![]() |
| Antuasiasme para pegiat budaya dan peserta Sinau Bareng Sesuluh Part 2 Kupas tuntas Perjuangan Untung Suropati dalam Tema Pasuruan Bumi Suropati |
PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM
Semangat pelestarian sejarah dan budaya lokal terus tumbuh di tengah masyarakat Kota Pasuruan. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Sinau Bareng Sesuluh Part 2 yang mengangkat tema “Pasuruan Bumi Suropati”, hasil sinergi para pegiat budaya bersama Ketua Sesuluh dan pemerhati sejarah dari berbagai bidang serta aspek kebudayaan.
Kegiatan yang berlangsung di teras Gedung Harmonie, Jalan Pahlawan Nomor 21, Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Jumat malam (26/6/2026) pukul 19.00 WIB hingga selesai tersebut menjadi wadah diskusi, edukasi, dan literasi sejarah yang menghadirkan berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap pelestarian warisan budaya daerah.
Suasana malam itu terasa hangat dan penuh antusiasme. Para peserta yang terdiri dari pegiat budaya, komunitas sejarah, mahasiswa, pegiat literasi, anggota KIM, hingga masyarakat umum tampak serius mengikuti setiap pemaparan yang disampaikan para narasumber. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang belajar bersama, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat identitas sejarah Pasuruan yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penting dalam perjalanan sejarah Nusantara.
Hadir sebagai narasumber mahasiswa Sejarah dari Universitas Surabaya yang menyampaikan kajian mengenai perjalanan sejarah Untung Suropati dan pengaruhnya terhadap perkembangan Pasuruan pada akhir abad ke-17. Selain itu, hadir pula Ahmad Budiman selaku Ketua Sesuluh yang memberikan berbagai pandangan mengenai pentingnya menjaga sejarah sebagai bagian dari jati diri masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, Siti Rochanah. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap gerakan literasi sejarah yang terus berkembang di Kota Pasuruan. Menurutnya, sejarah lokal memiliki nilai penting sebagai sumber pembelajaran sekaligus sarana membangun karakter generasi muda agar lebih mengenal daerahnya sendiri.
Dalam kegiatan tersebut juga tampak hadir perwakilan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Bugul Kidul, Bunda Yuntari. Kehadiran KIM Bugul Kidul menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah di masyarakat melalui penyebarluasan informasi yang edukatif dan bermanfaat.
Pada kesempatan itu, peserta diajak mengulas lebih dalam perjalanan hidup pahlawan nasional Untung Suropati melalui materi bertajuk “Untung Suropati, Benteng Pertahanan Terakhir Pasuruan.” Materi tersebut menjadi salah satu bahasan utama yang menarik perhatian peserta karena mengungkap berbagai fakta sejarah mengenai sosok yang dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan VOC.
Dalam pemaparan dijelaskan bahwa Untung Suropati lahir dengan nama Surowiroaji dan berasal dari Bali. Masa mudanya diwarnai berbagai pengalaman pahit. Ia diperjualbelikan sebagai budak dan berpindah dari satu pemilik ke pemilik lainnya. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya meninggalkan Bali menuju Makassar sebelum akhirnya tiba di Batavia yang saat itu menjadi pusat pemerintahan VOC di Hindia Belanda.
Di Batavia, Surowiroaji mendapatkan nama baru, yakni Untung. Nama tersebut melekat ketika dirinya menjadi pelayan di lingkungan perwira VOC. Meski menjalani kehidupan sebagai pelayan, Untung dikenal memiliki kecerdasan, keberanian, dan kemampuan yang menonjol. Sifat tersebut kemudian membawanya pada berbagai konflik dengan pihak VOC hingga akhirnya ia menjadi buronan pemerintah kolonial.
Setelah meninggalkan Batavia, Untung bersama sejumlah pengikutnya bergerak menuju Cirebon untuk mencari dukungan politik dan militer. Di wilayah tersebut, perjuangannya mulai mendapatkan perhatian berbagai pihak. Berbagai peristiwa penting yang terjadi selama perjalanan tersebut kemudian mengangkat namanya menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan dalam percaturan politik dan militer Nusantara saat itu.
