DPD RI Lia Istifhama Sebut Koperasi Desa Merah Putih Jadi Instrumen Strategis Ketahanan Bangsa
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Memanasnya dinamika geopolitik global dinilai sebagai bagian dari siklus panjang perjalanan peradaban dunia. Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa konflik, perdebatan kepentingan, hingga potensi peperangan merupakan konsekuensi perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari.
Menurutnya, hal terpenting bukan sekadar merespons situasi global yang bergejolak, melainkan bagaimana Indonesia memperkuat fondasi internal agar tetap aman dan berdaulat. Ketahanan bangsa, tegasnya, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemandirian ekonomi yang tumbuh dari akar rumput masyarakat.
“Situasi global yang bergejolak adalah bagian dari dinamika peradaban sejak dahulu. Yang harus menjadi fokus kita adalah membangun kekuatan dari dalam, memastikan bangsa ini tetap kokoh melalui penguatan ekonomi rakyat dan kearifan lokal,” ujarnya.
Lia menjelaskan, penguatan ekonomi berbasis kerakyatan menjadi kunci utama menciptakan ketahanan nasional yang berkelanjutan. Peran UMKM serta pemberdayaan ekonomi masyarakat diyakini mampu membangun struktur kesejahteraan yang dimulai dari tingkat keluarga.
Ketika ekonomi lapisan bawah kuat, stabilitas sosial otomatis ikut terjaga. Orang tua mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anak, menjaga kesehatan mental keluarga, serta membangun kualitas hidup yang lebih baik. Dari unit terkecil inilah, menurutnya, ketahanan nasional terbentuk secara alami dan berkesinambungan.
Dalam konteks tersebut, Lia menilai konsep Koperasi Desa Merah Putih menjadi instrumen strategis yang mampu menjembatani kearifan lokal dengan sistem ekonomi produktif. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan yang memperkuat solidaritas dan kemandirian masyarakat desa.
“Ketika ekonomi keluarga kuat, maka bangsa ini juga kuat. Koperasi desa menjadi fondasi penting untuk memastikan masyarakat produktif, mandiri, dan memiliki daya tahan menghadapi tekanan global,” ungkapnya, Senin (2/3).
Selain aspek ekonomi, Lia juga menyoroti pentingnya penguatan sektor pertahanan negara. Ia menyebut langkah Prabowo Subianto dalam mendorong penguatan militer hingga ke tingkat wilayah sebagai strategi yang sejalan dengan konsep ketahanan nasional berbasis lokal.
Baginya, kekuatan pertahanan tidak hanya bertumpu pada pusat, tetapi juga harus tumbuh dari daerah dengan melibatkan potensi lokal. Sinergi antara pertahanan militer yang kokoh dan kemandirian ekonomi rakyat akan menciptakan sistem perlindungan negara yang lebih komprehensif.
“Penguatan di tingkat wilayah menunjukkan bahwa pertahanan negara dibangun secara menyeluruh. Ketika ekonomi rakyat kuat dan sistem pertahanan kokoh, maka Indonesia memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi dinamika global,” tegasnya.
Lia menekankan, Indonesia memang tidak bisa menghindari dampak situasi global. Namun bangsa ini memiliki modal besar berupa kearifan lokal, kekuatan sosial, serta semangat gotong royong yang dapat menjadi tameng menghadapi berbagai krisis.
Dengan memperkuat koperasi desa, UMKM, dan pertahanan wilayah secara simultan, ia optimistis Indonesia mampu menjaga stabilitas nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
“Ketahanan bangsa bukan hanya soal menghadapi ancaman dari luar, tetapi memastikan rakyat hidup sejahtera, mandiri, dan memiliki rasa aman dalam segala aspek kehidupan,” tuturnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?