![]() |
| Kisah inspiratif Imron Mujadi, jamaah dari Malang yang menjalani ibadah haji dari berdagang lontong./dok. Istimewa |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Di sudut pasar tradisional Pasar Klojen, ada seorang lelaki sederhana yang setiap pagi memikul harapan bersama dagangan lontongnya.
Namanya Imron Mujadi, usia 54 tahun. Penampilannya biasa saja. Tidak terkenal. Tidak kaya raya. Bahkan hidupnya penuh perjuangan sejak kecil. Namun siapa sangka, dari hasil menjajakan lontong itulah, Allah akhirnya memanggil dirinya ke Tanah Suci.
Imron adalah jamaah haji Kloter 14 SUB Jawa Timur dari Kabupaten Malang. Ia berangkat sendiri, karena istrinya telah lebih dahulu berhaji sebagai pendamping mertua.
Selama lebih dari 30 tahun, hidupnya dihabiskan di pasar. Setiap hari berangkat jauh dari rumah menuju Pasar Klojen Kota Malang, sekitar 7 kilometer jaraknya. Semua dijalani demi keluarga dan demi bertahan hidup.
Hidup Imron tidak pernah mudah. Beliau hanya lulusan SD. Setelah itu tak mampu melanjutkan sekolah karena keadaan ekonomi keluarga. Masa mudanya diisi dengan berbagai pekerjaan kasar.
Pernah menjadi buruh tani di kampung. Pernah pula menjadi kuli bangunan. Apa saja dikerjakan, asalkan halal dan bisa menyambung hidup.
Setelah menikah, kehidupan belum juga berubah. Beliau masih bekerja serabutan. Sampai akhirnya mencoba merintis usaha lontong kecil-kecilan. Dari yang awalnya sedikit, perlahan usaha itu berkembang. Bahkan pernah mencapai produksi 150 kilogram lontong setiap hari.
Namun di balik ramainya pesanan, ternyata ada kegelisahan yang diam-diam menggerogoti hatinya.
"Hidup terasa dikejar-kejar waktu," begitu kira-kira yang beliau rasakan.
Sejak dini hari bekerja, siang masih sibuk, malam belum selesai. Tubuh memang menghasilkan uang lebih banyak, tetapi hati terasa kosong. Ibadah sering terlambat. Waktu istirahat nyaris tidak ada. Dunia seolah menggulung seluruh hidupnya.
Lalu roda kehidupan berputar. Usaha yang dulu ramai perlahan mulai sepi. Penjualan tinggal sekitar 15 kilogram per hari. Secara ekonomi jelas menurun jauh. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, beliau harus kembali bekerja sebagai tukang bangunan.
Pagi-pagi sekali beliau berangkat ke pasar menjajakan lontong. Setelah pulang, langsung bekerja bangunan hingga sore. Menjelang malam masih harus mencari daun pisang untuk bungkus lontong esok hari.
Hidupnya benar-benar penuh peluh. Tetapi anehnya, justru di masa sulit itu beliau merasa lebih dekat dengan Allah.
"Sekarang memang lebih sedikit hasilnya, tapi ibadah menjadi lebih terjaga," ungkapnya.
Kalimat sederhana itu mengandung hikmah yang sangat dalam. Kadang manusia mengira banyak harta pasti membawa bahagia. Padahal belum tentu membawa tenang. Allah kadang mengurangi dunia agar seorang hamba kembali memiliki waktu mengetuk pintu langit.
Imron tidak pernah membayangkan akan berhaji. Bahkan niat pun hampir tidak ada.
Puluhan tahun beliau menabung hasil jualan lontong melalui arisan. Tetapi bukan untuk berhaji. Tabungan itu hanya dipikirkan sebagai bekal masa tua. Karena dalam pikirannya, haji adalah ibadah orang mampu. Sedangkan dirinya hanyalah penjual lontong pasar.
Sampai suatu hari mertuanya berniat mendaftar haji dan mengajak beliau sekalian mendaftar.
Imron langsung menolak. "Tidak punya uang. Tidak mampu," begitu pikirannya waktu itu.
Namun Allah memiliki rencana lain. Di saat bimbang, tiba-tiba uang arisan cair. Seolah ada jalan kecil yang dibukakan. Tetapi ternyata tetap belum cukup. Keraguan muncul lagi. Pak Imron kembali berkata kepada istrinya agar niat daftar haji dibatalkan saja.
Namun sang istri dengan tenang mengucapkan kalimat yang terus membekas dalam hidup mereka. "Ojo khawatir, Gusti Allah sugih."
Jangan khawatir. Allah Maha Kaya.
Kalimat sederhana dari seorang istri itu ternyata menjadi penguat terbesar dalam perjalanan hidup Imron.
Benar saja, tidak lama kemudian, istrinya mendapat rezeki tak terduga. Rezeki itulah yang akhirnya dipakai melengkapi biaya pendaftaran porsi haji.
