Program pengabdian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah produk batik yang selama ini masih didominasi oleh bentuk konvensional. Padahal, perkembangan industri kreatif membuka peluang besar bagi pengrajin untuk mengembangkan produk batik yang lebih variatif, inovatif, dan sesuai dengankebutuhan pasar modern. Melalui pendekatan Community Based Creative Industry, masyarakat didorong untuk menjadi pelaku utama dalam proses pengembangan produk, mulai dari produksi hingga pengelolaan usaha secara berkelanjutan.
Kegiatan yang diikuti oleh 30 peserta ini diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Ketua Pengabdian, Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa batik bukan hanya warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga aset ekonomi yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai tinggi. Menurutnya, penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dapat menjadi salah satu strategi dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa.
“Melalui inovasi dan kreativitas, batik dapat berkembang menjadi berbagai produk yang diminati masyarakat luas. Karena itu, masyarakat perlu didorong untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan identitas budaya lokal yang menjadi ciri khas daerah” ujar Dr. Heny selaku Ketua Pengabdian.
Setelah sesi pembukaan, peserta dibagi menjadi tiga kelompok pelatihan, yaitu kelompok batik tulis, batik tie dye (jumputan), dan batik ciprat dengan memadukan motif kearifan lokal seperti durian dan kopi. Pembagian kelompok dilakukan agar peserta dapat memperoleh pendampingan yang lebih fokus sesuai dengan teknik yang dipelajari. Selama pelatihan, setiap kelompok mendapatkan bimbingan langsung mengenai penggunaan alat dan bahan, pembuatan motif, proses pewarnaan, hingga tahap penyelesaian produk.
Kegiatan ini didampingi oleh asesor serta tim dosen pendamping, yaitu Putra Hilmi Prayitno, Gamma Rahmita Ureka Hakim, dan Robby Wijaya, yang memberikan arahan pada masing-masing kelompok.
Kegiatan praktik berlangsung secara interaktif dan dipandu oleh asesor batik yang berpengalaman. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai teknik membatik, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses pembuatan batik sesuai dengan kelompok masing-masing. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam berdiskusi, bertanya, dan mencoba berbagai teknik yang diajarkan selama pelatihan berlangsung.
Program ini sejalan dengan model penguatan ekonomi kreatif yang dikembangkan dalam proposal pengabdian, yaitu melalui inovasi produksi berbasis teknik batik kontemporer seperti jumputan dan batik ciprat yang lebih fleksibel, efisien, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Teknik tersebut memungkinkan proses produksi yang lebih cepat dengan tetap mempertahankan nilai estetika dan identitas lokal. Selain itu, diversifikasi produk juga diarahkan pada pengembangan berbagai produk aplikatif seperti tas, kaos, taplak meja, aksesori, dan berbagai produk rumah tangga yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan penjualan kain batik semata.
Tidak hanya berfokus pada keterampilan produksi, program ini juga dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam aspek kewirausahaan dan pengelolaan usaha. Pendekatan yang digunakan menekankan pentingnya efisiensi produksi, penghitungan biaya usaha, strategi penetapan harga, hingga pengembangan branding produk. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Partisipasi aktif masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan program ini. Sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan, masyarakat terlibat dalam memberikan masukan, mengikuti pelatihan, serta berpartisipasi dalam praktik produksi dan evaluasi kegiatan. Keterlibatan tersebut menunjukkan komitmen bersama untuk mengembangkan industri kreatif berbasis batik yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Sumberagung.
Hasil karya peserta selama pelatihan menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan desa. Berbagai motif dan kombinasi warna yang dihasilkan mencerminkan kreativitas masyarakat sekaligus menjadi representasi kekayaan budaya lokal yang dimiliki Desa Sumberagung. Kedepan, hasil-hasil tersebut diharapkan dapat menjadi cikal bakal lahirnya produk-produk batik aplikatif yang memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian ucapan terima kasih kepada seluruh peserta, kepala Desa Sumberagung, serta seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program pengabdian ini. Sebagai penutup, seluruh peserta dan tim pelaksana melakukan sesi dokumentasi bersama sebagai bentuk apresiasi atas semangat kolaborasi yang telah terbangun selama kegiatan berlangsung.
Melalui program ini, Universitas Negeri Malang berharap dapat mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Dengan memadukan inovasi produk, penguatan manajemen usaha, serta pelestarian budaya lokal, batik tidak hanya menjadi simbol identitas budaya, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Sumberagung secara berkelanjutan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?