Jatimsatunews.com, Sidoarjo - Prestasi membanggakan kembali datang dari SMP Muhammadiyah 4 (Mudipat) Porong. Tidak hanya siswa yang bersinar di ajang internasional, kali ini peran guru pun ikut mencuri perhatian. Dalam gelaran International Muslim Youth Project Olympiad (MYPO) 3.0, seorang guru dari Mudipat Porong berhasil menorehkan prestasi di tingkat global.
Adalah Khusnul Abidin, yang meraih Juara 3 kategori Best Practice Education dalam ajang yang berlangsung di Kolej Profesional MARA Bandar Melaka pada 30 April 2026. Prestasi ini menjadi bagian dari rangkaian MYPO 3.0 yang diselenggarakan pada 28 April hingga 2 Mei 2026 di Malaysia dan Singapura.
Dalam kompetisi tersebut, Khusnul Abidin mengangkat inovasi pendidikan bertajuk *“Innovative Character Building through Hizbul Wathan”*. Sebuah pendekatan pembentukan karakter yang memadukan nilai kepanduan Muhammadiyah dengan kebutuhan pendidikan modern. Melalui metode ini, pembinaan karakter tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi dihidupkan melalui aktivitas yang melatih kedisiplinan, kepemimpinan, dan tanggung jawab siswa.
Menariknya, keikutsertaan beliau bukan sekadar formalitas sebagai pendamping siswa. Ia tampil sebagai representasi guru yang juga terus belajar, berinovasi, dan berani menguji gagasannya di forum internasional. Dari sinilah terlihat bahwa pendidikan tidak hanya bergerak dari guru ke siswa, tetapi juga tumbuh bersama dalam satu ekosistem pembelajaran.
Prestasi ini semakin terasa istimewa karena diraih bersamaan dengan capaian siswa Mudipat Porong di kategori lain. Sebuah gambaran bahwa budaya inovasi di sekolah ini dibangun secara kolaboratif—antara siswa yang kreatif dan guru yang inspiratif.
Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendidikan Muhammadiyah mampu hadir di panggung global dengan identitas yang kuat. Tidak hanya berbicara tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang nilai, karakter, dan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.
Bagi Khusnul Abidin sendiri, penghargaan ini bukanlah tujuan akhir. Ia menjadi pengingat bahwa tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga terus berproses dan memberi teladan. Bahwa inovasi dalam pendidikan bukan pilihan, melainkan kebutuhan di tengah perubahan zaman.
Ke depan, capaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi para pendidik lainnya. Bahwa ruang kelas bukan batas, melainkan titik awal. Dan dari sana, lahir gagasan-gagasan yang mampu menjangkau dunia.
Karena sejatinya, ketika guru terus bertumbuh, maka generasi yang ia didik pun akan melangkah lebih jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?