Banner Iklan

Toga, Integritas, dan Pekerjaan Rumah yang Tertunda: Sebuah Refleksi Pasca-Sidang

Anis Hidayatie
10 Juni 2026 | 10.37 WIB Last Updated 2026-06-10T03:37:43Z


 Toga, Integritas, dan Pekerjaan Rumah yang Tertunda: Sebuah Refleksi Pasca-Sidang

Oleh: M Ubaidillah Abdi (Presiden Mahasiswa UNU Pasuruan, Koordinator Aliansi BEMPAS Raya)

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Ruang sidang skripsi baru saja saya tinggalkan. Ada kelegaan yang luar biasa ketika deretan pertanyaan dari dewan penguji akhirnya usai dijawab, dan kata lulus disematkan. Beban akademik sebagai mahasiswa tingkat akhir yang meneliti tentang implementasi nilai-nilai karakter akhirnya tuntas. Secara personal, ini adalah momen puncak yang membahagiakan; sebuah garis akhir dari rentetan panjang perkuliahan, revisi, dan bimbingan.

Namun, tepat di detik ketika euforia itu reda, ada realitas lain yang menampar kesadaran saya. Kaki ini mungkin sudah selangkah keluar dari gerbang kampus secara akademik, tetapi pundak ini masih memikul tanggung jawab besar sebagai Presiden Mahasiswa BEM UNU karena sampai per detik ini, tonggak ini masih belum menemukan sosok yang sah secara administratif. Di titik inilah, rasa bahagia itu seketika bercampur dengan melankolia dan gelisah.

Satu tahun lebih masa jabatan bukanlah waktu yang panjang, namun cukup untuk melihat secara telanjang anatomi permasalahan di dalam kampus. Ketika saya melihat kembali ke belakang, ke hari-hari di mana kita berupaya membangun kultur pergerakan bahkan merawat keberanian untuk mengorganisir demonstrasi pertama yang belum pernah ada sebelumnya di kampus ini ada kebanggaan tersendiri. Kita berhasil memaksa keadaan, mengawal kebijakan, hingga menghasilkan penandatanganan pakta integritas dari pihak rektorat.

Tetapi, apakah itu cukup? Jawabannya, ironisnya, adalah belum.

Hingga detik pasca-sidang ini, pekerjaan rumah kita masih berserakan. Fokus perbaikan stabilitas internal kampus masih berjalan tertatih. Upaya monitoring dan pendampingan kawan-kawan di tingkat Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) belum sepenuhnya mencapai titik ideal yang kita cita-citakan. Ruang-ruang dialektika dan kesejahteraan organisasi mahasiswa masih sering terbentur oleh birokrasi dan kebijakan yang kadang tidak sejalan dengan napas kebebasan akademik.

Di atas semua itu, ada satu isu krusial yang sampai detik ini masih terus kita bicarakan dan suarakan: minimnya transparansi dari pihak institusi. Ruang-ruang informasi kerap kali tertutup rapat, khususnya ketika menyangkut tata kelola finansial. Mulai dari kejelasan alokasi dana dari berbagai skema pembayaran mahasiswa, ketidakpastian turunnya anggaran untuk Organisasi Mahasiswa (Ormawa), hingga rincian pungutan-pungutan lainnya, semuanya kerap dieksekusi tanpa adanya transparansi yang jelas dan pelibatan yang memadai. Ketiadaan keterbukaan inilah yang memicu tanda tanya besar tentang akuntabilitas tata kelola kampus, sekaligus menjadi akar dari tergerusnya rasa saling percaya antara mahasiswa dan pemangku kebijakan.

Saya menyadari bahwa perubahan struktural dan kultural tidak bisa diselesaikan seperti membalik telapak tangan, atau sesingkat menyelesaikan draf skripsi. Kampus adalah ekosistem yang kompleks. Pergerakan mahasiswa bukanlah proyek satu malam; ia adalah lari estafet.

Rasa sedih yang saya rasakan pasca-sidang ini adalah bentuk rasa bersalah seorang pemimpin yang menyadari batas waktunya hampir habis, sementara medan juangnya masih menuntut banyak hal. Ada kekhawatiran: Akankah pakta integritas yang sudah diperjuangkan itu benar-benar dikawal? Akankah stabilitas HMP dan UKM terus menjadi prioritas ke depan? Dan mampukah kita mendesak keterbukaan yang nyata dari birokrasi?

Pada akhirnya, saya harus menerima dualisme perasaan ini sebagai sebuah kewajaran. Kebahagiaan lulus sidang adalah hak personal saya sebagai M. Ubaidillah Abdi, mahasiswa pasuruan. Namun, kesedihan atas masalah yang belum usai adalah tanggung jawab moral saya sebagai Presiden Mahasiswa.

Satu hal yang pasti, perjuangan merawat akal sehat dan menuntut akuntabilitas di UNU sudah memiliki fondasinya. Saya mungkin akan segera menanggalkan almamater ini, namun gagasan, sikap, dan pergerakan yang telah kita bangun bersama harus terus hidup dan membesar di tangan generasi selanjutnya. ANS


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Toga, Integritas, dan Pekerjaan Rumah yang Tertunda: Sebuah Refleksi Pasca-Sidang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now