Banner Iklan

Revitalisasi Spirit Kartini: Perempuan sebagai Pilar Ketahanan Keluarga dan Bangsa

Admin JSN
21 April 2026 | 06.00 WIB Last Updated 2026-04-20T23:00:00Z
Prof.Dr.Hj. Umi Sumbulah, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang./dok. Istimewa

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:

April kerap menghadirkan perayaan Hari Kartini yang sarat simbol yakni kebaya, sanggul, lomba busana, hingga berbagai seremoni meriah. Namun di balik itu, ada pertanyaan yang patut diajukan yaitu sejauh mana spirit Raden Ajeng Kartini benar-benar hidup dalam keseharian perempuan Indonesia hari ini?

Revitalisasi semangat Kartini tidak cukup dimaknai sebagai tuntutan kesetaraan semata. Lebih dari itu, ia adalah tentang bagaimana perempuan mampu memosisikan diri sebagai aktor intelektual sekaligus penguat ketahanan keluarga unit terkecil yang menjadi fondasi ketangguhan bangsa.

Kartini adalah intelektual yang melampaui zamannya. Melalui surat-suratnya, ia mengkritik ketimpangan sosial dan memperjuangkan martabat perempuan. Di era ketika literasi perempuan masih terbatas, Kartini justru menjadikan tulisan sebagai alat perjuangan.

Semangat ini relevan hingga kini. Di tengah derasnya arus informasi, perempuan dituntut cerdas menyaring informasi bagi dirinya dan keluarganya. Perempuan 'ber-Kartini' hari ini adalah mereka yang bijak bermedia sosial, tidak mudah terjebak hoaks, dan mampu menumbuhkan nalar kritis dalam keluarga.

Di sinilah emansipasi intelektual menemukan maknanya yaitu kedaulatan berpikir. Perempuan yang merdeka secara intelektual akan lebih mampu mendidik anak, menguatkan keluarga, dan berkontribusi pada lingkungan sosialnya. Karena pada akhirnya, keluarga tetap menjadi fondasi utama sebuah bangsa.

Ketahanan keluarga bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga ketangguhan menghadapi tekanan fisik, mental, moral, dan spiritual. Dalam konteks ini, perempuan berperan sebagai jangkar yang menjaga stabilitas keluarga.

Kualitas generasi sangat ditentukan oleh peran perempuan sebagai pendidik pertama. Nilai moral, etika, integritas, hingga kesehatan mental anak banyak dibentuk sejak dini dalam keluarga.

Kasih sayang dan rasa aman yang diberikan ibu menjadi benteng awal bagi anak dari pengaruh negatif lingkungan. Di saat yang sama, budaya literasi perlu ditanamkan agar anak tumbuh dengan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis.

Tantangan zaman kini jauh lebih kompleks dibanding era Kartini berupa ketidakpastian ekonomi, krisis lingkungan, hingga dinamika geopolitik global. Dalam situasi ini, perempuan dituntut menjadi manajer krisis di tingkat keluarga.

Kita melihat bagaimana banyak ibu mampu mengelola keuangan rumah tangga di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Kreativitas dan kecerdasan perempuan sering menjadi penyelamat, baik melalui usaha mandiri maupun pengelolaan keuangan yang bijak.

Selain itu, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga harmoni keluarga. Dengan kecerdasan emosionalnya, perempuan kerap menjadi mediator dalam konflik. Keluarga yang harmonis terbukti lebih tangguh menghadapi tekanan eksternal.

Masih ada anggapan keliru bahwa emansipasi perempuan berarti 'mengalahkan' laki-laki. Padahal, gagasan Kartini justru menekankan kemitraan sejajar.

Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menginginkan perempuan mendapatkan pendidikan agar mampu menjadi mitra strategis bagi laki-laki, sekaligus pendidik yang lebih baik bagi anak-anaknya. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Qasim Amin dalam Tahrir al-Mar’ah (1899), yang menekankan pentingnya pendidikan perempuan untuk melahirkan generasi unggul.

Kemitraan sejajar inilah yang menjadi kunci ketahanan keluarga. Perempuan bukan objek, melainkan subjek yang berdiri berdampingan dengan laki-laki dalam menghadapi tantangan zaman. Karena itu, peringatan Kartini seharusnya melampaui simbolisme. Isu-isu substantif seperti perlindungan dari kekerasan, akses pendidikan, dan kemandirian ekonomi perempuan perlu menjadi perhatian utama.

Menjadi 'Kartini' di abad ke-21 tidak harus berarti menjadi tokoh besar. Perempuan bisa berperan dalam berbagai bentuk: ibu yang tangguh, guru inspiratif, pekerja berintegritas, mahasiswa yang kritis, atau anggota masyarakat yang memberi kontribusi nyata.

'Kegelapan' yang dilawan Kartini adalah kebodohan dan keterbelakangan. Sementara 'terang' yang dicita-citakannya adalah kemajuan berpikir melalui pendidikan. Semangat ini harus terus dijaga agar tidak berhenti pada seremoni semata.

Revitalisasi spirit Kartini hari ini berarti menghadirkan aksi nyata berupa memperkuat literasi, pendidikan, kemandirian ekonomi, kesehatan mental, dan kepedulian sosial. Semua itu menjadi fondasi ketahanan keluarga yang adaptif di era digital.

Pemberdayaan perempuan bukan untuk mendominasi, melainkan untuk membangun kemitraan yang adil dan seimbang, sebagaimana peran manusia sebagai hamba dan khalifah baik laki-laki maupun perempuan.

Ketahanan keluarga yang kokoh lahir dari kemitraan sejajar antara laki-laki dan perempuan. Dukungan pasangan dan lingkungan sosial menjadi faktor penting agar perempuan dapat menjalankan perannya secara optimal.

Perempuan adalah arsitek di balik layar yang membangun fondasi keluarga. Ketika perempuan berdaya, teredukasi, dan sehat secara mental, maka peluang terciptanya keluarga sejahtera semakin besar. Menguatkan perempuan berarti mengamankan masa depan bangsa.

Ditulis oleh Prof.Dr.Hj. Umi Sumbulah, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang.

***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Revitalisasi Spirit Kartini: Perempuan sebagai Pilar Ketahanan Keluarga dan Bangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now