Banner Iklan

DPD RI Lia Istifhama Apresiasi Sumbangsih Kopi Hutan, Diversifikasi Komoditas Tetap Penting

Admin JSN
16 Juni 2026 | 14.09 WIB Last Updated 2026-06-16T07:09:59Z
Anggota DPD RI Lia Istifhama saat menikmati kopi hutan produk masyarakat Jatim dalam Jambore Perhutanan Sosial Jawa Timur 2026 di Madiun./dok.istimewa

MADIUN | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Lia Istifhama turut hadir di Madiun dalam rangka Jambore Perhutanan Sosial Provinsi Jawa Timur 2026 di Alun-Alun Kabupaten Madiun.

Di antara kegiatan tersebut ada pameran aneka produk yang dihasilkan masyarakat sekitar hutan yang salah satunya adalah kopi hutan.

Kopi hutan saat ini dikenal sebagai motor penggerak ekonomi perhutanan sosial di Jawa Timur. Besarnya kontribusi komoditas ini bahkan menempatkan Jatim sebagai salah satu daerah terdepan dalam pengembangan perhutanan sosial di Indonesia.

Hal ini tentu mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar hutan seperti yang tercantum dalam Data Nilai Ekonomi (NEKON) Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jawa Timur edisi 2025.

Pada data ini menunjukkan kopi menyumbang 68,62 persen dari total transaksi ekonomi yang mencapai Rp 447 miliar. Angka tersebut menjadikan kopi sebagai komoditas paling dominan dibanding puluhan produk lain yang dikembangkan kelompok-kelompok usaha perhutanan sosial.

Meski capaian tersebut menjadi kabar menggembirakan dan patut diapresiasi, Senator Lia Istifhama mengingatkan pentingnya membangun fondasi ekonomi yang lebih beragam.

Menurutnya, ketergantungan berlebihan terhadap satu komoditas dapat menjadi tantangan tersendiri ketika pasar mengalami gejolak atau perubahan tren konsumsi.

"Dominasi kopi memang menunjukkan keberhasilan, tetapi ke depan perlu strategi penguatan komoditas lain agar ekonomi desa lebih tahan terhadap fluktuasi pasar," ucap Lia pada rilis yang diterima Selasa (16/6).

Lia Istifhama menyeduh kopi hutan produk masyarakat Jatim di jambore perhutanan Madiun./dok.istimewa

Saat ini, Jawa Timur mempunyai 880 unit KUPS dengan 62 jenis komoditas yang dikembangkan, mulai dari hasil hutan kayu (HHK), hasil hutan bukan kayu (HHBK), hingga jasa lingkungan. Namun, kontribusi komoditas selain kopi masih relatif kecil.

Maka dari itu, Lia menjelaskan bahwa keseimbangan antara penguatan komoditas unggulan dan diversifikasi usaha dapat menjadi kunci ekonomi desa berbasis hutan untuk tetap tumbuh stabil dan berkelanjutan.

Kopi hutan Jatim memang telah berhasil menembus pasar ekspor melalui skema communal branding, terutama dari wilayah Madiun, Jember, dan Jombang. Hal ini menjadi bukti bahwa produk berbasis perhutanan sosial mampu bersaing di pasar global.

Walau demikian, penguatan sektor hilir seperti pengolahan, branding, dan akses pasar masih perlu ditingkatkan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi petani hutan.

Dengan capaian nilai transaksi ekonomi (NTE) yang telah mencapai Rp 598 miliar atau 47,56 persen dari total nasional pada 2026, Jawa Timur kini menjadi barometer nasional dalam pengembangan perhutanan sosial.

Mengetahui capaian tersebut, Lia menegaskan pentingnya diversifikasi jenis komoditas yang dihasilkan agar grafiknya terus meningkat, alih-alih stagnan atau justru menurun.

Adapun mengenai Jambore Perhutanan Sosial Jawa Timur 2026 diselenggarakan pada 12–13 Juni 2026 di Alun-Alun Reksogati, Caruban, Kabupaten Madiun. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • DPD RI Lia Istifhama Apresiasi Sumbangsih Kopi Hutan, Diversifikasi Komoditas Tetap Penting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now