SPPG Bareng disuplai KDMP Selorejo Dau. MBG dan Koperasi Merah Putih Jadi Motor Ekonomi Petani Untung Gizi Anak Terjamin
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah, tetapi juga terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian rakyat hingga ke tingkat desa. Melalui sinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), program unggulan pemerintah ini membuka pasar baru bagi hasil pertanian lokal, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan.
Sugiarto ( jaket kuning )Sugiarto, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan menegaskan bahwa MBG dan KDMP merupakan program strategis nasional yang memiliki dampak ekonomi berantai bagi masyarakat. Kehadiran kedua program tersebut dinilai mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berbasis potensi lokal.
Sugiarto menjelaskan bahwa berbagai kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah tidak berarti mengurangi dukungan terhadap program-program yang menyentuh langsung masyarakat.
“Efisiensi itu bukan mengurangi anggaran, tetapi mengalihkan pada program prioritas yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat. KDMP dan MBG ini akan menggerakkan ekonomi dari bawah, dari desa,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini banyak hasil pertanian rakyat yang kesulitan mendapatkan pasar dengan harga yang menguntungkan. Dengan adanya MBG yang membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan, petani memiliki kepastian pasar sekaligus peluang meningkatkan kesejahteraan.
“Ketika kebutuhan bahan pangan untuk MBG dipenuhi oleh petani lokal melalui koperasi desa, maka manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Hasil panen terserap, pendapatan meningkat, dan ekonomi desa ikut bergerak,” tambahnya.
Sementara itu di Malang kota Keberhasilan kolaborasi MBG dan KDMP terlihat nyata di Kota Malang. Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bareng, Kecamatan Klojen, menunjukkan perkembangan positif melalui kerja sama dengan KDMP Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Kerja sama tersebut bahkan mendapat apresiasi karena berjalan lancar tanpa adanya keluhan dari sekolah penerima manfaat atau zero complain sejak program dijalankan.
SPPG Bareng yang berlokasi di Jalan Ir. Rais Kota Malang kini memperoleh pasokan bahan pangan langsung dari petani melalui KDMP Selorejo. Skema ini mampu memangkas rantai distribusi sehingga petani memperoleh harga yang lebih baik dibandingkan harus menjual hasil panen melalui tengkulak.
Kepala SPPG Bareng, Rofi’u Rahmananda dari Yayasan Anak Sehat Bunda Bahagia, menyampaikan bahwa kualitas bahan pangan yang diterima sangat baik sehingga mendukung kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa.
“Jumlah sekolah penerima manfaat saat ini total 16 sekolah, dan alhamdulillah tidak ada yang mengembalikan atau mengeluhkan makanan. Ini menjadi indikator bahwa kualitas bahan dan pengolahan sudah sesuai standar,” ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, KDMP Selorejo memasok berbagai kebutuhan pangan mulai dari sayuran segar, buah jeruk, hingga bahan baku gula. Sistem yang diterapkan memungkinkan bahan pangan langsung dikirim dari petani ke dapur produksi MBG sehingga kualitas dan kesegarannya tetap terjaga.
Chef Gizi SPPG Bareng, Wahyu Siswo Putra Adi, menjelaskan bahwa menu yang disusun tidak hanya memperhatikan kecukupan gizi, tetapi juga selera anak-anak.
“Persoalan utama anak-anak sebenarnya tidak suka sayur. Maka kami juga melakukan edukasi dan mengombinasikan menu dengan susu UHT maupun susu pasteurisasi agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi,” jelasnya.
Selain jeruk, saat ini KDMP juga memasok berbagai komoditas lain seperti buncis, baby buncis, kacang polong, wortel, brokoli, dan bunga kol. Diversifikasi pasokan tersebut dilakukan untuk menjaga variasi menu sekaligus memastikan kandungan nutrisi yang diterima para siswa tetap seimbang.
Ketua KDMP Selorejo Dau, Decky Mahar Lesmana, menegaskan bahwa pihaknya menerapkan standar kualitas yang ketat dalam setiap pengiriman bahan pangan ke SPPG.
“Untuk pengiriman sayur biasanya sekitar 100 kilogram, sedangkan buah antara 1.550 hingga lebih dari 2.000 buah. Semua disesuaikan dengan kebutuhan harian SPPG,” ujarnya.
Menurut Decky, pengiriman dilakukan satu hingga dua kali dalam seminggu dengan proses seleksi kualitas yang ketat menggunakan standar Grade 9 hingga Grade 10.
“Kendala biasanya saat jeruk belum musim. Kami harus mencari dari beberapa lahan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sesuai standar kualitas yang diminta,” katanya.
Keberhasilan kolaborasi antara MBG dan KDMP menunjukkan bahwa program pemerintah tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga mampu menciptakan efek ekonomi yang luas.
Melalui pola kemitraan tersebut, petani mendapatkan kepastian pasar, koperasi desa memperoleh ruang usaha baru, distribusi pangan menjadi lebih efisien, dan anak-anak sekolah menerima makanan bergizi berkualitas.
Dengan demikian, manfaat MBG tidak hanya dirasakan di ruang kelas oleh para siswa, tetapi juga mengalir hingga ke lahan pertanian dan rumah-rumah warga desa. Program ini menjadi contoh bagaimana kebijakan sosial dapat sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi rakyat dari tingkat akar rumput menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?