Banner Iklan

Menulis Esai Inspiratif

Anis Hidayatie
01 Februari 2026 | 06.59 WIB Last Updated 2026-02-01T01:37:11Z

Ilustrasi gambar, Anis Hidayatie diantara Menara Masjid dan Klenteng kota Singkawang 

Menulis Esai Inspiratif, Kejujuran yang Menghidupkan Cerita

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: 

Menulis Esai Inspiratif adalah menulis kisah sendiri, setiap orang memiliki kisah pribadi, inilah ruhnya. Setiap orang pasti memiliki pengalaman itu, mari dibagi. Menulis esai inspiratif sejatinya adalah upaya untuk berpikir jujur—kepada diri sendiri, lalu membagikan kejujuran itu kepada orang lain. Bukan untuk menggurui, apalagi memamerkan kepintaran, melainkan sebagai upaya berbagi pengalaman hidup yang bisa menjadi cermin, penguat, atau pengingat. Setidaknya, tulisan itu menjadi referensi bagi diri sendiri, dan syukur-syukur mampu menyentuh pembaca.

Esai inspiratif lahir dari pengalaman personal dan keberanian untuk menyampaikannya apa adanya. Kejujuran adalah napas utama. Tanpa kejujuran, esai hanya akan menjadi rangkaian kata yang hampa rasa, sehingga POV yang sebaiknya digunakan adalah orang pertama tunggal. Aku, saya atau kita. 


Esai Inspiratif adalah Cerita yang Jujur dan Dekat

Pengalaman pribadi adalah bahan baku paling kuat dalam esai inspiratif. Pengalaman itu tidak harus besar, tidak harus heroik. Yang terpenting adalah maknanya. Bahasa yang digunakan pun sebaiknya sederhana, agar ide dan pesan lebih mudah diakses oleh siapa pun yang membaca.

Tulisan inspiratif tidak berjarak dengan pembaca. Ia mengalir seperti obrolan, mengajak pembaca masuk ke dalam peristiwa, merasakan emosi, dan memetik hikmah bersama.



Apa yang Ada dalam Pikiran Anda?

Saat hendak menulis, bertanyalah pada diri sendiri: pengalaman apa yang paling ingin saya ceritakan?

Pilihlah satu pengalaman yang:

Paling menyentuh hati,

Paling menggelitik hingga membuat tersenyum,

Atau paling membekas dan mengubah cara pandang hidup Anda.

Bisa tentang perjuangan membuat lampion naga atau sekedar pengalaman duduk di bawah lampion naga yang membuat anda menemukan obrolan indahnya kehidupan moderasi di Singkawang. Para etnis Tionghoa menghias kota keindahannya untuk seluruh etnis di Singkawang. 

Bisa tentang prestasi sederhana, seperti menjadi juara bulu tangkis tingkat kampung—tentang latihan, jatuh bangun, hingga kemenangan kecil yang memantik semangat untuk berprestasi lebih tinggi. 

Bisa pula kisah lucu tak sengaja bersenggolan di jalan dengan lawan jenis, bertengkar, lalu takdir justru menjadikannya pasangan hidup.


Atau kisah tentang kesabaran seseorang yang berkali-kali gagal menjadi PNS, namun akhirnya diterima melalui jalur PPPK sebagai buah dari kesetiaan mengabdi. Atau justru tetap mengajar meski tanpa status ASN meski tak henti mengikuti ujian. Bisa pula cerita loyalitas pada pekerjaan, meski jarak jauh harus ditempuh setiap hari. Atau perjuangan orang tua yang setia mendampingi buah hatinya meraih cita-cita.

Semua itu layak ditulis.

Saya sendiri pernah menulis esai berjudul “Jangan Jadi Guru, Jadilah Pekerja Bangunan”. Esai itu berangkat dari pengalaman pribadi memperjuangkan keringanan biaya kuliah bagi anak yang sedang menempuh pendidikan di UIN setelah ayahnya tiba-tiba berpulang. Ada perjuangan ibu di sini, hingga rela masuk kampus bertemu para petinggi. Ada cemoohan, ada tangan-tangan yang menolong, hingga akhirnya anak itu lulus S2. Kisah itu bukan tentang kepintaran, melainkan tentang bertahan dan berharap.

Jangan Jadi Guru Jadilah Pekerja Bangunan

Menulis Esai Bukan untuk Terlihat Pintar, tapi Memberi Rasa

Esai inspiratif bukanlah panggung untuk menunjukkan kecerdasan akademik. Ia hadir untuk memberi “rasa” tentang hidup—rasa pahit, manis, getir, dan syukur. Esai adalah ekspresi bebas, perpaduan antara sastra dan jurnalistik, antara subjektivitas pengalaman dan objektivitas nilai yang bisa dipetik.

Dalam esai, penulis bebas mengeksplorasi ide tanpa terikat aturan kaku seperti karya ilmiah. Namun kebebasan itu tetap disertai tanggung jawab untuk menghargai berbagai perspektif.

Panjang Tulisan dan Karakter Esai

Esai inspiratif umumnya ditulis singkat namun padat, berkisar antara 5.000 hingga 10.000 karakter. 

Tulisan Esai yang baik adalah yang,

1. Memberi dan memperkaya pengetahuan atau pengalaman batin pembaca.

2. Memantulkan wajah dan jiwa tokoh yang diceritakan.

3. Ringkas, padat, dan tidak bertele-tele.

4. Bercerita, bukan sekadar menjelaskan.


Perihal Judul

Judul esai bersifat lentur dan kreatif.

Bisa hanya satu kata.

Bisa berupa kalimat tanya.

Bisa pula berbentuk kutipan yang menggugah rasa ingin tahu.

Judul adalah pintu masuk emosi pembaca. Ia tidak harus menjelaskan segalanya, cukup memancing.

Perihal Bahasa

Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun tetap luwes.

Pilih kalimat pendek dan jelas.

Hindari bahasa yang terlalu formal dan ilmiah.

Terjemahkan ide ke dalam bahasa yang paling mudah dipahami.

Jangan terlalu sering menggunakan kata asing, kecuali memang tidak ada padanannya.

Semakin sederhana bahasa yang digunakan, semakin dekat jarak penulis dengan pembaca.

Menemukan Bahan Menulis

Inspirasi yang ada di sekitar kita

Pengalaman sehari-hari yang sering dianggap sepele.

Kenangan pribadi yang menyimpan pelajaran hidup.

Peristiwa yang membangun koneksi emosional dengan pembaca.

Ingat, kita tidak menulis semuanya. Kita memilih satu pengalaman, satu peristiwa, satu rasa—lalu menggalinya dengan jujur dan penuh kesadaran.


Esai inspiratif adalah tulisan yang mencerahkan. Ia tidak hanya menginspirasi pembaca, tetapi juga penulisnya sendiri. Tulisan menjadi referensi hidup, pengingat perjalanan, dan penanda bahwa kita pernah bertahan, belajar, dan tumbuh.

Maka, mari menulis kisah inspiratif. Karena Kisah anda  akan menjadi referensi untuk kehidupan lebih bercahaya.


In the name of God 

Dengan menyebut namanya,

Bismillah, menulis!

Anis Hidayatie, Singkawang 31/1/2026



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menulis Esai Inspiratif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now