Banner Iklan

Syawalan, Membumikan Mentalitas Kerahmatan Semesta

Anis Hidayatie
26 Maret 2026 | 08.43 WIB Last Updated 2026-03-26T01:43:15Z

 


Syawalan: Membumikan Mentalitas Kerahmatan Semesta (foto, istimewa red)

Oleh. Prof Triyo Supriyatno, Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Syawal bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadhan. Ia adalah gerbang baru untuk membuktikan apakah ibadah sebulan penuh benar-benar membekas dalam laku hidup sehari-hari. Jika Ramadhan adalah madrasah ruhani, maka Syawalan adalah ruang praksisnya. Di sinilah nilai-nilai ketakwaan diuji: apakah ia berhenti sebagai ritual, atau menjelma menjadi mentalitas kerahmatan semesta—sikap hidup yang menghadirkan kasih sayang, keadilan, dan kemaslahatan bagi semua.

Tradisi Syawalan di Nusantara, dengan halal bihalal sebagai puncaknya, bukan sekadar seremoni saling memaafkan. Ia adalah mekanisme sosial yang sangat cerdas. Dalam masyarakat yang majemuk, penuh perbedaan latar belakang, kepentingan, bahkan konflik laten, Syawalan menjadi jembatan rekonsiliasi. Orang-orang yang sebelumnya berjarak dipertemukan kembali dalam suasana batin yang lunak. Ego diturunkan, tangan disambungkan, hati dibersihkan.

Di sinilah kita menemukan makna terdalam dari Islam sebagai rahmat bagi semesta. Allah Swt. berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini tidak hanya menegaskan misi kenabian, tetapi juga menjadi mandat bagi umat Islam untuk menghadirkan kebermanfaatan universal. Rahmat tidak boleh eksklusif; ia harus melampaui batas identitas, golongan, dan bahkan agama.

Namun, pertanyaannya: bagaimana Syawalan bisa membumikan mentalitas kerahmatan itu dalam kehidupan nyata?

Pertama, melalui kesadaran spiritual yang bertransformasi menjadi etika sosial. Puasa Ramadhan melatih manusia untuk menahan diri—dari lapar, amarah, dan hawa nafsu. Tetapi latihan ini tidak boleh berhenti pada dimensi individual. Ia harus meluas menjadi kepedulian sosial. Orang yang benar-benar berpuasa, menurut Nabi Muhammad saw., bukan hanya yang menahan lapar, tetapi juga yang menjaga lisan dan perilaku dari menyakiti orang lain. Dalam hadis disebutkan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh pada puasanya dari makan dan minum” (HR. Bukhari).

Syawalan adalah momentum untuk menguji hasil latihan itu. Apakah kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih empatik, dan lebih adil? Ataukah kita kembali pada kebiasaan lama: mudah marah, gemar menghakimi, dan abai terhadap penderitaan sesama?

Kedua, Syawalan mengajarkan pentingnya rekonsiliasi sebagai fondasi peradaban. Dalam kehidupan sosial, konflik adalah keniscayaan. Namun, yang membedakan masyarakat beradab dengan yang tidak adalah cara mereka mengelola konflik. Islam mengajarkan islah (perdamaian) sebagai jalan utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu” (QS. Al-Hujurat: 10).

Tradisi saling memaafkan dalam Syawalan bukanlah formalitas kosong. Ia adalah latihan kolektif untuk meruntuhkan tembok kebencian. Dalam konteks bangsa Indonesia yang plural, nilai ini sangat relevan. Polarisasi sosial, perbedaan pilihan politik, hingga konflik berbasis identitas sering kali merusak kohesi sosial. Syawalan hadir sebagai oase: mengingatkan bahwa persaudaraan kemanusiaan jauh lebih penting daripada perbedaan.

Ketiga, membumikan kerahmatan berarti melawan mentalitas hegemonik—sikap merasa paling benar, paling suci, dan berhak mendominasi orang lain. Mentalitas ini sering menjadi sumber konflik, baik dalam lingkup kecil seperti keluarga, maupun dalam skala besar seperti masyarakat dan negara.

