KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM:
Kita faham, haram, bisa berlaku pada hal-hal yang halal, karena puasa. Mengonsumsi makanan dan minuman. Misalnya, adalah sesuatu yang halal, tapi menjadi haram. Tidak boleh dikonsumsi dalam durasi ibadah puasa.
Efek prakmatis akibat tatanan politik, melihat; komsumsi yang tidak boleh menjadi hanya sekadar makan dan minum. Kalau harus ditambah, adalah hubungan suami istri.
Bagaimana dengan konsumsi digital?
Coba dihitung --saya ambil dari postingan Ustadz Mangesti Waluyo Sedjati-- bahwa pendidikan anak tidak hanya terjadi di kelas dan ruang keluarga. Tetapi berlangsung di layar dalam 24 jam.
Lima jam di sekolah. Dua jam bersama keluarga. Tapi 6 - 8 jam dididik oleh video pendek, game, feed, trending dan sejenisnya. Hadir menyodorkan rekomendasi jalan hidup.
Anak kita dididik di sekolah, tapi dibentuk oleh algoritma.
Lalu, pelan tapi pasti, kita hadapi kenyataan;
Sekolah semakin mahal, tapi adab tidak otomatis makin kuat. Anak pintar teknis, tapi rapuh karakter. Fasih bahasa, tapi gagap tawadhu'. Melek teknologi tapi bingung batas halal–haram pada digital.
Sebabnya jelas: Pendidikan formal berfokus pada kognitif, sementara pembentukan nilai diserahkan pada lingkungan.
Masalahnya, lingkungan anak hari ini bukan lagi kampung, surau dan tetangga, melainkan internet global tanpa kurator nilai.
Gawai bukan lagi sekadar alat bantu. Tetapi ia berubah jadi guru diam-diam. Yg juga menghibur, menjadi teman tetapi juga sekaligus membentuk identitas diri.
Siapa Algoritma itu?
Ia adalah inputan luas yang mengelaborasi segala hal, dan impulsi hiburan, sensasi, emosi serta konflik. Tanpa nilai.
Dia digunakan untuk keuntungan ekonomi dengan memberikan yang tercepat untuk umbaran emosi, sensasi, rasa ingin tahu dan konflik.
Suguhan reaktif ini paling cepat direspons. Bukan edukasi, yang posisinya jauh di ranking bawah. Konten edukatif selalu kalah oleh konten reaktif.
Suguhan reaktif agar kita betah di depan layar. Oleh sebab itu adalah aliran keuntungan. Anak-anak adalah target bisnis global itu.
Sekarang kita perlu lebih jujur mengakui kenyataan ini; anak-anak telah tumbuh digital, tetapi jauh dari syariah.
Hak Tarbiyah diganti Algoritma
Posisi murabbi orng tua, kata Ustadz Mangesti, turun menjadi sekadar penyedia kuota dan gadget.
Sekolah memang modern, tapi belum menjadi kompas halal digital. Gawai dipakai tapi tanpa panduan adab.
Nyaris tidak ada bahasan fiqh aurat online, fiqh hoaks, fiqh transaksi digital.
Akhirnya lahirlah generasi digital native yang fasih teknologi, tapi buta kompas syariah.
Akidah jadi abu-abu. agama terasa opsional, ibadah terasa beban.
Akhlak digital rusak. Bullying, komentar kasar, membuka aib, jadi normal
Akal melemah. fokus pecah, sabar tipis, ingin serba instan.
Oleh sebab itu, bisakah konsumsi digital juga dikendalikan oleh *Puasa digital?*
Kesadaran kita bersama yang bisa menjawab.
Saatnya kita bangun ekosistem Halal Digital
---------------
*Imawan Mashuri, S.H., M.H.*, Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?