy Sulistiawan (Ed.), 2022, Modeling Economic Growth in Contemporary Indonesia, Emerald Publishing, Bingley.
Sianipar, Delima, et al., "Dampak Inflasi terhadap Pola Konsumsi dan Kesejahteraan Mahasiswa", Jerkin: Jurnal Ekonomi Riset dan Kebijakan Indonesia, Vol. 3, No. 4, April–Juni 2025.
Sitanggang, I., et al., "Analisis Pengaruh Inflasi Terhadap Daya Beli Masyarakat", Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol. 2, No. 1, Januari 2025.
Tim Redaksi Antara, “Rincian biaya hidup di Bandung untuk mahasiswa”, Antara News, 7 Oktober 2024.
Tim Redaksi CNN Indonesia, "Inflasi Indonesia Turun Menjadi 1,57 Persen pada Desember 2024", CNN Indonesia, 2 Januari 2025.
Tim Redaksi Kompas.com, “Biaya Hidup Mahasiswa di Bandung dan Jakarta, Ini Kisaran Per Bulan”, Kompas.com, 17 Januari 2023.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5336).
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301).
Widiastuti, Desi, "Dampak Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat Perspektif Ekonomi Publik", Jurnal Aplikasi Penelitian dan Kebijakan Ekonomi (APKE), Vol. 1, No. 1, 2025.
Penulis : I Komang Ardhi Suryanata
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jl. Semolowaru No. 45, Surabaya, Jawa Timur, 60118




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?