Foto: Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga UIN Malang
Penulis: Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, MA
MALANG | ARTIKEL - Di zaman modern, istilah “kerja sama” sering kali terdengar indah dan menjanjikan. Hampir semua sektor kehidupan menjadikannya sebagai kata kunci kemajuan. Dunia bisnis membutuhkan kolaborasi. Pemerintahan membutuhkan sinergi. Perguruan tinggi berlomba membangun jejaring kemitraan. Bahkan dalam kehidupan sosial, kerja sama dipandang sebagai jalan tercepat mencapai tujuan bersama.
Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting yang sering
terlupakan: apakah semua bentuk kerja sama selalu benar dan layak diterima? Pertanyaan
inilah yang sejatinya dijawab secara sangat mendalam melalui kisah agung Nabi
Ibrahim AS.
Kisah yang selama ini sering dipahami sebatas narasi pengorbanan ternyata
menyimpan pelajaran besar tentang integritas moral, keteguhan prinsip, dan
keberanian menolak ajakan menyimpang, meskipun dibungkus dengan logika yang
tampak rasional.
Dalam Surat As-Saffat ayat 102, Allah SWT mengabadikan dialog monumental
antara Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS: “Sesungguhnya aku melihat
dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Mimpi para nabi adalah wahyu. Maka perintah itu bukan sekadar bunga
tidur, melainkan amanah ilahiah yang harus dilaksanakan. Akan tetapi, Nabi
Ibrahim tetap manusia. Beliau adalah seorang ayah yang memiliki cinta, rasa
takut, dan gejolak kemanusiaan.
Membayangkan harus mengorbankan anak yang sangat dicintai tentu bukan
perkara mudah. Di situlah letak kemuliaan Nabi Ibrahim AS: beliau tidak
mendahulukan emosi pribadi di atas ketaatan kepada Allah SWT.
Yang lebih menakjubkan adalah respons Nabi Ismail AS: “Wahai ayahku,
lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar.”
Dialog ini bukan hanya percakapan antara ayah dan anak. Ini adalah
percakapan antara iman dan kepatuhan. Antara cinta dunia dan ketundukan total
kepada Tuhan. Namun perjalanan spiritual Nabi Ibrahim tidak berhenti di sana.
Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, iblis datang menggoda. Ia
mencoba memengaruhi Nabi Ibrahim agar membatalkan niatnya. Godaan itu tentu
tidak hadir dengan wajah menyeramkan sebagaimana dalam imajinasi sebagian
orang. Iblis hadir dengan logika, keraguan, dan rayuan yang tampak masuk akal.
Bukankah terlalu kejam mengorbankan anak sendiri? Bukankah masih ada cara
lain? Bukankah cinta seorang ayah seharusnya lebih utama?
Di sinilah sesungguhnya iblis bekerja: bukan selalu melalui keburukan
yang tampak jelas, tetapi melalui pembenaran-pembenaran yang perlahan
menggoyahkan integritas. Godaan iblis kepada Nabi Ibrahim pada hakikatnya
adalah sebuah ajakan kolaborasi. Sebuah tawaran untuk bersama-sama menyimpang
dari perintah Allah SWT. Namun Nabi Ibrahim menolak dengan tegas.
Beliau melempari iblis dengan batu sebanyak tujuh kali. Peristiwa itulah
yang kemudian diabadikan dalam salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu lempar
jumrah. Prosesi jumrah bukan sekadar ritual simbolik melempar batu. Ia adalah
deklarasi abadi bahwa seorang mukmin harus berani menolak segala bentuk ajakan
yang menyesatkan, meskipun tampak logis, menguntungkan, atau dibungkus dengan
bahasa yang meyakinkan. Lempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap
kompromi moral.
