JATIMSATUNEWS.COM, SIDOARJO - Malam purnawiyata SMP Muhammadiyah 4 (Mudipat) Porong, Sabtu (20/6/2026), bukan sekadar momentum perpisahan bagi siswa Angkatan 57. Di balik suasana haru yang menyelimuti acara, tersimpan sebuah pelajaran berharga tentang makna memberi manfaat, nilai yang selama ini menjadi ruh pendidikan di sekolah tersebut.
Bagi Mudipat Porong, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik atau prestasi yang diraih siswa. Lebih dari itu, sekolah berupaya menanamkan kesadaran bahwa setiap anak memiliki potensi untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Prinsip khairunnas anfa'uhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya—menjadi pesan yang terus dihidupkan dalam berbagai aktivitas pendidikan.
Karena itulah, setiap siswa didorong untuk menemukan peran terbaiknya. Tidak semua harus menjadi juara kelas atau tampil di garis depan, namun setiap anak diajak memahami bahwa dirinya memiliki nilai dan kontribusi yang dapat diberikan kepada sesama.
Nilai tersebut tampak nyata dalam pelaksanaan purnawiyata tahun ini. Berbeda dengan acara perpisahan pada umumnya, siswa kelas IX justru menjadi penggerak utama seluruh rangkaian kegiatan. Mereka merancang, mengelola, sekaligus mengoordinasikan jalannya acara dengan pendampingan guru.
Berbagai tugas dibagi secara proporsional. Ada yang bertanggung jawab pada perlengkapan, dekorasi, dokumentasi, multimedia, hingga operator suara. Melalui proses tersebut, para siswa belajar memimpin, bekerja sama, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara langsung.
Namun jejak yang ditinggalkan Angkatan 57 tidak berhenti pada suksesnya penyelenggaraan purnawiyata. Para lulusan memilih meninggalkan warisan yang dapat terus dirasakan manfaatnya oleh generasi berikutnya.
Melanjutkan tradisi wakaf yang telah berkembang di SMP Muhammadiyah 4 Porong dalam beberapa tahun terakhir, Angkatan 57 mewakafkan sebuah neonbox identitas sekolah yang nantinya dipasang di bagian depan gedung sekolah. Bagi mereka, neonbox tersebut bukan sekadar penanda fisik, melainkan simbol kepedulian, kebersamaan, dan amal jariyah yang diharapkan terus mengalir meski mereka telah menapaki jenjang pendidikan berikutnya.
Menariknya, wakaf tersebut lahir dari hasil ikhtiar para siswa sendiri. Kepala SMP Muhammadiyah 4 Porong, Rozaq Akbar, S.Fil.I., M.Pd., menjelaskan bahwa dana wakaf tidak diperoleh melalui pungutan atau iuran sederhana, melainkan melalui program kewirausahaan yang dirancang dan dijalankan oleh siswa.
Usai menyelesaikan Penilaian Sumatif Akhir Jenjang, para siswa membentuk tim fundraising dan mendirikan usaha kuliner bernama Elmaida Santri’s Table. Layaknya sebuah usaha profesional, mereka terlebih dahulu melakukan riset pasar, menyusun rencana bisnis, hingga mengajukan proposal peminjaman modal.
Setelah itu, usaha mulai dijalankan. Setiap akhir pekan, para siswa melayani kebutuhan kuliner pelajar dan santri dengan berbagai menu yang telah melalui proses kajian sederhana. Dari aktivitas tersebut, mereka tidak hanya belajar berdagang, tetapi juga memahami proses perencanaan, pengelolaan keuangan, pelayanan pelanggan, serta pentingnya kerja sama tim.
Lebih dari sekadar mencari keuntungan, pengalaman tersebut mengajarkan satu hal penting: manfaat tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses, kesungguhan, dan pengorbanan.
Ikhtiar itu akhirnya membuahkan hasil. Dari usaha yang mereka bangun bersama, terkumpul dana sekitar Rp4 juta yang kemudian diwujudkan dalam bentuk wakaf neonbox sekolah.
Pada malam purnawiyata, replika wakaf tersebut diserahkan secara simbolis kepada Kepala SMP Muhammadiyah 4 Porong oleh perwakilan Angkatan 57. Tepuk tangan hadirin mengiringi momen tersebut, bukan semata karena nilai materi yang diberikan, melainkan karena semangat berbagi yang menyertainya.
Malam itu, para lulusan tidak sekadar meninggalkan bangku sekolah. Mereka meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus menyala. Sebagaimana cahaya neonbox yang kelak berdiri di depan sekolah, mereka berharap semangat memberi manfaat akan tetap hidup dan menginspirasi adik-adik kelas yang melanjutkan perjalanan.
Dari Mudipat Porong, para lulusan Angkatan 57 membawa pulang sebuah pelajaran sederhana namun mendalam: kesuksesan bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga tentang manfaat yang mampu ditinggalkan untuk orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?