![]() |
| Deklarasi Pesantrenku Aman dilakukan RMI PBNU dan SAKA Pesantren untuk merespons maraknya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan agama./dok.istimewa |
PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM - Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) mengandeng Satuan Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren untuk merespons maraknya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan keagamaan.
Kedua organisasi ini kemudian menggelar Halaqah Syuriah NU dan Pengasuh Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Al-Yasini, Pasuruan, hari ini (2/6).
Acara yang bertepatan dengan 16 Zulhijah 1447 H ini menjadi bagian dari roadshow panjang bertajuk Gerakan Pesantrenku Aman.
Forum ini dirancang sebagai ajang silaturahim, musyawarah, dan tasawur (sumbang saran) antar-pengasuh pesantren guna merumuskan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem pesantren yang aman dan ramah santri.
Respons Lonjakan Kasus
Ketua Satgas SAKA Pesantren, Gus Ulun Nuha, menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah agenda yang muncul secara tiba-tiba karena kepanikan sesaat. SAKA sudah bergerak mengawal isu ini sejak 2024 silam.
"Giat ini sudah kami lakukan sejak 2024. Namun, melihat akhir-akhir ini intensitas dan maraknya kasus kekerasan di lingkungan pesantren cukup menyita perhatian, maka tensi dan intensitas gerakan ini sengaja kami tingkatkan," ujar Gus Ulun Nuha pada rilis yang diterima Selasa (2/6).
Sebagai langkah konkret, gerakan ini tidak hanya mengumpulkan para tokoh di meja runding. SAKA Pesantren memulai langkahnya dari akar rumput melalui program pendampingan intensif yang menyasar langsung tiga elemen kunci pesantren.
Pertama, kepada Santri: Edukasi mengenai hak anak dan perlindungan diri.
Kedua, kepada Ustaz/Guru: Pembekalan metode pengajaran persuasif non-kekerasan.
Ketiga, kepada Pengasuh: Penguatan manajemen pengawasan internal pondok.
Gus Yahya Dorong Standardisasi Profesional
Pada sambutannya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf memberikan catatan kritis sekaligus refleksi mendalam terkait potret pesantren masa kini.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Yahya tersebut, ada tantangan besar yang dihadapi dunia pesantren modern terkait spiritualitas dan kompetensi pengasuh.
"Pesantren-pesantren zaman dulu itu diasuh oleh ulama-ulama yang muklis (ikhlas), yang memiliki riyadlah (tirakat) spiritual yang sangat tinggi. Kehati-hatian para ulama terdahulu itulah yang membuat pesantren melahirkan generasi-generasi unggul," tutur Gus Yahya.
Gus Yahya tidak menampik bahwa realitas saat ini menunjukkan pergeseran. Banyak pengasuh pesantren era sekarang yang secara kapasitas spiritual dan kehati-hatiannya belum menyamai para pendahulu.
Ini membuat Gus Yahya menginstruksikan RMI NU untuk segera melakukan langkah mitigasi risiko melalui rasionalisasi cara pengelolaan pesantren.
"RMI harus mulai membangun standar pesantren yang profesional. Mulai dari standarisasi kelayakan bangunan fisik hingga sistem tata kelolanya. Ini penting sebagai mitigasi agar kasus-kasus negatif tidak kembali terulang di lingkungan pesantren," tegasnya.
Halaqah di Pasuruan ini diharapkan mampu menghasilkan cetak biru (blueprint) regulasi internal yang bisa diterapkan di seluruh pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama, demi mengembalikan marwah pesantren sebagai tempat paling aman untuk menuntut ilmu.
Giat diakhiri dengan deklarasi 'Pesantrenku Aman' yang dibacakan oleh KH Wafiyul Ahdi, Gus Munif Syafaat, Gus Ulun Nuha, Gus Nasih Aschal, dan KH Hodri.
Dokumentasi kegiatan (istimewa):
***
Editor: YAN






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?