Banner Iklan

Puasa Itu Biar Tenang (2), Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
20 Februari 2026 | 07.09 WIB Last Updated 2026-02-20T00:09:14Z

 


Puasa Itu Biar Tenang (2)

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Memasuki hari kedua Ramadan, saya bertanya pada diri sendiri, sebenarnya puasa ini mau saya jadikan apa? Apakah akan saya anggap rutinitas tahunan yang tidak bisa dihindari? Kewajiban yang harus diselesaikan? Atau benar-benar saya jadikan jalan untuk menenangkan hati?

Sejak awal Ramadan, kita sering disibukkan dengan banyak hal. Soal kapan mulai puasa, siapa ikut siapa, mana yang benar, mana yang lebih sah, dan seterus. Saya paham, semua orang ingin ibadahnya benar, dan tentu diterima oleh Allah swt. Saya juga begitu. Kamu juga saya kira begitu. Tapi semakin saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa puasa itu seharusnya membawa ketenangan, bukan menambah kegelisahan.

Di titik ini, saya merasa perlu berhenti sejenak berpikir tentang itu, dan saya menata niat. Saya ingin puasa tahun ini memulai nilai yang bukan sekadar niat sah secara hukum, tapi niat yang sehat ruhani dan tentu baik untuk diri saya sendiri. Saya ingin puasa kali ini, saya jalani karena ingin mendekat kepada Allah swt, bukan karena takut salah, bukan karena ikut-ikutan, dan bukan karena merasa harus lebih benar dari orang lain. Niat yang benar, bagi saya kali ini, adalah niat yang membuat hati ringan ketika menjalani ibadah, bukan berat karena penuh prasangka. Semoga dengan demikian, saya termasuk golongan yang bisa memperoleh sesuai dengan niatnya, sebagai diajarkan Rasulullah saw.: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى (Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan)

Kalau kita perhatikan, kata puasa dalam bahasa sehari-hari berarti menahan. Orang Jawa bilang “puasa ngomong”, “puasa marah”, “puasa belanja”. Artinya jelas: menahan diri. Sementara dalam istilah agama, al-Qur’an memakai kata shaum, sebagaimana ayat فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا . “Maka makanlah, minumlah, dan tenangkanlah hatimu. Jika engkau melihat seorang manusia, maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa kata shaum juga bisa bermakna menahan diri dari berbicara, bukan hanya menahan makan dan minum. Menariknya di sini, kata shaum dalam bahasa Arab tidak hanya berarti menahan makan dan minum, tapi menahan diri secara total. Menahan mulut, menahan emosi, menahan ego, bahkan menahan keinginan untuk merasa paling benar.

Ini penting saya sadari. Karena kalau puasa hanya saya pahami sebagai menahan lapar dan haus, maka selesai magrib pun selesai pula puasanya. Tapi kalau saya pahami sebagai shaum, maka puasa itu bekerja sepanjang hari, bahkan setelah Ramadan selesai. Shaum akan bisa mengajari saya untuk tidak reaktif, tidak mudah menyalahkan, dan tidak merasa diri paling lurus.

Menata niat puasa bagi saya ya berarti menyelaraskan diri dengan makna shaum itu sendiri. Saya puasa bukan untuk pamer kesalehan, bukan untuk menang debat rukyat dan hisab, dan bukan untuk mengukur iman orang lain. Saya puasa karena saya ingin belajar menjadi manusia yang lebih tertib, lebih tenang, dan lebih sadar diri. Kalau niat saya benar, saya tidak akan sibuk mengurus sah atau tidaknya puasa orang lain.

Saya juga belajar bahwa niat yang baik akan melahirkan sikap yang baik. Kalau niat puasa saya benar, seharusnya saya lebih sabar di jalan, lebih santun di media sosial, dan lebih lapang dalam menerima perbedaan. Shaum tidak mungkin hidup dalam hati yang penuh amarah dan klaim kebenaran. Shaum justru mendidik saya untuk tahu batas, kapan harus bicara, kapan harus diam.

Hari kedua Ramadan ini saya ingin menjaga niat itu sebaik mungkin. Setiap kali emosi naik, saya ingin ingat bahwa saya sedang shaum. Setiap kali ingin menghakimi, saya ingin sadar bahwa puasa saya justru rusak kalau ego saya dibiarkan kenyang. Saya tidak ingin puasanya sah di kalender, tapi gagal membentuk kepribadian.

Kalua saya bisa begitu, maka Ramadan adalah kesempatan untuk menenangkan hati yang selama ini terlalu ribut. Ribut oleh urusan dunia, ribut oleh perbedaan, ribut oleh ego kita sendiri. Saya ingin puasa ini menjadi ruang jeda, tempat saya belajar menahan diri sebelum menahan orang lain.

Karena bagi saya, puasa yang paling berharga bukan hanya yang sah secara hukum, tapi yang berhasil menghidupkan makna shaum dalam kehidupan sehari-hari. Dan semua itu selalu dimulai dari niat yang benar dan dikahir setiap hari dengan kebaikan, agar saya bisa masuk dalam kategori yang disampaikan Rasulullah saw: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا، كَالْوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَعْلَاهُ طَابَ أَسْفَلُهُ، وَإِذَا خَبُثَ أَعْلَاهُ خَبُثَ أَسْفَلُهُ. “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya (akhirnya). Seperti sebuah bejana: apabila bagian atasnya baik, maka bagian bawahnya pun baik; dan apabila bagian atasnya rusak, maka bagian bawahnya pun rusak.”

Jika awal sudah ditata dengan niat yang baik, maka untuk menentukan kualitas akhir amal setiap hari, saya ingin menutup dengan kebaikan, membaca al-Qur’an walau pun hanya satu halaman BB, baru saya akan berbuka puasa saat maghrib tiba. Ini penting bagi saya, sebab ibarat wadah, jika yang tampak dan terjaga di bagian atasnya baik, maka keseluruhannya pun terjaga, tetapi jika rusak di bagian atasnya, maka kerusakan itu merembet ke seluruh isinya.


.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa Itu Biar Tenang (2), Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now