![]() |
| Senator Lia Istifhama mengimbau DPM dapat menjadi politisi muda yang paham terhadap kebutuhan kontekstual masyarakat./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Lia Istifhama turut menyambut momentum pengukuhan Duta Parlemen Muda (DPM) yang telah digelar pada Minggu, 26 April 2026.
Senator Lia Istifhama kemudian menitipkan pesan kepada anggota DPM tentang pentingnya kemampuan politisi muda untuk memahami kebutuhan masyarakat secara kontekstual.
Menurut Lia, setiap wilayah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan kebijakan tidak bisa disamaratakan. Para duta parlemen muda diharapkan mampu menjadi representasi aspirasi rakyat secara nyata dan adaptif.
"Harapan saya ke depan, Duta Parlemen Muda pasca dikukuhkan yaitu bagaimana kalian benar-benar mengerti apa keinginan masyarakat di setiap wilayah. Tidak semua daerah bisa diperlakukan sama, semuanya harus dibaca secara situasional, adaptif, dan inventif," tutur Lia pada Senin (27/4).
Ada empat poin yang ia sampaikan dalam momen menyambut DPM pasca-pengukuhan.
Pertama, kontingensi teori akan menjadi kunci kepemimpinan politisi muda.
Kedua, generasi muda harus menjadi politisi yang kuat dan tangguh.
Ketiga, demokrasi sehat dimulai dari generasi muda.
Keempat, peran strategis politisi muda pada era digital.
Pada poin pertama, politisi asal Jatim ini memperkenalkan konsep kontingensi teori, yakni pendekatan kepemimpinan yang menyesuaikan strategi dengan kondisi nyata di lapangan.
Ia mencontohkan kondisi di Surabaya yang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) tinggi, salah satunya dari sektor kendaraan bermotor. Namun, ia menyoroti ketimpangan distribusi manfaat terhadap daerah lain yang turut terdampak.
"Kita mendapatkan pemasukan besar dari kendaraan, tapi jalan yang dilalui tidak hanya di Surabaya atau Jakarta. Ada daerah lain yang menanggung risiko kerusakan jalan, namun tidak mendapatkan manfaat. Di sinilah pentingnya kebijakan yang adil," ungkap Lia.
Hal ini menjadi refleksi penting bagi para politisi daerah maupun politisi nasional agar mampu merumuskan kebijakan yang berkeadilan dan tidak terpusat.
Lalu, pada poin kedua, Lia mendorong politisi muda untuk cerdas membaca situasi, dan menekankan pentingnya resiliensi atau ketangguhan mental bagi generasi muda.
"Kalian harus menjadi pribadi yang kuat, memiliki resiliensi. Resiliensi adalah bagaimana kalian tetap tangguh menghadapi tantangan," jelasnya.
Pada dunia politik yang dinamis, kemampuan bertahan dan beradaptasi menjadi faktor penting bagi politisi muda untuk tetap relevan dan berpengaruh.
Poin ketiga, Lia Istifhama mengajak generasi muda untuk membangun demokrasi yang sehat melalui pendekatan yang tidak kontradiktif, melainkan persuasif dan inklusif.
Ia menekankan pentingnya:
Membangun kesepahaman di tengah perbedaan;
Mengedepankan edukasi politik yang konstruktif; dan
Meningkatkan kecerdasan membaca isu-isu terkini.
Nilai-nilai ini menurut Lia penting untuk menciptakan benevolent society, yakni masyarakat yang saling peduli dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Poin keempat yang menyangkut era digital, generasi muda dinilai Lia mempunyai peluang besar untuk memainkan peran strategis dalam politik. Dengan demikian teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi.
"Kalian punya alasan untuk terus speak up dan tampil di depan publik. Tanyakan pada diri kalian, apa yang bisa saya lakukan untuk negara ini. Maksimalkan kolaborasi dan konvergensi digital," imbaunya.
Lia kemudian menegaskan bahwa mahasiswa dan pelajar dapat menjadi bagian dari politisi muda yang kemudian diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang aktif, kritis, dan solutif demi perkembangan dan kemajuan bangsa. ***
Editor: YAN
Baca juga: Senator Lia Istifhama Terima Audiensi CreSHome, Dorong Gen Z Melek Politik dan Digital



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?