Banner Iklan

Pergeseran Minat Mahasiswa Universitas Brawijaya dari Tari Tradisional ke Modern Dance

Admin JSN
04 Juni 2026 | 15.28 WIB Last Updated 2026-06-04T08:28:51Z
Pergeseran Minat Mahasiswa Universitas Brawijaya dari Tari Tradisional ke Modern Dance, artikel dari Amelia Natasya Eka Putri./ilustrasi:chatGPT

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Pada era digital yang serba cepat, layar gawai telah menjadi panggung baru bagi seni pertunjukan. TikTok, Instagram, dan YouTube menyajikan ribuan konten tarian setiap harinya, dan mayoritas yang viral adalah modern dance.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius, apakah generasi mahasiswa saat ini masih memiliki tempat bagi tari tradisional, atau justru semakin meninggalkannya demi mengikuti arus tren global?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar soal selera estetika, melainkan menyentuh isu yang lebih dalam, yaitu identitas budaya bangsa.

Indonesia dikenal memiliki ratusan jenis tarian tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun, ketika panggung kampus semakin didominasi oleh dance cover K-pop dan hip-hop performance, tari tradisional perlahan mulai tergeser dari pusat perhatian.

Melalui wawancara dengan beberapa mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), artikel ini mencoba menelaah fenomena tersebut, bukan untuk memihak salah satu sisi, melainkan untuk memahami akar persoalannya dan melihat kemungkinan keduanya dapat berkembang secara berdampingan.

Modern Dance dan Daya Tarik Era Digital

Tidak dapat dipungkiri bahwa modern dance memiliki daya tarik yang kuat di kalangan mahasiswa masa kini. Zulfikar, mahasiswa Ekonomi Pembangunan UB angkatan 2025, mengungkapkan bahwa ia tertarik pada modern dance karena gerakannya yang lebih bebas, energik, dan mengikuti tren anak muda. Menurutnya, banyak mahasiswa mulai tertarik setelah melihat dance cover, challenge TikTok, atau penampilan dancer di Instagram dan YouTube.

Pendapat serupa disampaikan oleh Nailah Maheswari, mahasiswi Administrasi Publik UB 2025. Ia menilai bahwa media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar karena platform digital membuat modern dance lebih mudah dikenal, dipelajari, dan diikuti mahasiswa. Modern dance menawarkan aksesibilitas yang tinggi karena siapapun dapat belajar melalui video tutorial kapan saja dan di mana saja.

Dari sudut pandang penulis, daya tarik modern dance sebenarnya bukan hanya karena tren semata. Modern dance menawarkan pengalaman yang lebih fleksibel dan partisipatif. Gerakannya tidak terlalu terikat pakem, musik yang digunakan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa, dan ekosistem digital mendukung penyebarannya secara cepat. Hal ini membuat modern dance terasa lebih inklusif bagi generasi muda.

Namun, kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan lain: apakah tari tradisional benar-benar eksklusif, atau justru belum mendapatkan wadah dan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman?

Tari Tradisional: Tenggelam atau Bertransformasi?

Di sisi lain, tari tradisional sebenarnya belum sepenuhnya kehilangan tempat di lingkungan kampus. Sabita Sabina, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Seni (SSM) Universitas Brawijaya, memberikan perspektif yang lebih optimistis. Meskipun ia juga menguasai tari modern, ia memilih mendalami tari tradisional karena nilai filosofis dan makna mendalam yang terkandung dalam setiap gerakannya. Menurutnya, tari tradisional dan modern masih sama-sama memiliki peminat di lingkungan kampus.

Pandangan serupa disampaikan oleh Zahra Faulisa, mahasiswi Perpajakan UB 2025 yang aktif dalam organisasi tari tradisional. Ia meyakini bahwa tari tradisional masih memiliki ruang yang cukup besar dalam berbagai acara formal kampus, seperti pentas seni, wisuda, penyambutan tamu, dan festival budaya.

"Universitas perlu terus memberikan panggung bagi seni lokal dan mendorong mahasiswa menciptakan konten kreatif guna melestarikan budaya di era digital," — Zahra Faulisa, Mahasiswi Perpajakan UB 2025

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tari tradisional sebenarnya tidak sepenuhnya kalah. Tari tradisional hanya hadir di ruang yang berbeda. Ketidakhadirannya dalam tren viral media sosial bukan berarti seni tersebut punah, melainkan belum menemukan format digital yang tepat untuk menjangkau generasi muda secara luas.

Pergeseran Minat atau Pergeseran Visibilitas?

