![]() |
| Menjadi Seseorang yang Bernilai, Bukan Sekadar Berhasil, artikel opini karya Miftahul Huda./dok.istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Menjadi Seseorang yang Bernilai, Bukan Sekadar Berhasil
Oleh: Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H (Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)
Di tengah euforia kelulusan, banyak orang memandang gelar akademik sebagai garis akhir dari sebuah perjuangan panjang. Padahal, sesungguhnya kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari babak kehidupan yang baru.
Yudisium, wisuda, dan gelar yang tersemat di belakang nama bukan sekadar simbol keberhasilan akademik, tetapi juga penanda lahirnya tanggung jawab yang lebih besar kepada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Perjalanan menuju titik ini tentu tidak mudah. Ada malam-malam panjang yang dihabiskan untuk menyelesaikan tugas akhir, ada rasa lelah yang sering kali disembunyikan di balik senyuman, dan ada doa-doa yang tak pernah putus dipanjatkan oleh orang tua.
Setiap lembar skripsi, tesis, maupun disertasi yang berhasil diselesaikan menyimpan cerita tentang ketekunan, pengorbanan, dan harapan. Karena itu, kelulusan bukan hanya milik mahasiswa semata, tetapi juga milik mereka yang selama ini hadir dalam diam, mendukung tanpa syarat, dan percaya bahwa pendidikan akan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Namun, di tengah perayaan tersebut ada satu pertanyaan penting yang patut direnungkan, apakah tujuan pendidikan hanya untuk menjadi orang yang berhasil?
Selama ini, keberhasilan sering kali diukur dengan angka. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), besaran gaji pertama, jabatan yang diraih, atau seberapa cepat seseorang mendapatkan pekerjaan setelah lulus kerap dijadikan indikator utama kesuksesan.
Tidak ada yang salah dengan pencapaian-pencapaian tersebut. Akan tetapi, jika keberhasilan hanya dimaknai sebatas angka dan posisi, maka kita sedang menyederhanakan makna pendidikan yang sesungguhnya.
Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas secara akademik. Dunia membutuhkan pribadi yang memiliki karakter, integritas, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Kemampuan berpikir kritis memang penting, tetapi kemampuan untuk tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang jauh lebih berharga.
Kecakapan profesional memang dibutuhkan, tetapi kesediaan untuk membantu orang lain dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar adalah nilai yang tidak kalah penting.
Dalam kenyataannya, banyak orang yang berhasil secara karier tetapi gagal menjaga nilai-nilai kemanusiaannya. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang mungkin tidak dikenal luas atau tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi kehadirannya membawa dampak positif bagi banyak orang.
Mereka menjadi sumber inspirasi, menghadirkan solusi, dan meninggalkan jejak kebaikan yang terus dikenang. Di sinilah letak perbedaan antara menjadi orang yang berhasil dan menjadi orang yang bernilai.
Setelah meninggalkan bangku kuliah, para lulusan akan memasuki kehidupan yang jauh lebih kompleks daripada ruang kelas. Tidak semua rencana akan berjalan sesuai harapan. Akan ada pintu yang tertutup ketika kita berharap terbuka. Akan ada lamaran pekerjaan yang ditolak, usaha yang gagal, dan harapan yang tertunda. Pada fase inilah banyak orang mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri.
Padahal, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Kegagalan adalah bagian dari proses yang tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan. Setiap tantangan yang dihadapi sesungguhnya adalah ruang belajar yang membentuk kedewasaan dan ketangguhan. Tidak ada pribadi yang kuat tanpa pernah mengalami kesulitan. Tidak ada keberhasilan yang lahir tanpa proses panjang yang penuh perjuangan.
Karena itu, jangan pernah takut menghadapi rintangan. Jangan takut hanya karena sulit justru disitulah cerita hebatmu dimulai. Gagal itu hal yang biasa. Namun, memilih untuk bangkit setiap kali terjatuh adalah sesuatu yang luar biasa.
Kehidupan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, melainkan siapa yang mampu terus berjalan meskipun menghadapi berbagai hambatan. Ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar akan menjadi bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar sederet prestasi yang tertulis di atas kertas.
Gelar sarjana, magister, maupun doktor yang diperoleh hari ini bukanlah mahkota yang menempatkan seseorang di atas orang lain. Gelar adalah amanah. Ia merupakan alat yang seharusnya digunakan untuk membuka jalan pengabdian yang lebih luas. Ilmu pengetahuan yang dimiliki akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti untuk kepentingan diri sendiri.
Masyarakat saat ini menghadapi begitu banyak persoalan yang membutuhkan kontribusi generasi terdidik. Mulai dari persoalan pendidikan, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, hingga tantangan perkembangan teknologi.
Setiap lulusan memiliki kesempatan untuk mengambil peran, sekecil apa pun bentuknya. Tidak semua orang harus menjadi pemimpin besar atau tokoh terkenal. Terkadang, perubahan justru dimulai dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Oleh karena itu, ketika melangkah keluar dari gerbang kampus, jangan hanya bertanya, "Apa yang bisa saya dapatkan dari dunia?"
Tetapi tanyakan pula, "Apa yang bisa saya berikan untuk dunia?" Pertanyaan itulah yang akan membedakan antara mereka yang hanya mengejar kesuksesan dan mereka yang berupaya menghadirkan kebermanfaatan.
Hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita melangkah, tetapi juga tentang seberapa banyak orang yang merasakan manfaat dari langkah tersebut. Sebab, keberhasilan mungkin akan membuat seseorang dikenal, tetapi kebermanfaatan akan membuatnya dikenang.
Menjadi berhasil adalah sebuah pencapaian. Namun, menjadi seseorang yang bernilai adalah warisan yang akan terus hidup bahkan ketika nama kita tak lagi disebut. Karena itu, setelah semua perjuangan yang telah dilalui, jangan hanya bercita-cita menjadi orang yang sukses.
Jadilah pribadi yang bernilai, yang mengubah ilmu menjadi tindakan, pengetahuan menjadi solusi, dan keberhasilan menjadi kebermanfaatan. Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang sukses, tetapi lebih membutuhkan orang-orang yang mampu memberi arti bagi kehidupan orang lain. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?