Sayangnya, dalam kehidupan modern, banyak orang justru gagal membaca
pesan besar dari kisah ini. Kita hidup di era ketika pelanggaran sering kali
disamarkan menjadi “strategi”. Penyimpangan dibungkus dengan istilah
“fleksibilitas”. Pelanggaran etika diberi nama “jalan cepat”. Bahkan tidak
sedikit kerja sama yang secara hukum bermasalah, tetapi tetap dijalankan karena
dianggap menguntungkan secara finansial atau politis.
Di titik inilah refleksi terhadap Nabi Ibrahim menjadi sangat relevan. Tidak
semua tawaran kerja sama harus diterima. Tidak semua sinergi membawa kebaikan. Tidak
semua kolaborasi menghasilkan keberkahan.
Ada kerja sama yang justru menghancurkan integritas. Ada kemitraan yang
perlahan menyeret seseorang pada pelanggaran hukum dan pengkhianatan moral. Ada
pula kolaborasi yang tampak menguntungkan di awal, tetapi menyimpan kehancuran
jangka panjang.
Ironisnya, banyak kehancuran besar bermula dari satu kompromi kecil. Awalnya
hanya toleransi kecil terhadap pelanggaran. Awalnya hanya “sekadar membantu”. Awalnya
hanya “ikut arus”. Namun dari situlah integritas runtuh sedikit demi sedikit.
Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa ketika sesuatu jelas bertentangan dengan
aturan Allah SWT, hukum, norma, dan etika, maka sikap yang benar bukanlah
mencari pembenaran, melainkan menolaknya secara tegas. Kadang-kadang,
keberanian terbesar bukanlah menerima kerja sama, melainkan menolak kerja sama.
Dalam konteks kepemimpinan modern, pelajaran ini menjadi semakin penting.
Seorang pemimpin sering kali dihadapkan pada banyak tawaran yang tampak sangat
menggiurkan. Ada janji keuntungan besar, akses kekuasaan, kemudahan birokrasi,
hingga dukungan politik atau finansial.
Semua tampak rasional. Semua tampak menguntungkan. Namun seorang pemimpin
sejati tidak boleh hanya menggunakan logika untung-rugi. Ia harus menggunakan
kompas moral.
Prinsip kehati-hatian atau prudence menjadi sangat penting. Setiap
keputusan harus diuji bukan hanya dari sisi manfaat pragmatis, tetapi juga dari
sisi legalitas, etika, dan dampak jangka panjang.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak institusi besar runtuh bukan
karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan integritas. Ketika
integritas dikorbankan demi keuntungan sesaat, maka kehancuran hanya tinggal
menunggu waktu. Hal ini sangat relevan bagi dunia perguruan tinggi.
Hari ini, kampus didorong untuk semakin terbuka terhadap kerja sama
eksternal. Kolaborasi internasional, kemitraan industri, jejaring kelembagaan,
hingga proyek riset bersama menjadi bagian penting dalam pengembangan
institusi. Tidak ada yang salah dengan itu.
Bahkan kerja sama dapat menjadi motor kemajuan perguruan tinggi. Ia dapat
membuka akses sumber daya, memperluas jaringan akademik, meningkatkan kualitas
penelitian, dan memperkuat reputasi institusi.
Namun di balik peluang besar itu, ada risiko yang tidak kecil. Perguruan
tinggi harus tetap waspada agar tidak terjebak dalam kerja sama yang justru
mencederai marwah akademik. Sebab kampus bukan sekadar institusi administratif.
Kampus adalah penjaga moralitas intelektual.
Ketika perguruan tinggi mulai menghalalkan segala cara demi keuntungan,
maka yang hancur bukan hanya nama institusi, tetapi juga masa depan generasi
muda. Kerja sama yang salah dapat mencemarkan nama baik institusi. Ia dapat
menjerumuskan dosen dan peneliti pada konflik kepentingan. Ia dapat merusak
independensi akademik.
Lebih jauh lagi, ia dapat merugikan mahasiswa sebagai generasi penerus
bangsa. Karena itu, selektivitas dalam membangun kerja sama bukanlah bentuk
anti-kolaborasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral. Perguruan tinggi harus
memiliki keberanian seperti Nabi Ibrahim: berani mengatakan “tidak” terhadap
tawaran yang bertentangan dengan nilai, etika, dan aturan.
