Puasa ke-18: Puasa dan Empati Global — Ketika Penderitaan Manusia Tidak Mengenal Batas Negara, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif
KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Sering kali kita merasakan puasa sebagai pengalaman yang sangat pribadi: perut lapar, tenggorokan haus, dan tubuh terasa lebih lemah dari biasanya. Tetapi sebenarnya puasa memiliki makna yang jauh lebih luas. Ketika kita merasakan lapar beberapa jam saja, kita sedang diingatkan bahwa di banyak tempat di dunia, lapar bukan sekadar latihan spiritual seperti yang kita jalani di bulan Ramadhan. Bagi sebagian orang, lapar adalah kenyataan hidup yang mereka rasakan hampir setiap hari, salah satunya karena hilangnya kepedulian sosial dan kepedulian terhadap lingkungan alam.
Padahal Al-Qur’an sudah mengingatkan manusia agar memiliki kepedulian terhadap sesama dan terhadap bumi tempat kita hidup. Allah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا (الأعراف: 56)
yang berarti, “Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” Ayat ini mengingatkan bahwa menjaga bumi dan kehidupan di dalamnya adalah bagian dari tanggung jawab manusia. Ketika lingkungan rusak, yang paling pertama merasakan dampaknya biasanya adalah masyarakat kecil yang hidup dari alam.
Hari ini dunia memang sedang menghadapi banyak persoalan sekaligus. Perubahan cuaca yang tidak menentu membuat hasil panen di banyak negara menurun. Kekeringan panjang, banjir besar, dan cuaca ekstrem membuat petani kesulitan memproduksi makanan secara stabil. Fenomena yang sering disebut sebagai Climate Change ini membuat persoalan pangan semakin terasa di berbagai wilayah.
Di sisi lain, konflik dan perang di beberapa kawasan juga ikut mempengaruhi kehidupan banyak orang. Ketika konflik terjadi, distribusi makanan terganggu, harga energi naik, dan perdagangan dunia menjadi tidak stabil. Walaupun konflik itu terjadi jauh dari kita, dampaknya bisa terasa sampai ke banyak negara, termasuk negara yang sebenarnya tidak terlibat langsung. Dunia saat ini saling terhubung, masalah di satu tempat bisa memengaruhi kehidupan di tempat lain.
Sejarah menunjukkan bahwa ekonomi dunia tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1930-an dunia pernah mengalami krisis besar yang dikenal sebagai Great Depression, ketika banyak orang kehilangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Beberapa puluh tahun kemudian dunia kembali mengalami guncangan ekonomi dalam peristiwa yang dikenal sebagai 2008 Global Financial Crisis. Bahkan belum lama ini dunia juga mengalami perlambatan ekonomi besar akibat pandemi yang sering disebut sebagai COVID-19 Recession. Semua pengalaman itu mengingatkan kita bahwa kondisi ekonomi dunia sebenarnya bisa berubah kapan saja.
Karena itulah negara-negara di dunia mencoba bekerja sama melalui program global yang disebut Sustainable Development Goals atau SDGs. Program ini berisi berbagai tujuan bersama, seperti mengurangi kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan kesehatan, serta menjaga lingkungan agar kehidupan manusia bisa lebih baik dan berkelanjutan. Indonesia juga ikut menjalankan komitmen ini. Di Jawa Timur misalnya, berbagai program pembangunan diarahkan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, memperkuat ekonomi masyarakat, serta menangani persoalan gizi dan stunting pada anak. Semua itu menunjukkan bahwa upaya mengurangi penderitaan manusia tidak hanya dilakukan di tingkat dunia, tetapi juga melalui langkah nyata di daerah.
Namun Ramadhan sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar program pembangunan. Puasa melatih hati kita agar lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Rasulullah Muhammad bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
yang berarti, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hadits ini mengajarkan bahwa empati adalah bagian penting dari iman. Ketika kita merasakan lapar saat puasa, kita sedang dilatih untuk memahami bagaimana rasanya kekurangan yang dialami orang lain.
Menariknya, Rasulullah juga mengaitkan kepedulian terhadap manusia dengan kepedulian terhadap alam. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ طَيْرٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
yang berarti, “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya.” Hadits ini menunjukkan bahwa merawat alam, menanam pohon, dan menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari ibadah.
Di zaman sekarang kita bisa dengan mudah melihat berita tentang penderitaan manusia di berbagai tempat: kelaparan, pengungsi akibat perang, atau masyarakat yang kehilangan rumah karena bencana alam. Tetapi mengetahui saja tidak cukup. Puasa mengajak kita merasakan sedikit dari pengalaman itu, supaya hati kita menjadi lebih lembut dan lebih peduli.
Ramadhan juga mengingatkan bahwa kehidupan yang nyaman tidak selalu bertahan selamanya. Dunia bisa berubah, ekonomi bisa terguncang, dan keadaan bisa menjadi sulit. Tetapi jika manusia memiliki empati yang kuat, mereka akan lebih mudah saling membantu dan menghadapi kesulitan bersama.
Karena itu puasa ke-18 seakan mengajarkan satu hal penting: penderitaan manusia sebenarnya tidak mengenal batas negara. Lapar, kesulitan hidup, dan perjuangan untuk bertahan adalah pengalaman yang bisa dialami siapa saja. Melalui puasa, kita diajak menjadi manusia yang bukan hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kepedulian yang lebih luas terhadap sesama manusia dan terhadap bumi tempat kita hidup bersama.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?