Dalam perspektif aqli (rasional), mentalitas hegemonik bertentangan dengan prinsip keadilan sosial. Ia menciptakan ketimpangan, menutup ruang dialog, dan melanggengkan ketidakadilan. Sementara itu, mentalitas kerahmatan justru membuka ruang inklusivitas, menghargai perbedaan, dan mendorong kolaborasi.

Syawalan seharusnya menjadi momentum dekonstruksi ego. Ketika seseorang dengan tulus meminta maaf, ia sedang meruntuhkan superioritas dirinya. Ia mengakui bahwa dirinya tidak sempurna. Ini adalah langkah awal menuju kematangan moral. Sebab, hanya orang yang rendah hati yang mampu menghadirkan rahmat bagi orang lain.

Keempat, Syawalan harus mendorong praksis sosial yang konkret. Kerahmatan tidak cukup diwacanakan; ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam konteks kekinian, ini bisa berupa kepedulian terhadap kaum miskin, perlindungan terhadap lingkungan, serta komitmen terhadap keadilan sosial.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin” (QS. Al-Ma’un: 1–3). Ayat ini menunjukkan bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari ritual, tetapi juga dari kepedulian sosial.

Syawalan seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat solidaritas sosial. Setelah Ramadhan yang penuh dengan sedekah dan kepedulian, semangat itu tidak boleh padam. Justru harus diperluas menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan.

Kelima, dalam perspektif kebhinekaan, Syawalan mengajarkan bahwa rahmat Islam bersifat inklusif. Tradisi halal bihalal di Indonesia bahkan sering melibatkan lintas agama. Ini menunjukkan bahwa nilai Islam dapat berdialog dengan budaya lokal secara harmonis.

Dalam konteks ini, Syawalan menjadi simbol Islam Nusantara yang ramah, toleran, dan terbuka. Ia membuktikan bahwa keberagamaan tidak harus kaku dan eksklusif. Justru, dengan pendekatan budaya, nilai-nilai Islam dapat lebih membumi dan diterima oleh semua kalangan.

Secara rasional, pendekatan inklusif ini juga lebih efektif dalam membangun harmoni sosial. Masyarakat yang saling menghargai perbedaan cenderung lebih stabil dan produktif. Sebaliknya, masyarakat yang eksklusif dan penuh prasangka akan mudah terjebak dalam konflik berkepanjangan.

Akhirnya, Syawalan adalah momentum refleksi sekaligus aksi. Ia mengajak kita untuk tidak hanya menjadi pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga saleh secara sosial. Mentalitas kerahmatan semesta harus menjadi identitas kita sebagai umat Islam.

Kita hidup di zaman yang penuh tantangan: fenomena krisis moral, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga polarisasi sosial. Dalam situasi seperti ini, dunia tidak membutuhkan lebih banyak kebencian, tetapi lebih banyak kasih sayang. Tidak membutuhkan dominasi, tetapi kolaborasi. Tidak membutuhkan klaim kebenaran, tetapi ketulusan untuk saling memahami.

Syawalan memberi kita kesempatan untuk memulai itu semua. Dari hal yang sederhana: memaafkan, menyapa, dan peduli. Dari lingkup yang kecil: keluarga dan tetangga, hingga lingkup besar: masyarakat dan bangsa.

Jika nilai-nilai ini benar-benar kita hidupkan, maka Syawal tidak hanya menjadi bulan kemenangan, tetapi juga bulan transformasi. Dari pribadi yang egois menjadi altruistik. Dari masyarakat yang terpecah menjadi bersatu. Dari dunia yang keras menjadi lebih manusiawi.


Inilah makna sejati Syawalan: membumikan mentalitas kerahmatan semesta—rahmat yang tidak berhenti di langit sebagai doa, tetapi turun ke bumi sebagai kenyataan dalam laku kita sehari-hari bagi semesta.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Syawalan, Membumikan Mentalitas Kerahmatan Semesta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now