![]() |
| Dosen UIN Malang mengikuti Diklat PIP yang diselenggarakan BPIP untuk penguatan kualitas./dok. Istimewa |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Program Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila (Diklat PIP) yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terus menunjukkan penguatan kualitas.
Salah satu faktor utama dalam peningkatan tersebut adalah penyamaan persepsi di kalangan widyaiswara sebagai pengajar utama dalam proses pembelajaran.
Penyamaan persepsi dilaksanakan pada Ahad, 5 Maret 2026, secara daring. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memastikan keselarasan pemahaman dan pendekatan antarwidyaiswara sebelum pelaksanaan diklat.
Upaya ini penting untuk memastikan materi yang disampaikan tetap selaras, sistematis, dan kontekstual dalam menghadapi tantangan globalisasi, disrupsi digital, serta potensi degradasi nilai-nilai kebangsaan.
Dengan kesamaan pandangan, widyaiswara diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga aplikatif.
Dalam implementasinya, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan BPIP untuk menyelenggarakan Diklat PIP selama lima hari, mulai 6 hingga 10 Mei 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid di BPSDM Jawa Timur dan melalui platform daring, diikuti 60 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang terbagi dalam dua kelas.
Salah satu widyaiswara dalam kegiatan ini adalah Miftahudin Azmi, M.H.I., dosen Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Ia menyampaikan materi tentang Pembangunan Nasional Berdasarkan Pancasila dan menekankan pentingnya kesamaan persepsi antarwidyaiswara.
"Kesamaan persepsi antarwidyaiswara menjadi kunci agar materi yang disampaikan tetap utuh dan mudah dipahami peserta," ujar Miftahudin Azmi.
Direktur Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan BPIP, Toto Purbiyanto, S.Kom., M.Ti., menjelaskan bahwa metode pembelajaran dalam Diklat PIP mengedepankan pendekatan interaktif dan kontekstual, seperti ceramah interaktif, studi kasus, diskusi kelompok, serta simulasi implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
"Penyamaan persepsi widyaiswara menjadi faktor penting agar seluruh peserta mendapatkan pemahaman yang utuh dan tidak parsial terhadap nilai-nilai Pancasila," ujar Toto Purbiyanto.
Ia menambahkan bahwa peran widyaiswara tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan inspirator yang mampu mengaitkan materi dengan persoalan aktual yang dihadapi peserta, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat.
Sejumlah peserta menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yang seragam namun tetap kontekstual membuat materi lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan mereka.
Hal ini sekaligus memperkuat efektivitas Diklat PIP dalam membentuk karakter ASN yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Dengan demikian, penyamaan persepsi widyaiswara diharapkan terus menjadi strategi utama dalam meningkatkan kualitas Diklat PIP sebagai instrumen penguatan ideologi bangsa di tengah dinamika zaman yang terus berkembang. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?