Mahasiswa Unesa Deva, Alvin, Habib, Dani, Ava
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Wacana hibah motor listrik kepada guru honorer terus mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Kali ini, sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menilai pemanfaatan aset negara tersebut akan jauh lebih tepat sasaran jika diberikan kepada guru honorer dibandingkan dialokasikan untuk pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pendapat tersebut disampaikan saat rombongan mahasiswa melakukan kunjungan ke kota kecil Pujon Malang, Minggu (21/6/2026). Dalam diskusi santai, mereka menilai guru honorer merupakan kelompok yang lebih membutuhkan dukungan sarana transportasi untuk menunjang aktivitas mengajar.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Unesa, Jurusan Sosiologi, Dila Khulafaul Bakhriah yang akrab disapa Ava mengatakan, guru honorer selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk dari sisi kesejahteraan. Karena itu, pemberian motor listrik dinilai akan memberikan manfaat yang lebih besar.
"Pegawai SPPG kan sudah dapat gaji besar, jauh dibanding guru honorer yang hanya ratusan ribu. Di samping itu ada mobil operasional sehingga kebutuhan sepeda listrik tidak terlalu penting. Kalau guru honorer saya pikir akan lebih bermanfaat bagi mereka," ujar Ava.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya membantu mobilitas guru menuju sekolah, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan atas pengabdian mereka dalam dunia pendidikan.
Pandangan serupa disampaikan mahasiswa lainnya, yakni Dani Firdaus dari Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Habib Ainul Yaqin dari Jurusan Sosiologi, Alvin Putra dari Jurusan Administrasi, serta Farah Deva dari Jurusan Geografi. Mereka sepakat bahwa apabila motor listrik yang sebelumnya diadakan untuk Program Makan Bergizi Gratis tidak lagi digunakan sesuai rencana awal, maka penyalurannya kepada guru honorer merupakan pilihan yang lebih tepat.
Mereka menilai banyak guru honorer masih harus mengeluarkan biaya transportasi sendiri untuk menuju sekolah, bahkan sebagian bertugas di daerah yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Dengan adanya bantuan kendaraan, beban biaya perjalanan diharapkan dapat berkurang sehingga kesejahteraan guru honorer ikut meningkat.
Wacana hibah motor listrik kepada guru honorer sebelumnya juga mendapat dukungan dari Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini. Ia menyatakan aset negara yang telah dibeli menggunakan anggaran negara sebaiknya dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dukungan serupa juga disampaikan Kepala SMAN 2 Kota Malang, Eny Retno Diwati. Menurutnya, apabila kebijakan tersebut direalisasikan, motor listrik akan sangat membantu guru honorer dalam menekan biaya transportasi menuju tempat mengajar.
Dengan semakin banyaknya dukungan dari kalangan legislatif, praktisi pendidikan, hingga mahasiswa, wacana pemanfaatan motor listrik bagi guru honorer dinilai menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan. Selain menjaga agar aset negara tidak menganggur, kebijakan tersebut juga berpotensi menjadi bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan kesejahteraan guru honorer di berbagai daerah. Ans



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?