Banner Iklan

Tantangan dan Harapan Sistem Komunikasi Indonesia di Era Globalisasi: Transformasi Sistem Komunikasi Indonesia di Era Globalisasi

Admin JSN
05 Mei 2026 | 14.51 WIB Last Updated 2026-05-05T07:51:49Z
Foto Kegiatan. Sumber : Istimewa


ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM : Kalau kita mau jujur, cara manusia Indonesia berkomunikasi hari ini berbeda jauh dari dua atau tiga dekade lalu. Bukan hanya soal alat yang dipakai, tetapi juga soal cara berpikir, cara menyampaikan pendapat, bahkan cara mempercayai sebuah informasi. Di sinilah letak kompleksitas sistem komunikasi Indonesia ia bukan sekadar jaringan teknis antara pengirim dan penerima pesan, melainkan sebuah proses hidup yang terus bergerak, dipengaruhi oleh nilai sosial, budaya, dan tekanan politik yang datang silih berganti.

Artikel ini lahir dari sebuah refleksi sederhana yang saya geluti selama mengikuti perkuliahan Sistem Komunikasi Indonesia. Saya, M. Wafiq Khoirum Mizan, mencoba menuangkan pandangan ini bukan sebagai peneliti yang melihat dari sisi teori, melainkan sebagai bagian dari generasi yang tumbuh dan hidup bersama perubahan itu sendiri.

Globalisasi menjadi salah satu kekuatan terbesar yang mendorong perubahan tersebut. Ketika batas geografis seolah lenyap berkat kehadiran internet dan media sosial, informasi dapat menjangkau pelosok desa hanya dalam hitungan detik. Ini tentu membawa kabar baik masyarakat kini punya akses lebih luas terhadap pengetahuan, ruang ekspresi terbuka lebih lebar, dan suara-suara yang dulu terpinggirkan kini bisa didengar. Namun di balik kemudahan itu, ada harga yang harus dibayar: banjir informasi yang tidak selalu bisa dipercaya, arus budaya luar yang kadang menggerus nilai lokal, serta ketimpangan akses yang masih nyata terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan

Salah satu persoalan paling mendasar dalam sistem komunikasi Indonesia saat ini adalah misinformasi. Kemudahan memproduksi dan menyebarkan konten membuat siapa saja bisa menjadi "jurnalis dadakan" tanpa bekal verifikasi yang memadai. Hoaks menyebar bukan karena masyarakat bodoh, melainkan karena kecepatan berbagi jauh melampaui kecepatan berpikir kritis. Fenomena ini sudah lama diidentifikasi oleh para peneliti komunikasi sebagai salah satu risiko terbesar dari demokratisasi media digital (Azizah dkk., 2025).

Belum lagi soal digital divide atau kesenjangan digital. Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau dan beragam kondisi geografis. Infrastruktur teknologi informasi di wilayah Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur masih jauh tertinggal dibanding kota-kota besar di Jawa. Akibatnya, partisipasi komunikasi global menjadi hak eksklusif mereka yang tinggal di daerah dengan jaringan memadai. Sementara masyarakat di pelosok masih mengandalkan radio atau komunikasi tatap muka sebagai sumber informasi utama, warga kota sudah berselancar di platform-platform digital yang terus berkembang. Kesenjangan ini bukan semata-mata soal teknologi, melainkan soal keadilan informasi.

Di sisi lain, media tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung penyebaran informasi kini sedang berjuang keras mempertahankan relevansinya. Generasi muda lebih memilih mengonsumsi berita lewat platform digital yang ringkas dan cepat, membuat oplah koran terus merosot dan rating televisi konvensional terpangkas. Ironisnya, tekanan ekonomi yang dihadapi media tradisional justru kadang mendorong mereka menurunkan standar jurnalistik demi meraih klik dan penonton sebuah lingkaran setan yang pada akhirnya merugikan kualitas informasi publik.

