![]() |
| Artikel opini Nasionalisme Pemuda di Tengah Arus Digital ditulis oleh Prof. Triyo Supriyatno, Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang./dok. Istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Nasionalisme Pemuda di Tengah Arus Digital
Oleh Prof. Triyo Supriyatno, Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 pada 20 Mei 2026 dengan tema Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara sesungguhnya bukan sekadar slogan seremonial tahunan.
Tema ini memiliki makna historis dan sosial yang sangat mendalam ketika dikaitkan dengan kondisi pemuda dan mahasiswa Indonesia hari ini. Kebangkitan nasional pada awal abad ke-20 lahir dari kesadaran intelektual kaum muda terdidik yang melihat bangsanya tertinggal akibat kolonialisme.
Kini, satu abad lebih setelah itu, tantangan generasi muda Indonesia bukan lagi penjajahan fisik, melainkan krisis identitas, fragmentasi sosial, dan keterasingan budaya di tengah modernitas digital.
Secara historis, Hari Kebangkitan Nasional tidak dapat dilepaskan dari lahirnya organisasi modern seperti Budi Utomo pada 1908. Organisasi ini menjadi simbol bangkitnya kesadaran kaum terpelajar pribumi untuk memperjuangkan martabat bangsa melalui pendidikan dan gerakan intelektual.
Dalam perspektif sejarah, pemuda dan mahasiswa menjadi motor utama perubahan sosial. Mereka bukan hanya kelompok biologis berdasarkan usia, tetapi agen transformasi yang memiliki kesadaran kritis terhadap realitas sosial-politik bangsanya.
Kita dapat melihat bagaimana sejarah Indonesia selalu menempatkan mahasiswa sebagai aktor penting perubahan. Sumpah Pemuda 1928 lahir dari energi kaum muda lintas etnis dan daerah.
Reformasi 1998 juga menunjukkan bagaimana mahasiswa mampu menjadi kekuatan moral bangsa ketika negara mengalami krisis multidimensional. Artinya, secara historisitas, mahasiswa Indonesia memiliki tradisi intelektual dan moral sebagai penjaga nurani bangsa.
Namun pertanyaannya hari ini: Apakah semangat itu masih hidup?
Dalam perspektif fenomenologis, realitas generasi muda saat ini menghadapi situasi yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Pemuda hidup dalam dunia digital yang penuh percepatan informasi, budaya viral, dan identitas virtual.
Kehidupan sosial mereka tidak lagi sepenuhnya dibentuk oleh ruang fisik seperti kampus, organisasi, atau komunitas lokal, tetapi oleh algoritma media sosial yang sering kali menciptakan budaya instan dan dangkal.
Fenomena ini memunculkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap makna perjuangan, nasionalisme, dan identitas sosial.
Banyak mahasiswa hari ini lebih mengenal tren global dibanding sejarah bangsanya sendiri. Mereka cepat merespons isu viral, tetapi lambat membaca realitas sosial di sekitarnya.
Dalam kajian antropologi sosial, kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran budaya dari masyarakat komunal menuju masyarakat digital individualistik.
Manusia modern perlahan hidup dalam ruang yang serba cepat namun miskin kedalaman makna. Mahasiswa tidak sedikit yang mengalami keterasingan eksistensial yakni dekat secara virtual, tetapi jauh secara sosial. Mereka memiliki ribuan pengikut media sosial, namun minim keterlibatan nyata dalam problem masyarakat.
Di sinilah tema 'Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara' menjadi sangat relevan. Tunas bangsa hari ini bukan hanya perlu dijaga secara fisik dan akademik, tetapi juga dijaga kesadaran sosial, moral, dan identitas kebangsaannya.
Dalam perspektif sosiologis, pemuda Indonesia saat ini berada di tengah kontradiksi besar.
Di satu sisi mereka memiliki akses pendidikan, teknologi, dan peluang global yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan ekonomi, kompetisi sosial, kecemasan masa depan, dan krisis keteladanan publik.
Akibatnya, sebagian generasi muda mengalami disorientasi nilai. Pendidikan dipahami hanya sebagai alat mencari kerja, bukan proses membangun kesadaran intelektual dan tanggung jawab sosial.
Kampus yang dahulu dikenal sebagai ruang dialektika dan gerakan moral perlahan mengalami perubahan orientasi.
Budaya akademik sering kalah oleh budaya pragmatisme. Diskusi intelektual digeser oleh konten hiburan. Aktivisme sosial terkadang berubah menjadi aktivisme digital yang berhenti pada unggahan media sosial tanpa aksi nyata.
Ini bukan kesalahan generasi muda sepenuhnya, tetapi refleksi dari perubahan struktur sosial masyarakat modern.
Dalam antropologi budaya, generasi muda sesungguhnya adalah cermin peradaban suatu bangsa.
Jika pemudanya kehilangan idealisme, maka bangsa sedang kehilangan arah masa depannya. Karena itu, kebangkitan nasional hari ini harus dimulai dengan membangkitkan kembali kesadaran intelektual dan moral kaum muda.
Pendidikan harus kembali menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar industri gelar akademik.
Mahasiswa perlu kembali diposisikan sebagai iron stock bangsa yaitu kelompok intelektual yang mampu berpikir kritis, memiliki empati sosial, dan menjaga nilai kebangsaan.
Nasionalisme generasi sekarang tidak harus diwujudkan dengan perang fisik, tetapi dengan integritas, literasi, inovasi, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat kecil.
Menjaga tunas bangsa berarti menjaga agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya, tidak terjebak ekstremisme, serta tidak menjadi korban manipulasi informasi digital.
Tema Harkitnas 2026 juga mengandung pesan penting bahwa kedaulatan negara sangat bergantung pada kualitas manusianya. Negara tidak akan kuat hanya dengan kekayaan alam atau pembangunan fisik.
Kedaulatan sejati lahir dari manusia-manusia yang memiliki karakter, ilmu, dan tanggung jawab sosial. Jika generasi muda tumbuh menjadi generasi apatis, konsumtif, dan kehilangan kesadaran sejarah, maka bangsa akan mudah rapuh meskipun tampak maju secara teknologi.
Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, sudahkah kita benar-benar menjaga tunas bangsa?
Sudahkah kampus melahirkan intelektual yang berpihak pada masyarakat? Sudahkah negara menghadirkan ruang yang sehat bagi pertumbuhan idealisme generasi muda?
Kebangkitan nasional abad ke-21 membutuhkan bentuk perjuangan baru. Bukan lagi melawan kolonialisme fisik, tetapi melawan kebodohan digital, polarisasi sosial, korupsi moral, dan hilangnya kesadaran kebangsaan. Perjuangan hari ini adalah menjaga manusia Indonesia agar tetap memiliki jiwa merdeka di tengah dunia yang semakin bising dan pragmatis.
Maka, memperingati Harkitnas 2026 bukan hanya mengenang sejarah masa lalu, tetapi menyiapkan masa depan. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya bangga terhadap sejarahnya, melainkan bangsa yang mampu menjaga generasi mudanya untuk terus menulis sejarah baru dengan ilmu, karakter, dan keberanian moral berupa kejujuran dan keadilan sosial bagi kehidupan semesta umat manusia dan alam. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?