Dalam banyak kasus, godaan terbesar justru datang ketika sebuah tawaran
tampak sangat menguntungkan. Di situlah integritas diuji. Sebab integritas
sejati tidak diuji saat keadaan sulit, tetapi ketika seseorang memiliki peluang
besar untuk melanggar dan tetap memilih jalan yang benar.
Nabi Ibrahim telah menunjukkan teladan itu. Beliau tidak bernegosiasi
dengan iblis. Beliau tidak mencari kompromi. Beliau tidak berkata, “Mari kita
cari jalan tengah.” Yang beliau lakukan adalah menolak dengan tegas. Melempar. Mengusir.
Menjauhkan diri dari segala bentuk penyimpangan.
Pesan ini sangat penting di tengah budaya permisif zaman sekarang. Kita
hidup di era ketika orang sering takut dianggap tidak fleksibel jika menolak
sesuatu yang salah. Banyak orang akhirnya memilih diam demi menjaga relasi,
jabatan, atau keuntungan pribadi. Padahal diam terhadap penyimpangan sering
kali adalah awal dari keterlibatan.
Karena itu, refleksi kisah Nabi Ibrahim sejatinya mengajarkan keberanian
moral. Keberanian untuk berkata benar. Keberanian untuk menolak. Keberanian
untuk menjaga integritas meskipun harus kehilangan peluang tertentu. Sebab
tidak semua keuntungan membawa keberkahan. Ada keuntungan yang justru menjadi
awal kehancuran.
Sebaliknya, ada penolakan yang tampak merugikan dalam jangka pendek,
tetapi menyelamatkan kehormatan dan masa depan dalam jangka panjang. Nabi
Ibrahim membuktikan bahwa ketundukan kepada Allah SWT tidak pernah berakhir
dengan kerugian. Ketika beliau lulus dalam ujian keimanan itu, Allah SWT justru
mengganti Nabi Ismail dengan sembelihan yang lebih baik dan mengangkat Nabi
Ibrahim sebagai teladan sepanjang zaman.
Ini menunjukkan bahwa menjaga integritas mungkin terasa berat, tetapi
hasilnya selalu mulia. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang sebenarnya
sedang menghadapi “iblis-iblis” modern. Bentuknya bisa bermacam-macam: suap,
manipulasi data, penyalahgunaan jabatan, konflik kepentingan, kerja sama
ilegal, hingga kompromi terhadap etika.
Semua datang dengan bahasa yang meyakinkan. Semua menawarkan keuntungan. Namun
pertanyaannya sederhana: apakah itu benar? Jika jawabannya tidak, maka sikap seorang
mukmin seharusnya jelas: menolak. Bukan menunda. Bukan mencari celah. Bukan
mencoba berkompromi. Tetapi menolak dengan tegas. Sebagaimana Nabi Ibrahim
melempar iblis.
Pada akhirnya, kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa iman bukan hanya
soal ritual spiritual, tetapi juga keberanian moral dalam mengambil keputusan. Keimanan
sejati tercermin dari kemampuan menjaga prinsip di tengah godaan. Integritas
sejati terlihat dari keberanian menolak sesuatu yang salah meskipun tampak
menguntungkan. Dan kepemimpinan sejati lahir dari keteguhan menempatkan aturan
Allah SWT, hukum, serta etika di atas kepentingan sesaat.
Di tengah dunia yang semakin permisif terhadap kompromi moral,
keteladanan Nabi Ibrahim adalah cahaya yang terus relevan. Bahwa tidak semua
kerja sama harus diterima. Bahwa tidak semua ajakan layak diikuti. Dan bahwa
terkadang, tindakan paling benar adalah melempar “iblis” sejauh-jauhnya dari
kehidupan kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?