Banner Iklan

Gubernur Khofifah Apresiasi BBIB Singosari Malang, Optimistis Indonesia Swasembada Daging dalam Tiga Tahun

Anis Hidayatie
29 Juni 2026 | 17.36 WIB Last Updated 2026-06-29T10:36:56Z

 


Gubernur Khofifah Apresiasi BBIB Singosari Malang, Optimistis Indonesia Swasembada Daging dalam Tiga Tahun

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengapresiasi keberhasilan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang, dalam mengembangkan dan memproduksi semen beku sapi unggulan, mulai dari Wagyu, Belgian Blue, hingga berbagai rumpun ternak berkualitas lainnya yang menjadi modal penting menuju swasembada daging nasional.

Apresiasi tersebut disampaikan Khofifah saat melakukan kunjungan ke BBIB Singosari, Minggu (28/6/2026). Menurutnya, keberhasilan BBIB Singosari sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian RI merupakan aset strategis nasional dalam meningkatkan kualitas genetika ternak Indonesia.

“Keberadaan BBIB Singosari merupakan aset nasional yang memiliki peran sangat penting dalam mempercepat peningkatan populasi sekaligus kualitas genetik ternak di Indonesia,” kata Khofifah.

BBIB Singosari saat ini telah berhasil mengembangkan semen beku berbagai jenis sapi unggulan, di antaranya Belgian Blue, Wagyu, Limousin, Simmental, Angus, Brahman, Sapi Bali, Sapi Madura, Peranakan Ongole, hingga Friesian Holstein.

Menurut Khofifah, pengembangan sapi Belgian Blue menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Ia mengaku pertama kali mengenal sapi berotot ganda asal Belgia tersebut dari Duta Besar Belgia pada tahun 2018 di Surabaya. Kini, pengembangannya telah dilakukan di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Situbondo, Bondowoso, dan Jember.

“Pengembangan semen beku Belgian Blue sudah berjalan dan peternaknya ada di Mojokerto, Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Ini bisa diperluas lagi, terutama untuk program kawin silang Belgian Blue,” ujarnya.

Selain Belgian Blue, Khofifah juga menyoroti keberhasilan BBIB Singosari dalam mengembangkan sapi Wagyu yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia mengatakan, harga daging Wagyu di hotel dan restoran berbintang masih berada di atas Rp1 juta per kilogram, sehingga membutuhkan pola pemeliharaan khusus agar kualitasnya setara dengan standar Jepang.

“Harga daging sapi Wagyu cukup tinggi di restoran-restoran dan hotel-hotel bintang lima. Satu kilogram rata-rata masih di atas Rp1 juta. Maka proses pemeliharaannya juga tidak murah dan tidak mudah. Tetapi BBIB sudah menginisiasi pengembangannya sejak lima tahun lalu,” ungkapnya.

Khofifah berharap BBIB Singosari terus melakukan pendampingan kepada para peternak, khususnya untuk pengembangan sapi Wagyu dan Belgian Blue, agar teknik pemeliharaan dan pengelolaan ternak dapat menghasilkan kualitas terbaik.

Ia menilai, jika seluruh provinsi memanfaatkan teknologi reproduksi dan layanan BBIB Singosari secara optimal, maka target swasembada daging nasional bukan hal yang mustahil untuk dicapai.

“Saya rasa kita semua harus mendukung apa yang dilakukan Balai Besar Inseminasi Buatan ini. Kalau hitungan saya, dengan komitmen yang besar dan dimulai dari sekarang, tiga tahun kita mestinya bisa swasembada daging,” tegasnya.

Menurut Khofifah, Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi kuat untuk mewujudkan kemandirian pangan sektor peternakan. Yang dibutuhkan saat ini adalah penguatan sinergi antarwilayah, peningkatan kualitas bibit ternak, optimalisasi inseminasi buatan, dan pendampingan yang berkelanjutan bagi peternak.

“Indonesia sesungguhnya telah memiliki fondasi yang kuat untuk mencapai swasembada daging. Yang diperlukan saat ini adalah penguatan sinergi antardaerah, optimalisasi program inseminasi buatan, peningkatan kualitas bibit ternak, serta pendampingan berkelanjutan kepada para peternak,” katanya.

Ia pun kembali menegaskan optimismenya bahwa swasembada daging dapat terwujud dalam waktu dekat.

“Sangat sering saya menyampaikan bahwa kita punya potensi swasembada daging. Menurut hitungan saya, tiga tahun kita bisa swasembada daging. Ini sesuatu yang sangat potensial dan ada di depan mata untuk kita wujudkan bersama,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BBIB Singosari, Akbar, menjelaskan bahwa lembaganya saat ini memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan semen beku nasional. Hingga semester pertama tahun 2026, BBIB Singosari telah memproduksi sebanyak 895.559 dosis semen beku dengan total stok mencapai 4,7 juta dosis.

“Alhamdulillah, sekitar 4,7 juta dosis bisa kita keluarkan kapan pun ketika negara-negara lain membutuhkan keberadaan semen beku. Jumlah ini juga cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kita hingga tiga tahun ke depan,” jelas Akbar.

Saat ini BBIB Singosari memiliki 192 pejantan unggul dari berbagai rumpun sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba. Selain melayani kebutuhan dalam negeri, BBIB juga telah mengekspor lebih dari 35 ribu dosis semen beku ke 11 negara, di antaranya Malaysia, Timor Leste, Kamboja, Nigeria, Afghanistan, Madagaskar, Myanmar, Tanzania, Zimbabwe, Ethiopia, dan Kyrgyzstan.

Akbar menambahkan, kerja sama antara BBIB Singosari dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus diperkuat, terutama untuk mendukung target lebih dari satu juta akseptor inseminasi buatan sapi di Jawa Timur sepanjang tahun 2026.

Dengan dukungan teknologi reproduksi modern dan stok semen beku yang melimpah, BBIB Singosari diyakini menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan kemandirian peternakan nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gubernur Khofifah Apresiasi BBIB Singosari Malang, Optimistis Indonesia Swasembada Daging dalam Tiga Tahun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now