![]() |
| Kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadits: Kebenaran yang Sering Disalahpahami, artikel religi-humaniora karya Edy Purwanto Achmad./dok. Istimewa |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:
Kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits: Kebenaran yang Sering Disalahpahami
Jargon 'kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits' sekilas terdengar sangat benar, indah, dan mulia. Bahkan memang itulah prinsip dasar agama Islam. Namun persoalannya bukan pada slogannya, melainkan pada cara memahaminya.
Sebab Al-Qur’an dan Hadits tidak bisa dipahami hanya dengan modal terjemahan, semangat, atau logika pribadi.
Memahami agama membutuhkan ilmu alat, pemahaman tafsir, ilmu ushul fiqih, ilmu hadits riwayah dan dirayah, ilmu bahasa Arab, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, maqashid syariah, dan disiplin ilmu lainnya yang telah diwariskan para ulama sejak generasi salaf.
Karena itu Allah memerintahkan agar umat bertanya kepada ahlinya:
«“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)»
Dalam ayat lain Allah juga berfirman:
«“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan agama dan memberi peringatan kepada kaumnya.” (QS. At-Taubah: 122)»
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang dituntut menggali hukum langsung dari Al-Qur’an dan Hadits. Ada ulama yang mendalami ilmu agama secara khusus agar menjadi rujukan umat.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)»
Para imam mujtahid seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal bukanlah orang yang menjauhkan umat dari Al-Qur’an dan Hadits. Justru mereka adalah orang-orang yang paling dalam memahami keduanya.
Mereka menghabiskan hidupnya untuk menjaga agama agar tidak dipahami secara serampangan. Karena itu para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam berfatwa. Bahkan tidak sedikit yang lebih memilih mengatakan 'saya tidak tahu' daripada berbicara agama tanpa ilmu.
Ketika umat diarahkan agar merasa cukup memahami agama sendiri tanpa bimbingan ulama yang kompeten, maka yang lahir sering kali bukan persatuan, tetapi kekacauan pemahaman.
Masing-masing merasa paling benar dengan dalil yang dipahami secara parsial. Akibatnya muncul perdebatan, saling menyalahkan, bahkan pertikaian atas nama agama.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
«“Barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri lalu ia benar sekalipun, maka ia telah keliru.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)»
Agama bukan sekadar membaca teks, tetapi memahami maksud syariat secara utuh melalui sanad keilmuan yang benar.
Ulama bukan untuk dikultuskan, tetapi juga bukan untuk disingkirkan. Sebab memutus hubungan umat dengan ulama pewaris nabi akan membuat umat kehilangan arah dalam memahami agamanya sendiri.
Dan inilah sebab mengapa para musuh Islam sejak dahulu selalu berusaha melemahkan otoritas ulama. Allah telah mengingatkan:
«“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu hingga engkau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)»
Maka menjaga Islam bukan hanya dengan membaca Al-Qur’an dan Hadits, tetapi juga dengan menjaga adab terhadap ilmu dan para ulama yang mewarisi pemahaman agama dari generasi ke generasi.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits itu benar.
Namun memahaminya harus melalui jalan para ulama yang terpercaya, agar cahaya wahyu tidak berubah menjadi sumber perpecahan akibat pemahaman yang serampangan.
Singkawang, Subuh 13 Mei 2026
Edy Purwanto Achmad
***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?