Puasa ke-12: Lapar Seharusnya Melahirkan Kepedulian, Bukan Kebencian
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Memasuki puasa ke-12, saya merasakan tubuh ini mulai beradaptasi dengan kebiasaan Ramadhan, terbiasa dengan rasa lapar dan haus. Namun yang masih menjadi pertanyaan saya yang lebih mendasar bukan lagi soal fisik ini, melainkan transformasi batin saya, apakah lapar itu telah melembutkan hati saya atau justru mengeraskannya?
Sekali lagi, dan mungkin sudah disampaikan berkali-kali, bahwa Allah menegaskan orientasi puasa secara eksplisit:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS. البقرة: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Dan takwa bukan sekadar relasi vertikal, hubungan antara hamba dan Tuhan, melainkan kesadaran moral, menjaga relasi horizontal antarmanusia. Takwa yang benar melahirkan keadilan, bahkan terhadap orang yang tidak kita sukai. Allah menegaskan standar tentang itu dengan sangat mudah untuk dipahami:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
(QS. المائدة: 8)
Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Di sinilah makna mendalam puasa saya diuji. Jika lapar membuat saya lebih mudah marah, lebih mudah memaki, lebih ringan menyebarkan fitnah, maka yang terjadi hanyalah penahanan makan, bukan pertumbuhan takwa. Rasulullah saw memberikan indikator sosial ini dengan sangat konkret:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
(رواه البخاري ومسلم)
Seorang Muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya. Ukuran keberhasilan puasa saya jika demikian bukan sekadar mampu menahan haus, tetapi apakah orang lain merasa aman dari lisan dan tangan saya. Apakah reputasi mereka selamat dari tuduhan saya. Apakah kehormatan mereka tidak saya rusak demi kepuasan ego atau pembenaran kelompok saya.
Saya melihat realitas hari ini menunjukkan hal yang ironi. Ada yang berpuasa, tetapi tetap aktif menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Ada yang rajin tarawih, tetapi gemar menjatuhkan karakter orang lain di ruang publik digital atau di dalam pertemuan komunitas yang saling mendukung terhadap kebenciannya. Ada yang siangnya menahan makan, tetapi malamnya menahan empati. Padahal Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ، وَلَا الطَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
(رواه الترمذي)
Seorang mukmin bukanlah orang yang gemar melaknat, bukan pencela, bukan yang berkata keji, dan bukan pula yang kotor lisannya. Ini standar moral yang sangat jelas. Puasa semestinya memperkuat pengendalian lisan, bukan melemahkannya. Lebih jauh lagi, Allah mengaitkan nilai kemanusiaan dengan konsep “menghidupkan”:
مَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
(QS. المائدة: 32)
Barangsiapa yang menghidupkan satu jiwa, seakan-akan ia telah menghidupkan seluruh manusia. Menghidupkan bukan hanya menyelamatkan fisik, tetapi juga menjaga kehormatan, memulihkan martabat, memberi harapan, dan tidak menghancurkan nama baik orang lain. Dalam konteks sosial modern, praktek ini bisa dalam bentuk menolak menyebarkan fitnah. Ini bagian dari menghidupkan. Membela keadilan bagi yang dibenci adalah bagian dari menghidupkan. Menahan diri dari membunuh karakter adalah bagian dari menghidupkan.
Maka puasa ke-12 ini menjadi refleksi serius bagi saya, apakah lapar saya melahirkan empati atau memperbesar kebencian? Apakah haus saya membuat kita lebih adil, bahkan kepada yang berbeda pandangan? Ataukah justru puasa kita hanya menghasilkan kelelahan biologis tanpa transformasi moral?
Takwa yang menjadi tujuan puasa harus tampak dalam sikap: adil meski benci, peduli meski berbeda, menjaga lisan meski emosi. Jika setelah dua belas hari Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih aman bagi orang lain, lebih adil dalam menilai, dan lebih lembut dalam berbicara, maka lapar itu telah berhasil mendidik hati.
Karena puasa yang benar bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri dari merusak kehidupan orang lain—baik secara fisik maupun secara moral.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?