Tantangan lain yang tidak kalah serius adalah soal identitas budaya. Arus globalisasi membawa serta nilai-nilai dan gaya hidup dari luar yang kerap berbenturan dengan kearifan lokal. Sistem komunikasi yang tidak memiliki akar budaya yang kuat akan mudah goyah dan kehilangan jati dirinya. Padahal, sebagaimana diuraikan oleh Aditia (2021), sistem komunikasi Indonesia sejatinya berdiri di atas tiga fondasi sekaligus: proses sosial, proses budaya, dan proses politik. Ketiganya saling menopang dan tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Harapan yang Masih Layak Diperjuangkan

Meski tantangannya besar, bukan berarti tidak ada ruang untuk optimisme. Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa: keberagaman budaya, kekayaan bahasa daerah, dan tradisi komunikasi komunal yang sudah mengakar jauh sebelum era digital datang. Potensi ini, bila dikelola dengan bijak, justru bisa menjadi kekuatan unik dalam membentuk sistem komunikasi yang otentik dan berdaya saing.

Harapan pertama tentu tertumpu pada literasi digital. Masyarakat yang melek media bukan hanya tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menilai kualitas informasi yang mereka terima, mengenali sumber yang kredibel, dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang menyesatkan. Pendidikan literasi digital harus menjadi prioritas bukan hanya di bangku sekolah, tetapi juga melalui kampanye komunitas yang menjangkau kelompok-kelompok yang selama ini luput dari perhatian.

Harapan kedua ada pada kebijakan yang lebih inklusif. Pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur teknologi informasi di daerah-daerah terpencil, bukan sekadar memenuhi target statistik, tetapi benar-benar memastikan konektivitas yang merata. Ketika setiap warga negara memiliki akses yang setara terhadap informasi, baru kita bisa berbicara tentang partisipasi komunikasi yang sejati.

Harapan ketiga adalah sinergi antara media tradisional dan platform digital. Keduanya tidak harus saling mematikan justru kolaborasi di antara keduanya bisa menghasilkan ekosistem informasi yang lebih sehat. Media tradisional membawa rekam jejak standar jurnalistik yang teruji, sementara platform digital menawarkan jangkauan dan kecepatan yang tak tertandingi. Bila keduanya bisa berjalan beriringan, publik akan diuntungkan dengan informasi yang cepat sekaligus dapat dipercaya.

Menutup dengan Refleksi

Sistem komunikasi Indonesia, seperti yang digambarkan oleh Wiryany dkk. (2022), terus berevolusi seiring perubahan zaman. Ia tidak pernah berdiri diam ia bergerak, menyesuaikan diri, kadang tersandung, lalu bangkit lagi. Yang paling penting bukan seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan seberapa bijak kita memanfaatkannya.

Di era globalisasi ini, tantangan memang nyata dan tidak ringan. Tetapi harapan juga nyata, asalkan kita mau bersungguh-sungguh: membangun manusia yang melek informasi, memastikan teknologi menjangkau semua orang tanpa terkecuali, dan menjaga agar komunikasi tetap menjadi jembatan bukan tembok yang menghubungkan sesama anak bangsa.

Daftar Pustaka

Aditia, R. (2021). Sistem komunikasi Indonesia: Suatu proses sosial, budaya, dan politik. Connected: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 1–10.

            https://jpii.upri.ac.id/index.php/connected/article/view/9

Nurwahyu Azizah, A. R., Tasruddin, R., & Wahyudi, N. A. R. (2025). Teknologi komunikasi: Komunikasi massa dan globalisasi. AL-MUTSLA, 7(1), 100–117.

            https://doi.org/10.46870/jstain.v7i1.1388

Wiryany, D., Natasha, S., & Kurniawan, R. (2022). Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terhadap perubahan sistem komunikasi Indonesia. Jurnal Nomosleca, 8(2), 242–252. https://doi.org/10.26905/nomosleca.v8i2.8821


Penulis : M. Wafiq Khoirum Mizan, Mahasiswa Mata Kuliah Sistem Komunikasi Indonesia, di bawah bimbingan Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tantangan dan Harapan Sistem Komunikasi Indonesia di Era Globalisasi: Transformasi Sistem Komunikasi Indonesia di Era Globalisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now