Perjalanan Untung Suropati berlanjut menuju Kartasura yang menjadi pusat Kerajaan Mataram. Di sinilah pengaruh dan namanya semakin besar. Berbagai peristiwa penting yang melibatkan dirinya menjadikan Untung sebagai sosok yang disegani sekaligus ditakuti oleh VOC.
Salah satu peristiwa yang paling terkenal adalah konflik yang berujung pada terbunuhnya Kapten François Tack, seorang perwira VOC yang ditugaskan untuk menangkap Untung Suropati. Peristiwa tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah karena sejak saat itu VOC menempatkan Untung Suropati sebagai salah satu musuh utama mereka di Pulau Jawa.
Setelah berbagai peristiwa tersebut, Untung Suropati memperoleh mandat untuk memimpin wilayah Pasuruan. Bersama Patih Nerangkusuma dan sejumlah tokoh penting lainnya, ia bergerak menuju Jawa Timur untuk membangun pusat pemerintahan yang kuat dan mandiri.
Dalam perjalanan menuju Pasuruan, rombongan Untung Suropati melewati berbagai wilayah strategis dan memperoleh dukungan dari para adipati di kawasan timur Pulau Jawa. Dukungan tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat posisi Pasuruan sebagai wilayah yang mampu berdiri sendiri menghadapi tekanan VOC.
Sebelum menetapkan pusat kekuasaan, para pemimpin daerah berkumpul di Malang untuk membahas lokasi ibu kota yang paling tepat. Hasil musyawarah tersebut menetapkan Kutha Maron sebagai pusat pemerintahan baru. Nama Kutha Maron kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah pemerintahan Untung Suropati di Pasuruan.
Pada masa pemerintahannya yang berlangsung antara tahun 1686 hingga 1706, Pasuruan berkembang menjadi wilayah yang aman, makmur, dan tertata dengan baik. Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa kota ini memiliki alun-alun yang luas, benteng pertahanan yang kokoh, sumber air yang melimpah, serta jumlah penduduk yang cukup besar.
Kemakmuran Pasuruan pada masa itu juga terlihat dari kondisi lingkungan yang indah dan asri. Berbagai catatan sejarah menggambarkan Pasuruan sebagai daerah yang dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh subur di berbagai sudut wilayah. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Pasuruan bukan hanya kuat secara militer, tetapi juga berkembang sebagai pusat kehidupan masyarakat yang maju.
Selain membangun pemerintahan yang kuat, Untung Suropati juga menyusun struktur pemerintahan dan militer yang solid. Sejumlah tokoh terpercaya ditempatkan pada jabatan strategis sebagai panglima perang, patih, maupun penguasa wilayah. Langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam mempertahankan Pasuruan dari berbagai ancaman yang datang dari VOC.
Puncak perjuangan Untung Suropati terjadi ketika VOC melancarkan ekspedisi militer besar-besaran untuk menghancurkan kekuatan Pasuruan. Pertempuran sengit pun terjadi di kawasan Bangil antara pasukan VOC dengan gabungan pasukan Untung Suropati dan para sekutunya.
Dalam pertempuran tersebut, Untung Suropati dikenal bertempur dengan gagah berani. Ia memimpin langsung pasukannya menghadapi serangan VOC dan berhasil memberikan perlawanan yang sangat kuat. Bahkan dalam salah satu pertempuran, ia berhasil menewaskan seorang perwira VOC yang menjadi bagian dari ekspedisi tersebut.
Perjuangan Untung Suropati menjadikan Pasuruan sebagai benteng terakhir perlawanan terhadap dominasi VOC di kawasan timur Pulau Jawa. Semangat juang, keberanian, serta kepemimpinannya menjadikan sosok Untung Suropati dikenang hingga kini sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjuangan bangsa.
Melalui kegiatan Sinau Bareng Sesuluh Part 2 ini, para peserta diajak untuk memahami bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang dapat menjadi bekal dalam membangun masa depan. Kisah perjuangan Untung Suropati menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap tanah air, keberanian menghadapi tantangan, serta semangat mempertahankan kedaulatan bangsa merupakan nilai-nilai luhur yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
Para pegiat budaya berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal dan mencintai sejarah daerahnya sendiri. Dengan demikian, semangat “Pasuruan Bumi Suropati” akan terus hidup sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Pasuruan.(SM)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?