![]() |
| Agus Koecink, narasumber Talkshow Seni Sesi 1 DKS di Surabaya pada 26 April 2026./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Dewan Kesenian Surabaya memulai lagi perbincangan seni melalui Talkshow Seni Sesi 1, dengan narasumber Agus Koecink.
Agenda ini digelar untuk membangunkan lagi perbincangan seni yang surut sejak lama di Balai Pemuda, yang sebelumnya menjadi situs pergerakan kaum seniman.
Kegiatan ini bakal berlangsung pada Minggu, 26 April 2026, pukul 16.00 sampai selesai, di Teras Dewan kesenian Surabaya, Kompleks Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya.
Topik yang dibahas tentang 'Menghidupkan Kota, Mengukir Martabat: Catatan Seni Rupa Surabaya dan Sekitarnya'.
Agus Koecink dapat disebut sebagai seniman multitalenta yang dikenal dengan karya-karyanya yang memadukan warna-warna cerah dan gambar doodle. Karya-karyanya telah dipamerkan secara internasional sejak awal tahun 2000-an.
Sebagai seorang praktisi seni rupa, Agus juga seorang penulis dan kurator yang cukup disegani. Kontribusinya yang tak kenal lelah pada kancah seni telah memberinya berbagai penghargaan, termasuk Chevalier de L’Ordre des Arts et des Lettres yang bergengsi dari Menteri Kebudayaan Perancis pada tahun 2021.
Bagi Agus Koecink, Surabaya bukan sekadar bentang beton, aspal dan hiruk-pikuk pelabuhan. Di balik deru industrialisasinya, Surabaya adalah sebuah organisme yang bernapas. Sebuah kota hanya akan menjadi raga yang kosong tanpa kehadiran "jiwa", dan jiwa itu ditiupkan melalui gerak kreatif para senimannya.
Menurut Agus, catatan seni rupa surabaya dan Sekitarnya hadir sebagai sebuah upaya untuk merekam jejak, menangkap getaran dan menarasikan bagaimana seni rupa menjadi pilar utama dalam membangun martabat kota ini.
Sinergi Estetika dan Tata Kota
Seiring dengan berkembangnya tata kota, dari revitalisasi kawasan cagar budaya hingga munculnya ruang-ruang urban modern, para seniman rupa Surabaya tidak hanya menjadi penonton. "Mereka tumbuh dan berkembang berbarengan dengan perubahan fisik kota," katanya.
Geliat pameran di galeri-galeri independen, diskusi di sudut-sudut studio, hingga aksi seni di ruang terbuka adalah bukti bahwa seni rupa adalah indikator kesehatan mental dan spiritual sebuah kota. Tanpa seni, ujar Agus, Surabaya mungkin hanya akan menjadi pusat perdagangan. "Dengan seni, Surabaya menjelma menjadi kota yang memiliki harga diri dan kedalaman rasa.
"Seni rupa di Surabaya bukan sekadar hiasan dinding, melainkan napas yang memastikan kota ini tetap memiliki hati di tengah derap pembangunan," lanjutnya.
Melalui catatan ini, ajak Agus koecink, mari kita menelusuri kembali lorong-lorong kreatifitas yang telah, sedang dan akan terus menghidupkan Surabaya. Sebuah penghormatan bagi mereka yang terus menggoreskan warna, membentuk rupa dan menjaga martabat kota tercinta. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?