![]() |
| Pakar Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah menanggapi dolar melonjak./dok. UMM |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Pakar Universitas Muhammadiyah Malang turut memperhatikan gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di Amerika Serikat yang belakangan ini telah menekan nilai tukar Rupiah secara signifikan.
Pelemahan ini menurut pakar UMM bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan ancaman nyata yang diam-diam menyusup ke dapur dan dompet masyarakat luas.
Menanggapi fenomena ini, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, M.Sc memberikan pandangan kritis sekaligus solusi praktis agar masyarakat tetap tangguh secara finansial.
Yunan menjelaskan bahwa kenaikan dolar memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor.
"Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal," ungkap Yunan pada rilis UMM, Senin (18/5).
Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung, padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal.
"Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat," sambungnya.
Menghadapi situasi fluktuatif ini, ia menyarankan masyarakat untuk tidak panik, melainkan memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak.
"Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko," imbuh Yunan.
Di tengah ancaman inflasi ini, ia juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan.
"Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita," ucapnya lagi untuk mengingatkan bahaya dari kebiasaan masyarakat saat ini.
Walau demikian, Yunan mendorong generasi muda untuk melihat fenomena penguatan dolar ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global.
"Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah," imbaunya.
Sebagai langkah penyelamatan, masyarakat diimbau untuk segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadinya masing-masing.
Kemudian, berhenti berlangganan layanan yang tidak krusial dan memangkas gaya hidup konsumtif adalah langkah darurat yang wajib diambil. Dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilannya, melainkan seberapa sehat dan rasional ia mengelola keuangannya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?