Pertemuan dengan sekolah dilakukan dalam dua tahap, yakni Jumat (20/2) di SDN Pandanrejo 1, SDN Pandanrejo 2, dan SDN Parangargo 1 Wagir, serta Senin (24/2) di SDN Gondowangi 1, SDN Gondowangi 2, SDN Gondowangi 3, dan SMP Sunan Giri Wagir. Agenda tersebut dihadiri masing-masing kepala sekolah, Kepala SPPG Sukodadi Mutiara Salsabila, akuntan, dan asisten lapangan.
Pembahasan difokuskan pada teknis distribusi MBG selama bulan Ramadan. Menu yang disiapkan berupa menu kering agar dapat bertahan hingga waktu berbuka puasa. Distribusi dilakukan sebelum istirahat pertama dengan komposisi gizi 20–25 persen Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk porsi kecil dan 30–35 persen untuk porsi besar.
Pada tahap awal, program akan menyasar lima sekolah dengan jumlah penerima manfaat kurang dari 1.000 siswa pada minggu pertama. Selanjutnya, tujuh sekolah dengan total maksimal 1.500 penerima manfaat akan bergabung pada minggu kedua.
Dalam forum tersebut, Kepala SDN Pandanrejo 2 meminta komitmen SPPG terkait keamanan pangan guna menghindari risiko yang dapat berdampak pada kepercayaan masyarakat dan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Menanggapi hal itu, Mutiara Salsabila menegaskan bahwa menu Ramadan dirancang lebih stabil dan tahan lama.
“Setiap sekolah memiliki PIC yang bertugas meninjau makanan sebelum dibagikan. Jika ditemukan ketidaksesuaian, kami siap mengganti,” jelasnya.
Selain menjalin kerja sama dengan sekolah, SPPG Sukodadi juga melakukan koordinasi dengan Muspika Wagir pada Selasa (24/2/2026) di Kantor Kecamatan Wagir. Pertemuan ini membahas izin operasional serta dukungan lintas sektor terhadap program MBG.
Camat Wagir Joanico Da Costa, S.Sos., M.M., menekankan prinsip 3K: Komunikasi, Koordinasi, dan Kolaborasi sebagai kunci keberhasilan program.
“Program ini harus memberi dampak nyata bagi masyarakat, bukan hanya pada aspek gizi siswa tetapi juga ekonomi lokal,” ujarnya.
Camat menghimbau agar tenaga kerja operasional MBG diprioritaskan dari warga sekitar. Ia juga mendorong suplai bahan baku diambil dari UMKM dan petani lokal Wagir. Beberapa desa dinilai memiliki potensi memasok telur ayam, telur puyuh, jeruk, dan bahan pangan lainnya.
Selain itu, Muspika meminta SPPG memberikan pendekatan inovatif agar anak-anak penerima manfaat lebih tertarik mengonsumsi sayuran, mengingat pentingnya asupan tersebut dalam pertumbuhan.
Dengan cakupan awal hingga 1.500 penerima manfaat dari pihak sekolah, program MBG di Wagir diproyeksikan memberi efek berganda, mulai dari peningkatan gizi siswa hingga pembukaan lapangan kerja baru dan penguatan UMKM.
SPPG sendiri merupakan satuan pelaksana program Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pemenuhan gizi anak sekolah secara nasional.
Melalui pendekatan kolaboratif antara sekolah, pemerintah kecamatan, dan pelaku usaha lokal, SPPG Sukodadi berupaya membangun ekosistem MBG yang tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga keberlanjutan sosial dan ekonomi masyarakat Wagir.
Pewarta: Nur Hamid Abdissalam




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?