Banner Iklan

Wardana, Modernisasi Pertanian dari Konvensional ke Teknologi

Anis Hidayatie
07 Maret 2026 | 14.56 WIB Last Updated 2026-03-07T07:56:53Z

 


Gugurnya Romantisme Cangkul dan Keringat

SAPA TOKOH | JATIMSATUNEWS.COM: Selama puluhan tahun, citra petani di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pasuruan, identik dengan topi caping, punggung yang membungkuk di bawah terik matahari, dan cangkul yang menghantam tanah keras. Ada semacam romantisme yang salah kaprah bahwa bertani haruslah menderita agar hasilnya berkah. Namun, bagi Agus Setya Wardana, romantisme itu sudah usang dan justru menjadi penghambat kemajuan. Di mata Wardana, jika pertanian tetap dibiarkan konvensional dan melelahkan secara fisik tanpa hasil finansial yang sepadan, maka profesi petani akan punah ditelan zaman karena anak muda tidak lagi tertarik menyentuh lumpur.

Wardana membawa misi besar ke Gedung DPRD: Modernisasi. Ia memahami bahwa untuk menyelamatkan masa depan pangan Kabupaten Pasuruan, teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Modernisasi yang ia usung bukan sekadar mengganti sapi dengan traktor, melainkan pergeseran paradigma (shifting paradigm) dari bertani sebagai cara bertahan hidup (survival) menjadi bertani sebagai industri yang presisi dan menguntungkan.

Program Modernisasi: Membawa Alat Mesin Pertanian (Alsintan) ke Desa

Sebagai Ketua Komisi II, Wardana menjadi motor penggerak dalam penganggaran dan distribusi Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang lebih masif. Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk tidak setengah-setengah dalam melakukan mekanisasi. Mulai dari traktor roda empat, combine harvester (mesin pemanen kombinasi), hingga power thresher (mesin perontok padi).

Namun, Wardana menekankan bahwa bantuan alat tidak boleh sekadar "bagi-bagi" barang. Ia memastikan adanya pendampingan teknis agar kelompok tani mampu merawat dan mengoperasikan alat tersebut secara mandiri. Ia sering turun ke lapangan untuk mengecek apakah mesin-mesin tersebut benar-benar bekerja atau hanya menjadi rongsokan di gudang desa. Baginya, setiap unit Alsintan yang turun ke desa adalah investasi negara untuk menaikkan martabat petani agar mereka tidak lagi habis energinya hanya untuk urusan otot, tapi bisa lebih banyak menggunakan otak untuk strategi bisnis tani.

Adu Strategi: Tradisional vs Teknologi (The Power of Data)

Wardana bukan tipe politisi yang hanya bicara teori. Ia adalah praktisi yang suka melakukan eksperimen lapangan. Salah satu langkah fenomenal yang ia lakukan adalah membuat plot perbandingan (demplot) antara metode tradisional dan metode teknologi. Ia ingin masyarakat melihat dengan mata kepala sendiri perbedaannya.

Dalam metode tradisional, petani sering kali menebar benih secara sembarangan, menggunakan pupuk kimia secara berlebihan (over-dosis) tanpa ukur suhu tanah, dan mengandalkan air hujan semata. Hasilnya? Biaya produksi membengkak, tanah menjadi jenuh dan rusak, serta hasil panen yang fluktuatif.

Bandingkan dengan metode teknologi yang diterapkan Wardana:

Penggunaan Mulsa: Penggunaan plastik mulsa di lahan hortikultura bukan sekadar tren. Agus mengedukasi bahwa mulsa berfungsi menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan mencegah erosi unsur hara. Efisiensinya luar biasa; petani tidak perlu lagi menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk mencabut rumput liar.

