![]() |
| Acara talkshow Merawat Sanad, Melanjutkan Perjuangan digelar dalam rangka Haul ke-23 KH Hasyim Sholeh di PP Darul Huda Mayak, Ponorogo (6/4)./dok. Istimewa |
PONOROGO | JATIMSATUNEWS.COM - Haul ke-23 KH Hasyim Sholeh, muassis PP Darul Huda Mayak Ponorogo, digelar dengan penuh khidmat pada Senin, 6 April 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Shofa Pesantren Darul Huda dan mengusung semangat berbagi pengalaman serta menapaki jalan kesuksesan melalui talkshow bertema 'Merawat Sanad, Melanjutkan Perjuangan'.
Sejumlah narasumber inspiratif dihadirkan yang juga merupakan alumni Pesantren Darul Huda. Di antaranya Prof. Dr. Hj. Erfaniah Zuhriah, M.H., Wakil Dekan II Fakultas Syariah UIN Maliki Malang; Nur Habibah, S.H., Hakim Pengadilan Agama Pacitan; Nurul Hidayatul, M.M., M.Farm., seorang apoteker sekaligus akademisi; Reza Asnelly Zam, M.Ed.; serta Ziana Walida, kreator konten.
Pada sesi bertajuk 'Alumni Menyapa Santri', para narasumber menekankan pentingnya peran strategis santri sebagai agen perubahan di tengah tantangan zaman.
Mereka menyoroti berbagai hambatan yang dihadapi generasi muda saat ini, seperti distraksi digital dan krisis identitas, yang dapat menghambat fokus belajar serta pengembangan diri.
Para santri didorong untuk terus meningkatkan motivasi belajar, memperkuat karakter, dan membangun mental yang tangguh.
Selain menguasai ilmu agama, santri juga diharapkan mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum secara adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai adab, kejujuran, kesabaran, dan istiqomah sebagai kunci utama kesuksesan.
"Setiap kesuksesan tidak diraih secara instan. Dibutuhkan perjuangan, pengorbanan, serta ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan," ujar salah satu narasumber dalam sesi diskusi.
Dalam pesannya, para alumni juga mengingatkan bahwa santri adalah calon pemimpin masa depan. Kesuksesan, menurut mereka, dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Prof. Dr. Hj. Erfaniah Zuhriah secara khusus memberikan motivasi mendalam kepada para santri. Ia mengenang masa-masa ketika dirinya juga menimba ilmu di pesantren dengan segala dinamika yang ada.
"Saya berdiri di sini, menatap wajah-wajah kalian, teringat masa lalu saya. Menjadi santri adalah anugerah terbesar. Jangan pernah mengeluh dengan keterbatasan di pesantren, karena di sinilah mental kalian ditempa menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berakhlak mulia," tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya usaha maksimal yang diiringi dengan spiritualitas. "Usaha maksimal, riyadhoh seperti sholat malam dan puasa Senin-Kamis harus dijalankan. Selebihnya, kita pasrahkan kepada Allah yang akan mengatur," imbuhnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan oleh pihak penyelenggara bahwa nilai-nilai perjuangan KH Hasyim Sholeh dapat terus hidup dan menginspirasi generasi santri untuk melanjutkan estafet perjuangan dengan semangat keilmuan, akhlak, dan keteguhan iman. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?