Banner Iklan

Cinta Tak Pernah Menagih: Mengapa Kita Terus Menghitung?

Admin JSN
28 April 2026 | 14.50 WIB Last Updated 2026-04-28T07:51:15Z
Artikel karya Saiful Anam, Cinta Tak Pernah Menagih: Mengapa Kita Terus Menghitung?/dok. Istimewa

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:

Cinta Tak Pernah Menagih: Mengapa Kita Terus Menghitung?

Dalam khazanah klasik Islam, para ulama membedakan secara tegas antara mahabbah (cinta) dan mu‘amalah (transaksi). Yang pertama bersumber dari kejernihan qalb, sementara yang kedua tunduk pada logika ‘iwadl—pertukaran dan timbal balik. Ketika keduanya tercampur, yang lahir bukan lagi cinta dalam pengertian ontologisnya, melainkan relasi yang dibungkus dengan bahasa kasih, tetapi digerakkan oleh mekanisme perhitungan.

Pada titik inilah problem relasi modern menemukan akarnya.

Cinta hari ini tidak lagi dipahami sebagai hal—sebuah keadaan batin yang dianugerahkan dan dirawat—melainkan direduksi menjadi fi‘l, tindakan-tindakan lahiriah yang sarat ekspektasi. Perhatian diberikan agar dibalas, kesetiaan dijaga agar dijamin, bahkan pengorbanan pun diam-diam mengandung tuntutan kompensasi.

Dalam istilah sederhana, cinta telah tergelincir menjadi ‘aqd ghairu mashruh—kontrak tak tertulis yang memaksa tanpa pernah disepakati.

Fenomena ini menjelaskan mengapa rasa sakit begitu dominan dalam relasi yang mengatasnamakan cinta. Luka yang muncul bukanlah manifestasi dari mahabbah, melainkan konsekuensi dari intizhar al-jaza’—menunggu balasan yang tidak kunjung datang.

Ketika seseorang berkata, "Aku sudah berbuat banyak untukmu," sesungguhnya ia sedang membuka daftar al-hisab—catatan amal dalam pengertian yang sangat duniawi. Di sana terdapat akumulasi kebaikan yang diharapkan berbalas setimpal. Ketika harapan itu runtuh, yang lahir bukan sekadar kecewa, melainkan ihsas bi al-khasarah—perasaan dirugikan. Dan perasaan dirugikan tidak pernah lahir dari cinta. Ia lahir dari transaksi.

Dalam perspektif tasawuf Ahlussunnah wal Jama’ah, cinta yang murni adalah cinta yang terbebas dari hazz al-nafs—kepentingan ego. Memberi bukan karena ingin memperoleh, tetapi karena kesadaran batin memang meniscayakan memberi. Di sinilah konsep ikhlas menemukan relevansinya berupa tindakan yang tidak disertai pamrih, bahkan terhadap balasan emosional sekalipun.

Cinta semacam ini tidak memiliki memori untuk menagih. Ia tidak menyimpan arsip kebaikan, tidak menghitung intensitas perhatian, dan tidak mengukur nilai pengorbanan.

Ia memberi, karena ia adalah memberi.

Dalam tradisi laku seperti yang dijaga oleh Pagar Nusa, prinsip ini menemukan bentuk praksisnya. Seorang pesilat tidak diukur dari agresivitasnya, tetapi dari qudrat ‘ala ḍabṭ al-nafs—kemampuan mengendalikan diri. Kekuatan sejati bukan pada serangan, melainkan pada penguasaan batin.

Demikian pula cinta: ia tidak diuji pada seberapa banyak ia menuntut, tetapi pada seberapa jauh ia mampu bebas dari tuntutan.

Cinta yang berangkat dari kejernihan qalb tidak mudah terpengaruh oleh madḥ (pujian) maupun dham (celaan). Ia tidak tumbuh dari validasi, dan tidak runtuh oleh penolakan. Ia melihat manusia dalam esensinya, bukan dalam konstruksi atribut yang dilekatkan kepadanya.

Di sinilah cinta menjadi mauqif akhlaqi—posisi etis yang radikal. Ia menolak tunduk pada logika utilitarian yang hari ini mendominasi hampir seluruh dimensi kehidupan. Ia berdiri sebagai kesadaran yang merdeka, tidak bergantung pada apa yang diterima, tetapi pada kualitas batin yang memberi.

Namun demikian, penting ditegaskan: cinta yang bebas dari transaksi bukan berarti tanpa batas. Dalam tradisi hikmah para ulama NU, keseimbangan antara raḥmah dan ḥikmah adalah prinsip dasar. Cinta yang matang justru meniscayakan kesadaran batas—bukan untuk membatasi kasih, tetapi untuk menjaga karamah al-insan (martabat manusia).

Ia mampu memberi tanpa kehilangan arah, dan mampu melepaskan tanpa terjerumus pada kebencian.

Maka, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi 'seberapa besar kita mencintai', melainkan apakah cinta itu masih bebas dari perhitungan?

Sebab secara konseptual maupun empiris, cinta dalam bentuknya yang paling murni tidak melahirkan rasa sakit. Luka yang kita alami lebih sering merupakan produk dari ekspektasi, dari ego yang merasa memiliki hak atas balasan, atau dari kesadaran transaksional yang tidak disadari.

Dengan demikian, rasa sakit bukanlah dalil cinta, melainkan indikasi distorsi. Dan setiap distorsi, pada akhirnya, akan menuju pada infisal—keretakan.

Sementara cinta yang lahir dari ikhlas, yang terbebas dari perhitungan dan tuntutan, akan tetap utuh—bahkan ketika ia tidak lagi memiliki alasan duniawi untuk bertahan. Di situlah letak kekuatannya.

Bukan pada apa yang ia dapatkan, tetapi pada kemampuannya untuk tetap menjadi dirinya sendiri tanpa menagih, tanpa menghitung, tanpa kehilangan makna.

Artikel ditulis oleh Saiful Anam.

***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cinta Tak Pernah Menagih: Mengapa Kita Terus Menghitung?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now