Pupuk Organik & Pembenah Tanah:

 Wardana adalah pendekar pupuk organik. Di tengah kelangkaan pupuk subsidi, ia berteriak lantang agar petani kembali memuliakan tanah dengan bahan organik. Di Wardana Farm, ia membuktikan bahwa kombinasi pupuk organik yang tepat tidak hanya menyuburkan tanaman, tapi juga memperbaiki struktur tanah yang sudah "sakit" akibat kecanduan kimia selama puluhan tahun.

Jaringan Irigasi Modern & Sprinkler: Di lereng pegunungan seperti Tosari, air adalah emas. Agus memperkenalkan sistem irigasi tetes dan sprinkler yang presisi. Air dialirkan langsung ke akar tanaman dalam jumlah yang pas, sehingga tidak ada setetes air pun yang terbuang percuma. Teknologi ini memungkinkan petani tetap produktif meski di musim kemarau panjang.

Dampak Nyata: Ledakan Produktivitas dan Efisiensi

Hasil dari modernisasi ini bukan sekadar angka di atas kertas laporan dinas. Dampaknya sangat terasa di dompet petani. Dengan teknologi, Agus mencatat adanya penurunan biaya tenaga kerja hingga 30-40%. Jika dulu untuk mengolah satu hektar lahan butuh sepuluh orang selama seminggu, kini dengan traktor bisa selesai dalam hitungan jam.

Peningkatan produktivitasnya pun signifikan. Penggunaan benih berkualitas hasil kultur jaringan yang dipadukan dengan perawatan berbasis teknologi mampu meningkatkan hasil panen kentang dan sayuran hingga dua kali lipat. Kualitas produk pun menjadi lebih seragam, sehingga memiliki nilai tawar yang tinggi di mata supplier besar maupun supermarket.

"Teknologi itu investasi, bukan beban," kata Agus dalam sebuah forum diskusi bersama petani muda. Ia ingin menghapus ketakutan petani terhadap biaya awal teknologi. Melalui kebijakan di DPRD, ia memperjuangkan skema pembiayaan yang mudah agar petani kecil pun bisa mengakses teknologi modern ini.

Membangun Ekosistem Digital Pertanian

Visi modernisasi Agus tidak berhenti di alat fisik. Ia mulai melirik potensi Internet of Things (IoT) untuk pertanian di Kabupaten Pasuruan. Ia bermimpi tentang sensor tanah yang bisa mengirim data ke ponsel petani, memberitahu kapan saatnya menyiram atau memupuk. Meski ini tantangan besar, langkah awal telah ia mulai dengan mendorong literasi digital bagi para pengurus kelompok tani.

Agus percaya bahwa Pasuruan memiliki potensi untuk menjadi "Silicon Valley"-nya pertanian di Jawa Timur jika modernisasi ini dilakukan secara konsisten. Ia ingin melihat Pasuruan tidak lagi hanya menjual komoditas mentah, tapi juga hasil olahan yang diproses dengan mesin-mesin modern di tingkat desa.

Kesimpulan: Teknologi sebagai Jalan Keadilan

Bagi Agus Setya Wardana, modernisasi pertanian adalah bentuk keadilan bagi kaum tani. Teknologi memberikan waktu luang bagi petani untuk berkumpul dengan keluarga, memberikan kesempatan bagi anak-anak petani untuk belajar lebih tinggi, dan memberikan kepastian ekonomi yang lebih stabil.

Modernisasi bukan berarti menghilangkan kearifan lokal, melainkan memperkuat kearifan tersebut dengan alat yang lebih perkasa. Di tangan Agus, teknologi adalah lencana perjuangan untuk memastikan bahwa petani Pasuruan tidak lagi dipandang sebagai masyarakat kelas dua, melainkan sebagai pengusaha pangan yang modern, cerdas, dan bermartabat. Bab ini menutup dengan sebuah keyakinan: bahwa di bawah bimbingan teknologi dan kebijakan yang tepat, tanah Pasuruan akan tetap menjadi tanah harapan bagi generasi mendatang. 




Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wardana, Modernisasi Pertanian dari Konvensional ke Teknologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now