Banner Iklan

Polemik Jembatan Shell Sidoarjo: Warga Khawatir Gorong-Gorong Rendah, Kontraktor Janji Bongkar Jika Gagal

16 Maret 2026 | 14.39 WIB Last Updated 2026-03-16T07:39:09Z



SIDOARJO – Ketegangan menyelimuti Balai Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, pada Senin (16/03/2026) siang. Puluhan warga dari RW 02 dan RW 03 mendatangi kantor desa untuk menagih tanggung jawab pengembang dan kontraktor proyek Jembatan Shell yang dinilai menjadi biang keladi banjir di pemukiman mereka.

Audiensi yang berlangsung panas ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Banjarkemantren, Erni Filliawati, pihak kepolisian, perwakilan BPD, serta dua pucuk pimpinan proyek, Ivan Listanu (Pengusaha) dan Kristanto Hadi (Kontraktor).


Warga: "Banjir Melumpuhkan Aktivitas Kami"

Keluhan utama warga dipicu oleh konstruksi jembatan yang dianggap menyumbat aliran sungai. Saat hujan deras mengguyur, debit air yang tidak tertampung meluap hingga merendam rumah warga, terutama di wilayah RT 10.

"Harapan kami sederhana, jangan sampai banjir ini terulang. Kemarin air sampai masuk rumah, merusak furnitur dan elektronik. Aktivitas warga lumpuh total," ujar Bapak Juma, salah satu perwakilan warga dengan nada kecewa.

Warga mendesak agar struktur gorong-gorong jembatan ditinggikan. Namun, pihak kontraktor sempat berdalih bahwa elevasi jembatan saat ini sudah sesuai perhitungan teknis dan sejajar dengan jembatan di sebelahnya.

Surat Pernyataan Bermaterai: Jaminan Bongkar Jembatan

Setelah diskusi panjang yang alot, pihak pengembang akhirnya melunak dan bersedia menandatangani Surat Pernyataan resmi di atas meterai Rp10.000. Dokumen ini menjadi "kartu AS" bagi warga jika janji kontraktor tidak terbukti.

Dalam surat tersebut, Ivan Listanu dan Kristanto Hadi secara tegas menyatakan:

"Bila mana jembatan sudah selesai dibangun dan menyebabkan banjir di wilayah RW 02 dan RW 03, maka kami bersedia untuk melakukan pembongkaran, dan warga juga berhak untuk melakukan pembongkaran jembatan."

Empat Poin Kesepakatan Utama

Selain jaminan pembongkaran, hasil audiensi menetapkan empat komitmen yang harus segera dijalankan oleh pihak proyek:*

1. Pemberian Tali Asih: Ganti rugi bagi warga RW 02 dan RW 03 yang barang rumah tangganya rusak akibat banjir.

2. Petugas Kebersihan: Penyiapan dua petugas khusus untuk menjaga aliran air dari sumbatan sampah di lokasi proyek secara rutin.

3. Normalisasi Sungai: Pengerukan sedimen sungai secara berkala selama masa pembangunan.

4. Komitmen Perbaikan: Jika fungsi drainase gagal setelah proyek rampung, kontraktor wajib memperbaiki atau membongkar total konstruksi tersebut.

Pengawalan Komitmen Bersama

Kesepakatan ini dibuat guna meredam konflik sosial yang meluas dan memastikan proyek pembangunan tidak merugikan lingkungan sekitar. Dengan adanya surat pernyataan ini, warga kini memegang jaminan hukum.

Proyek Jembatan Shell tetap berjalan, namun dengan pengawasan ketat dari masyarakat yang tidak ingin lagi rumah mereka terendam air setiap kali hujan turun.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Polemik Jembatan Shell Sidoarjo: Warga Khawatir Gorong-Gorong Rendah, Kontraktor Janji Bongkar Jika Gagal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now