Berdasarkan hasil wawancara, terdapat perbedaan perspektif yang cukup menarik. Mahasiswa yang lebih dekat dengan budaya populer cenderung melihat adanya pergeseran minat dari tari tradisional menuju modern dance. Sementara itu, mahasiswa yang aktif di komunitas seni tradisional cenderung memandang keduanya sebagai bentuk seni yang dapat hidup berdampingan, bukan saling menggantikan.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa fenomena yang terjadi mungkin bukan sepenuhnya pergeseran minat, melainkan pergeseran visibilitas. Tari tradisional masih dipelajari dan ditampilkan, tetapi tidak sepopuler modern dance di media sosial. Dalam logika algoritma digital, sesuatu yang tidak viral sering kali dianggap tidak relevan. Akibatnya, perhatian publik lebih mudah tertuju pada konten yang cepat tersebar dan mengikuti tren global.

Penulis berpendapat bahwa masalah utama sebenarnya terletak pada kurangnya eksposur dan akses terhadap tari tradisional. Mahasiswa yang belum mengenal tari tradisional bukan berarti menolaknya, melainkan belum memiliki cukup kesempatan untuk memahami dan terlibat di dalamnya. Hal ini terlihat dari pengakuan Zulfikar yang pernah mengikuti tari tradisional dalam acara fakultas karena ingin menambah pengalaman dan mengenal budaya daerah.

Tantangan Pelestarian Budaya di Kalangan Generasi Muda

Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan yang lebih besar mengenai masa depan pelestarian budaya. Jika generasi mahasiswa saat ini tumbuh tanpa ikatan yang kuat dengan tari tradisional, maka kesenian daerah berisiko kehilangan regenerasi.

Nailah Maheswari mengakui bahwa pergeseran perhatian menuju modern dance dapat mempersulit pelestarian tari tradisional apabila tidak diimbangi dengan upaya khusus. Kekhawatiran tersebut cukup beralasan karena saat ini banyak tari daerah hanya tampil dalam kegiatan seremonial atau bertahan di sanggar-sanggar kecil.

Padahal, tari bukan sekadar hiburan. Tari merupakan media transmisi nilai, sejarah, identitas, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika sebuah tarian dilupakan, maka sebagian cara masyarakat memahami budaya dan kehidupannya juga perlahan ikut menghilang.

Mencari Titik Seimbang antara Tradisi dan Modernitas

Meskipun demikian, para narasumber sepakat bahwa solusi terbaik bukanlah memilih salah satu, melainkan menemukan cara agar tari tradisional dan modern dance dapat berkembang bersama secara sehat.

Pertama, diperlukan inovasi dalam pengemasan tari tradisional tanpa menghilangkan nilai aslinya. Sabita Sabina menekankan pentingnya pagelaran seni yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kolaborasi antara unsur tradisional dengan sentuhan modern, seperti penggunaan musik kontemporer atau visual digital, dapat menjadi salah satu strategi untuk menarik perhatian generasi muda.

Kedua, media sosial perlu dimanfaatkan sebagai alat pelestarian budaya. Jika modern dance mampu berkembang melalui TikTok dan Instagram, maka tari tradisional juga memiliki peluang yang sama. Keunikan kostum, filosofi gerakan, hingga proses latihan dapat dikemas menjadi konten kreatif yang menarik dan edukatif.

Ketiga, kampus perlu memperkuat ekosistem seni budaya melalui festival budaya, workshop tari tradisional, lomba seni daerah, dan dukungan terhadap komunitas kesenian mahasiswa. Kehadiran ruang ekspresi yang konsisten akan membantu mahasiswa lebih dekat dengan budaya lokal.

Menurut penulis, keseimbangan antara modern dance dan tari tradisional bukanlah sesuatu yang mustahil. Modern dance mengajarkan kreativitas, adaptasi, dan inovasi, sementara tari tradisional mengajarkan identitas, nilai budaya, dan akar sejarah. Mahasiswa yang mampu memahami keduanya akan tumbuh menjadi individu yang kreatif sekaligus memiliki kesadaran budaya yang kuat.

Daftar Pustaka
Zulfikar Y. (25 Februari 2025). Wawancara langsung Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Universitas Brawijaya. Topik: Perspektif Mahasiswa Modern Dance terhadap Tari Tradisional.
Sabita Sabina. (2025). Wawancara langsung Perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa Seni (SSM), Universitas Brawijaya. Topik: Perspektif Pelaku Tari Tradisional di Kampus.
Zahra Faulisa. (2025). Wawancara langsung Mahasiswi Perpajakan, Universitas Brawijaya. Topik: Minat dan Motivasi Pelestarian Tari Tradisional.
Nailah Maheswari. (2025). Wawancara langsung Mahasiswi Administrasi Publik Universitas Brawijaya. Topik: Perspektif Mahasiswa Umum terhadap Modern Dance dan Tari Tradisional
.

Referensi Pendukung
Heryanto, A. (2008). Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics. London: Routledge.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2023). Pelestarian Seni Tari Tradisional Indonesia. Jakarta: Kemendikbudristek.
Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Usman, S. (2018). Dinamika Kebudayaan dan Problem Identitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
.

***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pergeseran Minat Mahasiswa Universitas Brawijaya dari Tari Tradisional ke Modern Dance

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now