MALANG | JATIMSATUNEWS: Berhasil menembus salah satu kampus terbaik dunia bukanlah sesuatu yang diraih dalam semalam. Bagi Ahmad Ayman Al Ghifary, alumni MAN 2 Kota Malang yang kini menempuh studi Teknik Kimia di National University of Singapore (NUS), perjalanan tersebut dibangun melalui proses panjang yang dipenuhi kerja keras, kedisiplinan, serta nilai-nilai yang ditanamkan sejak berada di bangku madrasah.
Penerima ASEAN Undergraduate Scholarship ini mengaku, dua bekal terpenting yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di MAN 2 Kota Malang bukan hanya kemampuan akademik, melainkan sikap istikamah dan tawadu atau rendah hati.
Menurut Ayman, keberhasilan yang diraihnya saat ini merupakan hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
"Saya belajar bahwa kesuksesan tidak pernah datang dari usaha sesaat. Yang terpenting adalah tetap istiqamah, terus berproses, dan tidak berhenti meskipun hasilnya belum langsung terlihat," ujar Ayman saat berbagi pengalaman di Perpustakaan MAN 2 Kota Malang, Kamis (4/6/2026).
Sebelum diterima di NUS, Ayman dikenal sebagai salah satu siswa berprestasi di bidang kimia. Ia berhasil meraih medali perunggu pada International Chemistry Olympiad (IChO) 2024 serta medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kimia.
Di balik berbagai pencapaian tersebut, terdapat proses pembinaan yang tidak ringan. Bersama tim olimpiade MAN 2 Kota Malang, ia menjalani latihan intensif dari pagi hingga malam hari dengan pendampingan guru, pelatih, dan alumni.
Namun bagi Ayman, kecerdasan akademik saja tidak cukup. Ia meyakini sikap rendah hati menjadi faktor penting yang membuat seseorang terus berkembang.
Menurutnya, semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
"Ketika dulu masuk ruang pembinaan olimpiade maupun sekarang saat berada di ruang kuliah NUS, saya selalu mengingat bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Cara berpikir seperti itu membuat saya tetap terbuka terhadap ilmu baru," tuturnya.
Pengalaman bertemu pelajar-pelajar terbaik dunia saat mewakili Indonesia di International Chemistry Olympiad semakin memperkuat pandangannya. Prestasi, menurutnya, bukan alasan untuk merasa paling hebat, melainkan motivasi untuk terus belajar.
"Selalu ada orang yang lebih hebat dan selalu ada ilmu baru yang bisa dipelajari. Karena itu jangan pernah merasa sudah cukup," katanya.
Ayman juga mengapresiasi lingkungan belajar yang dibangun di MAN 2 Kota Malang. Ia menilai budaya belajar di madrasah tidak hanya mendorong persaingan sehat, tetapi juga kolaborasi antar siswa.
Para peserta olimpiade terbiasa saling membantu memahami materi, berbagi strategi belajar, hingga mendapatkan bimbingan dari alumni yang telah berpengalaman di berbagai kompetisi nasional maupun internasional.
Menurutnya, suasana seperti itulah yang membuat proses belajar menjadi lebih bermakna dan mendorong setiap siswa berkembang bersama.
Kini, setelah merasakan atmosfer pendidikan internasional di Singapura, Ayman berpesan kepada para siswa madrasah di seluruh Indonesia agar tidak pernah merasa minder untuk bersaing di tingkat global.
Ia meyakini siswa madrasah memiliki peluang yang sama untuk menembus kampus-kampus terbaik dunia selama memiliki kemauan belajar, konsistensi, serta tekad yang kuat.
"Jangan pernah berhenti belajar. Terus berusaha, terus berdoa, dan jangan pernah merasa sudah tahu segalanya. Proses belajar tidak akan pernah berakhir," pesannya.
Kisah Ayman menjadi bukti bahwa madrasah tidak hanya melahirkan siswa berprestasi, tetapi juga membentuk karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dunia. Di tengah perubahan global yang semakin cepat, nilai istikamah dan kerendahan hati tetap menjadi bekal penting untuk terus tumbuh dan meraih kesuksesan di mana pun berada.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?