MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menembus level Rp18.042 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (4/6/2026) memunculkan berbagai respons dari kalangan pelaku ekonomi dan pengambil kebijakan. Meski menjadi titik terendah dalam sejarah, sejumlah pihak menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi tekanan ekonomi global dibandingkan faktor fundamental ekonomi nasional.
Pada hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga kembali terkoreksi ke level 5.839 atau turun 101 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara sejak awal tahun 2026, pasar domestik terus menghadapi tekanan akibat arus keluar modal asing, penguatan dolar AS, serta ketidakpastian ekonomi global.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyebut pelemahan rupiah saat ini "tidak masuk akal" apabila melihat kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih relatif aman.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kota Malang Komisi B sekaligus DPD PKS Bidang Ekonomi Kreatif, Dr. H. Indra Permana, SE., ME., mengakui bahwa pelemahan rupiah hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS akan memberikan dampak nyata terhadap dunia usaha, khususnya sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.
"Sebagai anggota DPRD yang membidangi ekonomi sekaligus pelaku usaha, saya memahami bahwa kondisi ini akan memberikan tekanan nyata bagi dunia usaha. Terutama usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor. Contohnya pedagang bakso yang menggunakan daging impor dari Australia. Otomatis harga pokok produksinya akan ikut terpengaruh," ujar politisi yang biasa disapa Kaji Indra ini.
Namun demikian, Kaji Indra menilai situasi tersebut tidak boleh hanya dilihat sebagai ancaman. Menurutnya, pelemahan rupiah justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian ekonomi daerah dan meningkatkan daya saing produk lokal.
"Saya melihat di balik tantangan ini terdapat peluang besar untuk memperkuat kemandirian ekonomi daerah. Kota Malang harus berani memperkuat penggunaan produk lokal, memperluas pasar UMKM, serta meningkatkan sektor industri kreatif, pendidikan, dan pariwisata yang selama ini menjadi keunggulan daerah," katanya.
Menurut Kaji Indra, Pemerintah Kota Malang perlu segera menyusun langkah-langkah mitigasi ekonomi daerah guna mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat. Salah satu langkah penting adalah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan memberikan dukungan nyata kepada para pelaku usaha kecil dan menengah.
"Saya mendorong Pemerintah Kota Malang untuk segera menyiapkan strategi mitigasi ekonomi daerah. Fokusnya adalah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta memberikan dukungan nyata kepada UMKM agar tetap tumbuh dan berkembang di tengah tantangan ekonomi global," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan ekonomi suatu daerah tidak semata-mata ditentukan oleh nilai tukar mata uang, melainkan oleh kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam menjaga produktivitas ekonomi.
"Ekonomi yang kuat bukan hanya ditentukan oleh nilai tukar rupiah. Yang lebih penting adalah kemampuan kita menjaga produktivitas, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memastikan roda usaha tetap bergerak. Jika itu bisa dilakukan, maka masyarakat akan tetap memiliki daya tahan menghadapi situasi apa pun," jelasnya.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, Kaji Indra mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap optimistis dan terus bekerja sama membangun ekonomi daerah. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik.
"Saya tetap optimistis. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat, dan media yang terus menyampaikan informasi secara positif dan konstruktif, optimisme itu bisa terus tumbuh. Saya yakin Kota Malang tetap mampu bersaing dan berkembang," ujarnya.
Lebih lanjut, Kaji Indra menegaskan bahwa Pemerintah Kota Malang harus menjadikan penguatan UMKM sebagai prioritas utama dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
"Fokus pemerintah kota harus membantu menumbuhkan UMKM. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, tugas kita bukan mengeluh, tetapi bergerak, berusaha, dan bertahan. Pemerintah juga harus terus membuka lapangan kerja seluas-luasnya agar masyarakat tetap memiliki peluang untuk berkembang," ucapnya.
Sejumlah pengamat menilai bahwa pelemahan rupiah saat ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Penguatan dolar AS juga menekan banyak mata uang negara berkembang lainnya. Karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan ketahanan ekonomi nasional.
Dengan fundamental ekonomi yang masih relatif kuat serta dukungan berbagai pihak dalam menjaga produktivitas daerah, optimisme terhadap kemampuan Indonesia dan Kota Malang menghadapi tekanan ekonomi global dinilai tetap terjaga. Ans



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?