Waktu terus berjalan, Imron bahkan sempat seperti melupakan bahwa dirinya telah memiliki nomor porsi haji.
Kehidupan bahkan makin sulit. Jualan makin sepi. Penghasilan pas-pasan. Tidak ada tabungan besar. Tidak ada aset mewah.
Hingga akhirnya di penghujung 2025 datang kabar panggilan manasik haji. Imron seperti tidak percaya. Antara bahagia dan takut bercampur menjadi satu.
Bahagia karena Allah benar-benar memanggilnya ke Baitullah. Tetapi juga takut, sebab biaya pelunasan ternyata jauh lebih besar dari biaya pendaftaran dulu.
Porsi sekitar 25 juta rupiah, sementara pelunasan mencapai sekitar 33 juta rupiah.
Beliau benar-benar bingung. Tidak punya uang. Tidak punya simpanan. Tidak tahu harus bagaimana. Hampir putus asa.
Tetapi lagi-lagi, istrinya tetap berkata, "Gusti Allah Sugih."
Sekali lagi, Allah menunjukkan kuasa-Nya. Anaknya yang mempunyai sepeda motor tua bersedia untuk membantu. Motor itu dijual demi membantu ayahnya berhaji.
Awalnya hanya ditawar enam juta rupiah karena pajaknya mati. Tetapi tiba-tiba ada orang lain menelepon dan berani membeli sembilan juta rupiah.
Belum selesai sampai di situ. Imron memiliki sebuah bedak (kios) kecil di pasar yang sudah lama menganggur karena kondisi pasar sedang sepi.
Ada teman yang menawar hanya satu juta rupiah sambil berkata, "Kalau tidak boleh ya sudah, wong pasar sepi."
Namun Allah kembali membuka jalan yang tak disangka-sangka. Seorang teman dekat Imron baru saja membeli dua bedak di depannya dengan harga lima puluh juta rupiah. Dengan memberanikan diri, Imron menawarkan bedaknya seharga dua puluh lima juta rupiah.
Luar biasanya, tanpa menawar sedikit pun, orang itu langsung membayar lunas. Imron hanya bisa mengucap, "Alhamdulillah."
Dari penjualan motor dan bedak itulah biaya pelunasan haji akhirnya terpenuhi.
Belum lagi biaya manasik. Saat itu Pak Imron bahkan belum mampu membayar administrasi manasik.
Sempat ditagih juga oleh panitia. Beliau hanya bisa meminta waktu. Namun lagi-lagi, pertolongan Allah datang tanpa diduga.
Selalu ada jalan. Selalu ada rezeki. Selalu ada pertolongan.
Bahkan untuk uang saku menuju Tanah Suci, Pak Imron sempat merasa tidak mungkin memiliki bekal. Tetapi sedikit demi sedikit, Allah kembali mencukupi semuanya.
Bukan berlebihan. Bukan kaya mendadak. Tetapi cukup. Selalu cukup. Itulah yang membuat beliau semakin yakin, "Allah pancen Sugih."
Allah benar-benar Maha Kaya.
Kini, nikmat panggilan itu beliau syukuri dengan sungguh-sungguh. Selama di Tanah Suci, beliau berusaha memaksimalkan ibadah.
Program-program KBIH diikuti dengan penuh semangat. Jika tidak ada kegiatan rombongan, beliau tetap berangkat sendiri ke Masjidil Haram untuk beribadah.
Karena beliau sadar, perjalanan ini bukan hasil kekuatan dirinya. Bukan karena kepandaian berdagang. Bukan pula karena kekayaan.
Tetapi semata-mata karena Allah yang berkehendak memanggil seorang penjual lontong sederhana menjadi tamu-Nya.
Kisah Imron Mujadi mengajarkan satu hal yang sangat penting. Jangan pernah minder untuk beribadah hanya karena merasa miskin. Sebab yang memanggil ke Baitullah bukan uang, tetapi Allah.
Betapa banyak orang kaya belum juga sampai ke Tanah Suci. Dan betapa banyak orang sederhana justru dimuliakan Allah menjadi tamu-Nya.
Kadang manusia terlalu sibuk menghitung kemampuan dirinya, sampai lupa menghitung kebesaran Tuhannya.
Padahal ketika Allah sudah berkehendak, jalan yang mustahil pun bisa terbuka. Motor tua bisa menjadi pelunasan haji.
Bedak pasar yang sepi bisa berubah menjadi jalan menuju Baitullah. Hasil lontong pun yang sederhana bisa menjadi bekal menuju Tanah Suci.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kaum muslimin semuanya. Bahwa dalam urusan ibadah, jangan pernah pesimis. Jangan merasa terlalu hina untuk dipanggil Allah.
Sebab selama hati masih yakin kepada-Nya, pertolongan itu selalu ada.
"Ojo khawatir, Gusti Allah Sugih."
Pewarta: Refan Purba
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?