Tahun 2026 menjadi salah satu tahun yang berkesan bagi Nayla. Di saat waktunya banyak tersita untuk penelitian dan penyusunan skripsi, ia berhasil menjadi penulis terpilih dalam event Pantun ASEAN yang melibatkan peserta dari 10 negara. Karya yang ditulisnya terpilih untuk dibukukan bersama karya para penulis lainnya.
Tak berhenti sampai di situ, pada April 2026 lalu Nayla juga turut ambil bagian dalam event kepenulisan cerpen antikorupsi bersama KPK yang berhasil mencatatkan rekor MURI. Saat ini, ia juga tengah menunggu hasil dari event kepenulisan bertema Kartini yang kembali diikutinya.
Di balik berbagai pencapaian tersebut, Nayla mengaku bahwa menjalani skripsi dan aktivitas kepenulisan secara bersamaan bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya rasa lelah datang bersamaan dengan tuntutan akademik yang semakin besar menjelang kelulusan.
“Kalau ditanya apakah skripsian tidak pusing? Tentu saja sangat pusing. Tapi saya selalu memaksa diri saya untuk tetap menulis secara konsisten, meski keadaan pikiran sedang tidak baik-baik saja. Karena dari tulisan inilah saya merasa diri saya berguna,” ujarnya.
Bagi Nayla, menulis bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Menulis telah menjadi ruang untuk bertumbuh, belajar, sekaligus menjaga semangat di tengah tekanan yang datang selama menjadi mahasiswa tingkat akhir.
Selain aktif dalam dunia kepenulisan, Nayla saat ini juga tengah menyelesaikan penelitian skripsi mengenai pengembangan media pembelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang sekolah dasar sederajat. Penelitian tersebut bertujuan menghadirkan media pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami siswa.
Menariknya, media pembelajaran yang dikembangkannya telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dengan demikian, media tersebut tidak hanya menjadi bagian dari penelitian akademik, tetapi juga memiliki legalitas resmi dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk jenjang pendidikan lainnya.
“Saya ingin apa yang saya kerjakan bukan hanya selesai untuk sidang, tetapi juga bisa dipakai dan dikembangkan lagi. Karena bagi saya, karya yang hidup adalah karya yang tetap memberi manfaat setelah proses panjang itu selesai,” katanya.
Perjalanan Nayla hingga berada di titik ini tidak terjadi secara instan. Sejak awal perkuliahan, ia aktif mengembangkan diri melalui organisasi dan berbagai komunitas. Pada semester 4, ia terpilih sebagai peserta Program Kampus Mengajar yang memberinya pengalaman langsung di dunia pendidikan. Sementara itu, sejak semester 5, ia mulai serius menekuni dunia kepenulisan hingga berhasil meraih berbagai pencapaian yang dirasakan saat ini.
Bagi Nayla, prestasi bukan hanya tentang menang atau kalah. Lebih dari itu, prestasi adalah tentang keberanian untuk terus mencoba ketika kesempatan belum berpihak dan tentang kesediaan untuk terus belajar ketika hasil belum sesuai harapan.
Kisah Nayla menjadi bukti bahwa kesibukan menyelesaikan skripsi tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Di tengah revisi, penelitian, dan persiapan menuju kelulusan, masih ada ruang untuk berkarya, memberi manfaat, dan menorehkan prestasi. Sebab terkadang, pencapaian terbesar bukanlah ketika seseorang berhasil meraih penghargaan, melainkan ketika ia mampu terus melangkah meski berkali-kali dihadapkan pada alasan untuk menyerah.
Penulis: Angelina Syarifah A.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?