oleh Achmad Shampton Masduqi
Kita sering terjebak dalam formalitas ibadah mahdloh, ibadah hanya shalat, puasa, zakat. Tanpa memperhatikan betapa banyak ibadah yang mampu menghantarkan seseorang pada puncak kedekatan dengan Allah. Termasuk banyaknya umat Muslim terjebak dalam anggapan bahwa Lailatul Qadar hanya bisa diraih oleh mereka yang mampu beri'tikaf semalam suntuk dengan ribuan rakaat shalat sunnah. Padahal, pintu rahmat Allah terbuka lebar melalui jalur yang lebih sederhana namun konsisten: shalat berjamaah dan kepedulian antarsesama.
Shalat Berjamaah: "Ambang Pintu" Lailatul Qadar
Shalat jamaah hukumnya sunnah muakkadah dalam perspektif Mazhab Syafiiyah. Tetapi Imam Syafii sendiri tidak pernah diceritakan melakukan shalat 5 waktu sendiri. Rasulullah sendiri juga tidak pernah diriwayatkan shalat maktubah sendirian. Dalam Muraqil Ubudiyah bahkan disebutkan, “La tafuutu shalatal Jamaah illa bi dzambin.” Kita tidak akan pernah tertinggal dari menjalankan shalat wajib berjamaah kecuali tersebab oleh dosa.
Maka pantaslah bila Ibnu al-Musayyib meriwayatkan:
"Barangsiapa yang menghadiri shalat Isya secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian keberuntungannya dari malam tersebut."
Pesan ini sangat mendalam. Shalat Isya dan Subuh berjamaah adalah standar minimal bagi siapa saja yang ingin dianggap "menghidupkan" malam. Ini adalah bentuk inklusivitas ibadah; bahwa buruh yang lelah bekerja, ibu yang sibuk mengurus anak, atau pedagang di pasar pun memiliki peluang yang sama untuk meraih Lailatul Qadar asalkan mereka menjaga shalat wajibnya di masjid atau secara berjamaah.
Dimensi Sosial dalam Ibadah
Mengapa shalat berjamaah begitu ditekankan? Karena salah satunya adanya silaturahim antar sesama muslim. Intensitas tinggi pertemuan sesama muslim akan meng-eratkan makna al-muslimu akhul muslim, sesama muslim adalah saudara.
Mengapa shalat berjamaah begitu ditekankan? Karena salah satunya adanya silaturahim antar sesama muslim. Intensitas tinggi pertemuan sesama muslim akan meng-eratkan makna al-muslimu akhul muslim, sesama muslim adalah saudara.
Secara esensi, berjamaah adalah media pertama kepedulian sosial. Di dalam shaf yang rapat, kita berdiri setara dengan tetangga, melihat siapa yang hadir dan siapa yang absen karena sakit atau kesulitan. Shalat berjamaah melatih kepekaan kita sebelum kita melangkah keluar untuk membantu masyarakat yang lebih luas.
Ingatkah kita kisah tentang tukang sapu masjid Nabawi yang dicari Rasulullah karena tidak pernah terlihat beliau saat berjamaah? Saat sahabat menceritakan bahwa tukang sapu itu meninggal, Rasulullah menyesalkan kenapa beliau tidak diberitahu. Ini adalah edukasi Rasulullah bahwa kepedulian sosial tidak mengenal sekat kasta.
Menemukan "Qadar" di Luar Tiang Masjid
Namun, ritual di masjid tidak boleh berhenti di atas sajadah saja. Sebagaimana dawuh Kyai Afifuddin Muhajir, kita juga mendapati sebuah syair indah mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam spiritualitas yang egois:
يا طالبَ القَدْرِ في ليلِ القيامِ على * أعمدةِ المسجدِ العالي فلا تَقِفِ
بلِ اطلبِ القَدْرَ في بطنِ الجياعِ وفي * كسوِ العُراةِ ورِضوانِ الوالدِ الشَّرَفِ
Wahai pencari Lailatul Qadar yang berdiri di tiang-tiang masjid, jangan berhenti di sana saja. Carilah ia juga dengan memberi makan orang lapar, memberi pakaian yang telanjang, dan meraih ridha orang tua.
Jika Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, maka memberi makan orang yang lapar di malam tersebut adalah sedekah yang nilainya lebih dari seribu bulan. Mencari kemuliaan Tuhan tidak hanya dilakukan dengan menengadah di bawah kubah masjid, tetapi juga dengan menunduk untuk melihat perut-perut yang kosong dan tubuh-tubuh yang kedinginan.
Ridha Orang Tua sebagai Puncak Kemuliaan
Teks syair diatas juga menekankan pentingnya ridha walidain (keridhaan orang tua). Seringkali kita sibuk mengejar malam yang mulia, namun lupa bahwa di rumah ada orang tua yang rindu akan sapaan dan bakti kita.
Lailatul Qadar tidak akan memberikan cahayanya kepada hati yang durhaka. Lailatul Qadar adalah sebuah paket lengkap. Ia dimulai dari kedisiplinan shalat berjamaah sebagai wujud ketaatan hamba kepada Khalik, lalu disempurnakan dengan pancaran kasih sayang kepada sesama manusia.
Jangan hanya mencari Lailatul Qadar di antara tiang-tiang masjid yang tinggi, carilah ia di sela-sela penderitaan kaum papa dan di bawah telapak kaki ibu. Sebab, Tuhan tidak hanya "berdiam" di tempat ibadah, tapi Ia hadir di sisi mereka yang hatinya sedang hancur dan membutuhkan pertolongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?