Banner Iklan

Penampilan Wak Jo dalam Performance Art Ngleremno Ati Bersama Mlebu Metu di Senaputra, Ditonton Anggota Dewan Arief Wahyudi

Admin JSN
09 Mei 2026 | 16.00 WIB Last Updated 2026-05-09T09:01:33Z
Penampilan Wak Jo dalam Performance Art Ngleremno Ati bersama Mlebu Metu di Senaputra, turut ditonton anggota DPRD Kota Malang Arief Wahyudi./dok. Istimewa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Kelompok Bermain Mlebu Metu menggelar pertunjukan performance art bertajuk 'Ngleremno Ati…' di Taman Rekreasi Senaputra, Kota Malang pada Jumat (8/5) malam.

Acara tersebut dimulai pukul 18.00 WIB dan terbuka untuk umum dengan menghadirkan suasana kontemplatif melalui perpaduan musik, teater tubuh, hingga seni lukis eksperimental.

Pertunjukan tunggal juga dibawakan Sujatmiko atau yang akrab disapa Wak Jo. Penampilan Wak Jo berhasil menyedot perhatian para penikmat seni dan budayawan Kota Malang. 

Pada penampilannya, Wak Jo berkolaborasi dengan sejumlah seniman lintas disiplin untuk menghadirkan pengalaman artistik yang mengajak penonton merenung sekaligus menenangkan batin.

Pertunjukan ini mengusung tema 'Ngleremno Ati' yang dalam bahasa Jawa berarti menenangkan hati, sehingga seperti menjadi ruang jeda di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Penonton diajak larut dalam suasana penuh makna melalui alunan musik syahdu, lagu-lagu reflektif, hingga aksi lukisan abstrak menggunakan rambut dan bagian tubuh sebagai medium ekspresi seni.

Alunan musik yang menyentuh emosi dipadukan dengan gerak tubuh teatrikal membuat suasana terasa intim dan mendalam.

Wak Jo bersama seluruh rekannya membawakan sembilan lagu yang diambil dari dua album mereka dalam durasi sekitar dua jam.

Wak Jo kemudian menjelaskan bahwa Mlebu Metu bukan sekadar ruang pertunjukan musik, melainkan ruang perjumpaan untuk berbagi cerita dan gagasan lintas latar belakang.

"Sebetulnya Mlebu Metu itu bukan ruang musikal, tapi ruang bertemu dan bercerita bersama teman-teman semua untuk saling sharing, bertukar pikiran tentang seni dan budaya," ungkap Wak Jo.

Ia menegaskan, komunitas tersebut tidak membatasi diri pada genre maupun identitas tertentu.

"Tidak ada bendera, tidak ada pangkat, tidak ada genre, tidak ada seragam. Semua manusia," lanjutnya.

Pemilihan Senaputra sebagai lokasi pertunjukan juga bukan tanpa alasan. Menurutnya, tempat tersebut memiliki sejarah panjang sebagai ruang berkesenian di Kota Malang.

"Senaputra dulu pernah menjadi ruang berkesenian yang terkenal. Banyak penari dan seniman berlatih di sini," jelasnya.

Wak Jo menambahkan, gerakan Mlebu Metu sebenarnya telah dimulai sejak 2021. Bersama sejumlah rekannya, mereka rutin berkeliling dari kampung ke kampung, kampus hingga komunitas untuk berdiskusi dan membangun ruang perjumpaan yang organik.

Komunitas itu bahkan memiliki slogan unik, yakni 'Diskusi Tanpa Solusi'. "Kita tidak harus selalu punya solusi, tapi yang penting ada ruang diskusi dan saling mendengarkan," ujar Wak Jo.

Salah satu pesan kuat dalam pertunjukan tersebut menurutnya adalah konsep 'Nandur Urip' atau menanam kehidupan. 

Filosofi itu disimbolkan melalui penanaman pohon sebagai bentuk merawat persaudaraan dan hubungan antarmanusia.

"Kalau hanya menanam tanpa dirawat sampai hidup, itu bukan nandur. Merawat sampai tumbuh itu yang kami sebut Nandur Urip," bebernya.

Acara tersebut juga mendapat dukungan pemerintah melalui bantuan bibit pohon bertajuk 'Nandur Orep'.

Dukungan itu menjadi pengingat bahwa merawat kehidupan dan persaudaraan membutuhkan tanggung jawab hingga benar-benar tumbuh dan memberi manfaat.

Salah satu pegiat seni yang hadir, Eko Jeep, mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap acara serupa lebih sering digelar di Kota Malang. "Acara ini bagus dan harus sering dilaksanakan," ucapnya.

Salah satu tokoh Malang, Wahyu Arema Voice juga hadir. Seruan 'salam satu jiwa' kemudian bergemuruh yang disambut penonton di venue Senaputra yang berada di bawah pohon beringin dengan usia ratusan tahun.

"Teruskan sam (mas), ojok mandek (jangan berhenti), Wak jo," serunya.

Menariknya, anggota DPRD Kota Malang Arief Wahyudi juga hadir. Politisi yang akrab disapa Sam AW ini memberikan dukungan terhadap perkembangan seni kontemporer di Kota Malang.

"Kesenian kontemporer seperti ini harus terus berjalan. Asyik, benar-benar asyik," ujar Arief.

Menurut Arief, syair-syair lagu yang dibawakan dalam pertunjukan tersebut meski tidak selalu runtut, namun menyimpan makna kehidupan yang jujur dan apa adanya.

"Apa yang diperankan lewat gerakan tubuh dan tarian tokoh-tokohnya mampu menghanyutkan pikiran penonton yang menyaksikan dengan seksama," sambungnya.

Ia menilai pertunjukan sederhana namun penuh ketulusan itu menghadirkan pesan perenungan dan pengingat kepada Sang Pencipta, sekaligus menjadi bagian penting dari pelestarian budaya daerah dengan logat khas Malangan.

"Pemerintah harus hadir dan memberi dukungan. Semakin sering pertunjukan seperti ini digelar, akan menjadi ikon budaya Kota Malang, apalagi venue ini punya nilai sejarah bagi Arema," tegasnya. ***

Dokumentasi pertunjukan (istimewa):






***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Penampilan Wak Jo dalam Performance Art Ngleremno Ati Bersama Mlebu Metu di Senaputra, Ditonton Anggota Dewan Arief Wahyudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now