![]() |
| Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik menegaskan pendidikan nasional jangan terjebak formalitas./dok. UMM |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Pesan penting disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik kepada para guru dan dunia pendidikan nasional secara umum.
Pesan ini disampaikan di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, hingga memunculkan sebuah kritik tajam dan reflektif yang mengemuka dari mimbar akademis.
Kualitas pendidikan dipastikan tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai dalam membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si.
Pesan tegas ini terungkap dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk 'Manajemen Kelembagaan Sekolah' yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Acara ini dihadiri oleh puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya pada Jumat (22/5).
Dalam stadium generale tersebut, rektor yang akrab disapa Nazar ini menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar utama menurunnya mutu pendidikan nasional.
Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya.
Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, sekolah justru terus ditekan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi ini tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik.
"Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing," ungkap Nazar.
Ia mengkritik keras fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan.
Banyak sekolah kini perlahan berubah menjadi sekadar institusi pengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan urgensi school leadership. Oleh karenanya, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar mengekor pada pola kerja birokrasi, melainkan harus berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial sekitarnya.
![]() |
| Rektor UMM, Nazaruddin Malik dalam acara bincang-bincang konstruktif Malik Fadjar Bootcamp, Jumat (22/5)./dok. UMM |
"Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata," lanjutnya.
Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan keliru ini diam-diam membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama.
Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi mulia ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual.
"Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban," sambungnya.
Nazar menegaskan, manajemen kelembagaan sekolah sejatinya adalah seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar urusan mengelola tumpukan dokumen dan laporan.
Menurutnya, kualitas pendidikan sejati tidak pernah lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat.
Ia menekankan, lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi yang sukses mencetak manusia berkarakter tangguh untuk menghadapi kerasnya dinamika perubahan zaman. ***
Editor: YAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?