Banner Iklan

Jangan Menunda Taubat Karena ‘Besok’ Bisa Jadi Penyesalan Abadi

Admin JSN
14 Maret 2026 | 04.51 WIB Last Updated 2026-03-13T22:42:16Z

Jangan Menunda Taubat… Karena ‘Besok’ Bisa Jadi Penyesalan Abadi

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Bayangkanlah sebuah gang sempit di sebuah kota tua yang penuh sejarah, dimana dinding-dinding bata merah telah lapuk dimakan waktu dan cuaca. Cat yang pernah indah kini mengelupas bagai kulit manusia yang mengering karena usia, menyisakan retak-retak yang seolah-olah menangis pilu. Di tengah keheningan gang itu, dengan huruf Arab hitam pekat yang menetes bak air mata penyesalan seorang hamba, tertulis sebuah kalimat yang langsung menusuk relung kalbu terdalam:

“قال سأتوب غدًا نام ولم يستيقظ”

Dia berkata, “Besok aku akan bertaubat.” Lalu ia tidur… dan tidak pernah bangun lagi.

Lalu.... seperti sebuah peringatan yang semakin tajam dan menusuk jiwa, terukir kata-kata yang lebih tegas dan penuh hikmah:

“لا تؤجل توبتك فالموت يأتي بغتة. الدنيا قصيرة فلا تغتر. كم من مؤمل لغدٍ لم يبلغه.”

Jangan tunda taubatmu, karena maut datang tiba-tiba. Dunia ini pendek, jangan tertipu. Betapa banyak orang yang berharap besok, tapi tak pernah sampai.

Kata-kata bijak yang sederhana namun menusuk ini, meskipun lahir dari hikmah jalanan yang kini menjadi viral di berbagai media Arab, sesungguhnya membawa ruh sastra Arab yang lekang dan mendalam. Sejak zaman Jahiliyah yang gelap, bahasa Arab telah menjadi wadah utama bagi kefanaan hidup dan peringatan akan kematian. Ia bukan sekadar bahasa, melainkan bahasa suci Al-Quran yang penuh dengan i'jaz — kepaduan makna yang luar biasa indah — dimana hanya dengan beberapa kata saja, ia mampu menyampaikan seluruh filsafat tentang kematian, taubat, dan kesia-siaan dunia. Bayangkan betapa indahnya sastra Arab klasik yang sarat dengan tema serupa ini. Dari nasihat bijak Luqman al-Hakim kepada anaknya yang penuh kasih sayang, hingga kitab-kitab zuhud karya Ibn Abi Dunya yang berulang kali berbisik lembut di telinga hati: *“Jangan pernah tunda taubat, karena maut datang tanpa permisi dan tanpa aba-aba.”* 

Dinding tua yang rapuh itu kini seolah menjadi halaman hidup dari sebuah kitab hikmah ilahi yang tak pernah selesai ditulis oleh tangan manusia, melainkan oleh pengalaman hidup yang pahit dan penuh pelajaran.

Hari ini, kita berada di Ramadan hari ke-23. Kita telah memasuki sepuluh malam terakhir yang paling mulia dan penuh berkah — malam-malam pencarian Lailatul Qadr, dimana pintu-pintu ampunan Rabbul ‘Alamin terbuka lebar-lebar bagaikan samudra rahmat yang tak bertepi. Malam-malam di mana doa-doa mustajab, ampunan mengalir deras, dan kesempatan untuk membersihkan hati dari noda dosa terasa begitu dekat. Namun, seringkali hati kita yang lemah ini masih saja berbisik pelan di telinga nurani: *“Besok saja aku lebih khusyuk dalam shalat… besok saja aku perbanyak istighfar dan dzikir… besok saja aku tinggalkan dosa-dosa yang selama ini mengikatku.”* 

Kata “besok” itu terdengar begitu manis, begitu menenangkan, seolah-olah waktu adalah milik kita selamanya.

Padahal, seperti yang tertulis di dinding lapuk itu dengan tinta hitam yang menetes, *“besok”* belum tentu milik kita. Bahkan, “besok” bisa saja menjadi penyesalan abadi yang tak bisa lagi diperbaiki.

Allah Ta’ala, dalam kemurahan-Nya yang tak terhingga, berfirman dengan begitu tegas dalam Al-Quran surah Az-Zumar ayat 53-54:

“قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ”

Maknanya: “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.’”

Ini adalah perintah langsung dari Sang Pencipta: kembalilah sekarang juga, berserah diri sepenuh hati, sebelum pintu rahmat itu tertutup selamanya dan tak ada lagi kesempatan untuk menyesal.

Tidak hanya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi umat manusia, bersabda dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim (no. 2703):

“مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ”

Maknanya: “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya.”

Hadis ini mengingatkan kita bahwa selama tanda-tanda kiamat besar belum muncul — selama pintu taubat masih terbuka lebar — maka ampunan Allah masih mengalir deras bagi siapa saja yang kembali dengan tulus. Namun, kapan matahari akan terbit dari barat? Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui dengan pasti. Mungkin besok pagi. Mungkin tidak. Atau mungkin malam ini juga, saat kita sedang tertidur nyenyak dalam mimpi-mimpi duniawi.

Maka, di hari ke-23 Ramadan yang penuh keberkahan ini, marilah kita jadikan tulisan sederhana di dinding gang tua itu sebagai alarm hati yang paling nyaring. Jangan biarkan setan terus membisikkan kata *“nanti”* atau “besok”, seperti yang diingatkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: “Setan tidak pernah berkata ‘jangan bertaubat’, tetapi ia selalu berkata ‘nanti saja’.” 

Jangan tunda lagi, saudaraku. Lakukan taubat nasuha sekarang juga, dengan empat syarat utamanya: menyesal dengan sungguh-sungguh atas dosa-dosa yang telah lalu, segera meninggalkan dosa tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi, dan mengganti segala hak yang wajib jika ada.

Mari kita renungkan pula firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 18 yang begitu menggetarkan:

“وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ”

“Dan tidaklah taubat itu diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada salah seorang di antara mereka, barulah ia berkata: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’”

Kematian mendadak adalah rahmat bagi mukmin yang telah siap, tapi penyesalan abadi bagi yang masih menunda. Imam Al-Ghazali dalam Minhajul Abidin mengingatkan betapa bahayanya menunda taubat: hati semakin hitam, dosa menumpuk, dan akhirnya kesengsaraan dunia akhirat menanti.

Ya Allah, Rabb yang Maha Pengasih, kami memohon kepada-Mu husnul khatimah, akhir hayat yang baik. Ya Allah, terimalah taubat kami yang penuh dosa ini sebelum hembusan nafas terakhir kami.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Semoga shalawat yang penuh berkah ini menjadi wasilah agar taubat kita diterima dengan sempurna dan kita semua kembali pasaNya dalam keadaan ridha dan diridhai-Nya.

Selamat menjalani lembar-lembar akhir Ramadan yang semakin berharga ini, wahai saudara-saudaraku seiman. Mari perbanyak istighfar, qiyamul lail, dan sedekah. Jangan biarkan “besok” yang fana itu menjadi penyesalan abadi yang menghantui selamanya di alam kubur maupun akhirat.


Wallahu a’lam bish-shawab.


تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال 🤲🏻

#Ramadhan karim wa mubarak

#Ramadhan Zad ar-Ruh


OLEH : Dr. Nur Hasaniyah, S. Ag. M.A

**Dosen Bahasa & Sastra Arab UIN Maliki Malang*


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jangan Menunda Taubat Karena ‘Besok’ Bisa Jadi Penyesalan Abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now